Bismillaahirrahmaanirrahiim
KITAB SUCI AL-QURAN
“Kitab Suci Al-Quran
adalah kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak
menyadarinya ”
“Setiap saat hatiku
merindukan untuk mencium Kitab Engkau
dan melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan
Kabahku”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Pembukaan “Meterai” (Segel) Surah Al-Fatihah oleh Masih Mau’ud a.s. & Perumpamaan “Kalimah yang Baik” dan “Kalimah yang Buruk”
Bab 37
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam Bab sebelumnya telah
dijelaskan penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai kesempurnaan Surah Al-Fatihah, yang sebelumnya
tidak pernah ada ulama Muslim yang
menjelaskannya seperti itu, sehingga genaplah nubuatan dalam Bible mengenai akan dibukanya “meterai”
Surah Al-Fatihah di Akhir
Zaman ini oleh Pendiri Jemaat Muslim
Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s.
atau Al-Masih Mau’ud a.s..
Nama-nama Surah Al-Fatihah dan Maknanya
Nama terkenal untuk Surah pendek
ini ialah Fātihat-ul-Kitāb (Surah Pembukaan Al-Kitab), diriwayatkan
bersumber pada beberapa ahli ilmu hadits yang dapat dipercaya (Tirmidzi dan Muslim), kemudian nama itu disingkat menjadi Surah
Al-Fātihah atau Al-Fātihah saja.
Surah ini dikenal dengan beberapa nama, dan 10 nama berikut ini lebih
sah, yaitu: (1) Al-Fātihah, (2) Al-Shalāt,
(3) Al-Hamd, (4) Umm-ul-Quran, (5) Al-Quran-ul-’Azhim, (6)
Al-Sab’al-Matsani, (7) Umm-ul Kitāb, (8) Al-Syifā, (9) Al-Ruqyah,
dan (10) Al-Kanz. Nama-nama ini
menerangkan betapa luasnya isi Surah ini.
Nama Fātihat-ul-Kitāb
(Surah Pembukaan Al-Kitab) berarti bahwa
karena Surah itu telah diletakkan pada permulaan maka ia merupakan kunci pembuka seluruh pokok
masalah Al-Quran.
Al-Shalāt (Shalat) berarti bahwa Al-Fātihah merupakan doa yang
lengkap lagi sempurna dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari shalat Islam yang sudah melembaga.
Al-Hamd (Puji-pujian) berarti bahwa Surah ini menjelaskan tujuan agung penciptaan manusia dan mengajarkan bahwa hubungan Allah Swt. dengan manusia adalah hubungan berdasarkan kemurahan (Rahmāniyat) dan kasih-sayang
(Rahīmiyat).
Umm-ul-Qur’an (Ibu Al-Quran) berarti bahwa Surah ini merupakan intisari seluruh Al-Quran,
yang dengan ringkas mengemukakan semua pengetahuan
yang menyangkut perkembangan akhlak
dan ruhani manusia.
Al-Quran-ul-’Azhim (Al-Quran Agung) berarti bahwa
meski pun Surah ini terkenal sebagai Umm-ul-Kitāb
dan Umm-ul-Qur’an namun tetap merupakan bagian Kitab Suci itu dan bukan seperti anggapan salah sementara orang
bahwa ia terpisah darinya.
Al-Sab’ul Matsani (Tujuh ayat yang seringkali
diulang) berarti ketujuh ayat pendek Surah
ini sungguh-sungguh memenuhi segala keperluan
ruhani manusia. Nama itu berarti pula bahwa Surah ini harus diulang
dalam tiap-tiap rakaat shalat.
Umm-ul-Kitab (Ibu Kitab) berarti bahwa doa dalam Surah ini menjadi sebab diwahyukannya ajaran Al-Quran.
Al-Syifā (Penyembuh) berarti bahwa Surah ini memberi pengobatan terhadap segala keraguan
dan syak yang biasa timbul dalam hati manusia.
Al-Ruqyah (Jimat atau Mantera) berarti
bahwa Surah ini bukan hanya doa untuk menghindarkan penyakit tetapi juga memberi perlindungan terhadap syaitan dan pengikut-pengikutnya, dan menguatkan hati manusia untuk melawan mereka.
Al-Kanz (Khazanah) mengandung arti bahwa
Surah ini suatu khazanah ilmu yang tidak habis-habisnya.
Al-Fātihah Dinubuatkan dalam Perjanjian
Baru
Tetapi nama yang terkenal Surah
ini adalah Al-Fātihah. Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa nama itu juga tercantum dalam nubuatan Perjanjian
Baru:
“Maka
aku tampak seorang malaikat lain
yang gagah, turun dari langit ......... dan di tangannya ada sebuah Kitab
Kecil yang terbuka, maka kaki kanannya
berpijak di laut, dan kaki kiri di darat” (Wahyu 10:1-2).
Kata dalam bahasa Ibrani untuk
“terbuka” adalah Fatoah, yang
sama dengan kata Arab, Fatihah. Kemudian lagi:
“ ...... dan tatkala ia (malaikat) berteriak, ketujuh guruh pun membunyikan
bunyi masing-masing” (Wahyu 10:3).
“Tujuh guruh” mengisyaratkan kepada tujuh ayat Surah ini.
Para sarjana Kristen mengatakan
bahwa nubuatan itu mengisyaratkan
kepada kedatangan Yesus Kristus kedua
kalinya. Hal itu telah dibuktikan oleh kenyataan-kenyataan yang sebenarnya.
Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam
Ahmad a.s. yang dalam
wujudnya nubuatan tentang kedatangan
Nabi Isa a.s. kedua kalinya yakni sebagai misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)
telah menjadi sempurna, Masih
Mau’ud a.s. menulis tafsir mengenai Surah ini dan menunjukkan bukti-bukti
serta dalil-dalil mengenai kebenaran pendakwaan beliau dari isi Surah ini, dan beliau senantiasa
memakainya sebagai doa yang baku.
Beliau menyimpulkan dari tujuh ayat yang pendek-pendek ini ilmu-ilmu
makrifat Ilahi dan kebenaran-kebenaran
kekal abadi yang tidak diketahui sebelumnya. Seolah-olah Surah ini sebuah Kitab yang dimeterai
hingga khazanah itu akhirnya dibukakan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s.. Dengan demikian sempurnalah nubuatan yang terkandung dalam Wahyu 10:4, yakni:
“Tatkala
ketujuh guruh sudah berbunyi itu,
sedang aku hendak menyuratkan, lalu aku dengar suatu suara dari langit,
katanya: "Meteraikanlah barang
apa yang ketujuh guruh itu sudah mengatakan dan jangan dituliskan.”
Nubuatan itu
menunjuk kepada kenyataan bahwa Fatoah atau Al-Fātihah itu untuk
sementara waktu akan tetap merupakan sebuah Kitab
tertutup, tetapi suatu waktu akan tiba ketika khazanah ilmu ruhani yang dikandungnya akan dibukakan. Hal itu telah dilaksanakan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s. yakni Imam
Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s.. Lebih jauh beliau menjelaskan:
Karakteristik Ruhani Surah Al-Fatihah & Imbauan
Kepada Para Pencari Kebenaran
“Salah satu karakteristik
keruhanian Surah Al-Fatihah adalah jika seseorang melafazkannya dalam shalat
dengan penuh perhatian dan menegakkan
ajarannya di dalam kalbunya
sendiri serta beriman atas kebenarannya maka kalbunya akan mengalami pencerahan. Kemampuan berfikir yang bersangkutan akan berkembang dan kegelapan
manusiawi akan tersingkirkan
sehingga ia mulai menikmati pengalaman
keberkatan dari Sumber segala rahmat.
Ia akan merasa dikitari nur keridhaan Ilahi dan maju ke tahapan terhormat dimana ia bisa berbicara dengan Tuhan-nya melalui kasyaf dan wahyu yang benar. Ia akan memasuki lingkungan mereka yang dekat kepada Tuhan dimana ia akan
menikmati keajaiban ilham dan pengabulan
doa, menerima bantuan Ilahi
serta dibukakannya hal-hal yang
tersembunyi (gaib), suatu hal yang tidak terdapat pada manusia awam (umum).
Bagi para lawan kami yang menyangkal hal ini, sesungguhnya bukti untuk itu ada dalam buku ini. Hamba yang lemah ini bersedia
memuaskan para pencari kebenaran, tidak saja mereka yang melawan kami tetapi juga dari antara mereka yang hanya secara nominal saja meyakini kami, yaitu orang-orang yang
hanya Muslim di kulitnya saja namun keimanannya terselaput kabut dan dirinya tanpa kehidupan ruhani.
Dalam masa kegelapan seperti
sekarang ini mereka tidak meyakini
tanda-tanda Samawi dan menganggap
wahyu sebagai suatu hal yang mustahil,
yang dikatakan sebagai ilusi atau imajinasi. Mereka memiliki konsep kemajuan manusia yang sempit yang terbatas hanya pada pandangan permasalahan
intelektual dan perkiraan saja. Konsep mereka tentang Allah Yang Maha Kuasa adalah sebagai Wujud yang lemah tak berdaya.
Hamba yang lemah ini mengajukan dengan segala hormat bahwa jika mereka ini menyangkal
efektivitas Al-Quran dan tetap berpegang pada kebodohan mereka, sepatutnyalah mereka itu menanggapi kesempatan yang diberikan oleh hamba yang lemah ini
untuk memuaskan mereka berdasarkan pengalamannya sendiri. Sepatutnyalah
para pencari kebenaran itu datang kepadaku dan memperhatikan dengan mata kepala sendiri karakteristik Firman Allah yang dikemukakan di atas.
Mereka akan bisa meninggalkan kegelapan dan memasuki pencerahan Nur yang benar.
Imbauan Kepada Golongan Non-Muslim Pencari Kebenaran
yang Hakiki
Sampai sekarang hamba yang lemah ini masih hidup namun yang namanya
kehidupan adalah suatu hal yang tidak pasti. Karena itu sebaiknya setelah
mendengar pemberitahuan ini segeralah mencari kebenaran dan hilangkan kedustaan agar jika pernyataanku ini palsu adanya maka ada alasan untuk menyangkalnya. Tetapi jika pernyataanku
itu memang benar maka sepantasnya
para lawan meninggalkan jalan fikiran
mereka untuk segera memeluk agama
Islam supaya terhindar dari dipermalukan dan dihinakan di dunia ini serta siksa dan hukuman di akhirat.
Karena itu perhatikanlah,
wahai saudara-saudaraku terkasih, para filosof,
pandit-pandit, missionaris Kristen, kaum Arya,
aliran kebatinan dan kaum Brahmo Samaj, aku memaklumkan (mengumumkan) secara terbuka, bahwa jika ada yang
meragukan karakteristik Al-Quran sebagaimana yang telah aku
kemukakan di atas dan mempunyai keraguan
untuk bisa menerimanya, marilah datang kepadaku segera dimana dengan hidup dekat bersamaku untuk sementara
waktu secara tulus dan tekun, kalian akan menyaksikan kebenaran pernyataanku dengan mata kalian sendiri. Jangan sampai jika aku sudah meninggalkan dunia lalu ada yang mengatakan bahwa ia tidak pernah diundang secara terbuka
dan tidak mengetahui mengenai
pernyataanku itu sehingga tidak
sempat melihat pembuktiannya.
Jadi, wahai saudara-saudaraku
dan para pencari kebenaran,
perhatikanlah bahwa aku mengungkapkan
hal ini secara terbuka dan dengan beriman kepada Allah Swt. Yang Nur-Nya
aku melihatnya siang dan malam, aku memikul tanggungjawab bahwa bila kalian memang mencari kebenaran dengan ketulusan
hati dan mau tinggal bersamaku
untuk beberapa waktu dengan niat baik,
akan nyata kepada kalian bahwa nilai-nilai
keruhanian yang aku kemukakan di atas memang benar-benar ada di dalam Surah
al-Fatihah dan dalam Kitab Suci
Al-Quran.
Betapa berberkatnya orang
yang mau mengosongkan hatinya dari kefanatikan dan permusuhan serta memiliki
hasrat untuk memeluk agama Islam
jika ia mau memenuhi undanganku ini
guna mencapai apa yang dimaksud. Betapa malangnya orang yang tidak menghiraukan undangan terbuka ini
sehingga menjadikan dirinya sebagai
sasaran kutuk dan kemurkaan Allah
Swt.. Sesungguhnya maut
(kematian) itu sudah dekat dan akhir dari hidup ini sudah di ambang pintu” (Brahin-i- Ahmadiyah,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I,
hlm. 626-635, London, 1984).
Al-Fatihah Sebagai Rangkuman Tujuan Al-Quran
Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan mengenai Surah Al-Fatihah sebagai “intisari” Al-Quran
sehingga disebut sebagai “Umul-Kitab”:
“Surah Al-Fatihah secara
ringkas merangkum keseluruhan isi
dan tujuan Kitab Suci Al-Quran. Hal ini
diindikasikan dalam ayat:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنٰکَ سَبۡعًا
مِّنَ الۡمَثَانِیۡ وَ الۡقُرۡاٰنَ
الۡعَظِیۡمَ
“Sesungguhnya
telah Kami berikan kepada engkau tujuh ayat yang selalu diulang-ulang
dan Al-Quran yang agung”(Al-Hijr [15]:88).
Berarti ketujuh ayat dari Surah Al-Fatihah secara ringkas telah mencakup seluruh maksud
Al-Quran, sedangkan rincian
secara terinci tujuan-tujuan agama
dijelaskan dalam surah-surah
lainnya. Karena itulah surah ini
dianggap sebagai Ibu Kitab (Ummul Kitab) dan Surah yang komprehensif
(Al-Kanz).
Disebut sebagai Ummul Kitab
karena semua tujuan yang dipaparkan
dalam Al-Quran bisa diintisarikan darinya dan disebut sebagai Surah
yang Komprehensif (lengkap) karena secara ringkas mencakup semua bentuk ajaran yang terdapat di dalam Al-Quran. Berdasarkan alasan inilah maka Hadhrat Rasulullah Saw. menyatakan bahwa mereka yang melafazkan Surah Al-Fatihah sama dengan membaca Al-Quran karena Surah tersebut merupakan cermin yang memantulkan isi Al-Quran.
Sebagai contoh, salah satu tujuan
Al-Quran adalah mengemukakan semua puji-pujian
sempurna tentang Allah Yang Maha
Agung dan menyatakan secara jelas kesempurnaan
yang dimiliki-Nya. Hal ini secara singkat dikemukakan Surah Al-Fatihah di ayat: اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ -- “Segala
puji bagi Allah,” yang berarti bahwa semua bentuk puji-pujian yang sempurna adalah
bagi Allah Yang merangkum dalam Wujud-Nya semua bentuk keluhuran dimana sepatutnyalah Dia
memperoleh segala jenis persembahan.
Tujuan kedua Al-Quran adalah menonjolkan Tuhan sebagai Sang
Maha Pencipta dan Maha Perancang
alam semesta, Yang mendzahirkan awal alam semesta dimana terangkum di dalamnya pengertian bahwa semua yang ada di dalamnya merupakan hasil ciptaan-Nya. Hal ini secara ringkas dinyatakan dalam bagian
dari ayat: رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- “Tuhan seluruh alam.”
Tujuan ketiga dari Al-Quran adalah
menegaskan tentang rahmat Tuhan yang
tidak perlu diminta terlebih dahulu
yang disebut juga sebagai rahmat yang
bersifat umum. Hal ini termaktub dalam kata: الرَّحۡمٰنِ -- Rahmān (Maha Pemurah).
Tujuan keempat ialah mencanangkan berkat
dari Allah Swt. yang diperoleh karena
upaya permohonan dan kekhusyukan
seseorang. Hal itu terangkum dalam kata:الرَّحِیۡمِ -- Rahīm (Maha Penyayang).
Tujuan kelima adalah mengingatkan
manusia akan adanya kehidupan
setelah di dunia ini yaitu kehidupan
di akhirat yang dirangkum dalam ayat: مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ -- “Yang
mempunyai Hari Pembalasan”.
Tujuan Al-Quran yang keenam adalah untuk mengemukakan ketulusan batin, peribadatan dan pensucian
kalbu dari segala hal lainnya
kecuali Allah semata dan sebagai obat penawar bagi penyakit keruhanian, reformasi nilai-nilai akhlak dan penegakkan Ketauhidan Ilahi dalam peribadatan. Semua ini termaktub dalam ayat: اِیَّاکَ
نَعۡبُدُ -- “Hanya Engkau-lah
Yang kami sembah”.
Tujuan yang ketujuh adalah menegaskan Allah Swt. sebagai satu-satunya Sumber semua tindakan, semua
kekuatan dan pengasihan, semua pertolongan
dan keteguhan, kepatuhan dan kebebasan dari
dosa, pencapaian segala sarana untuk berbuat baik, perbaikan kehidupan di dunia dan di akhirat
serta kebutuhan akan pertolongan-Nya
dalam segala hal. Tujuan ini diringkas dalam pernyataan: اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ -- “Hanya kepada Engkau
kami memohon pertolongan.”
Tujuan kedelapan dari Al-Quran adalah mengemukakan mutiara hikmah dari jalan
yang lurus dan perlunya jalan itu dicari melalui doa dan shalat. Hal
tersebut diungkapkan dalam: اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ -- “Tuntunlah kami
kepada jalan yang lurus”.
Tujuan kesembilan dari Al-Quran adalah mengemukakan tentang jalan dan cara dari mereka yang
telah menjadi penerima berkat dan karunia Ilahi, agar kalbu para pencari kebenaran memperoleh ketenteraman
karenanya. Tujuan itu dirangkum dalam
ayat: صِرَاطَ الَّذِیۡنَ
اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ -- “Jalan orang-orang yang telah Engkau
beri nikmat.”
Tujuan kesepuluh dari Al-Quran ialah menegaskan adanya orang-orang yang karena akhlak dan akidahnya
telah menjadikan Tuhan tidak berkenan
kepada mereka yaitu orang-orang yang
tersesat mencari-cari akidah palsu
atau bid’ah dengan maksud agar para pencari kebenaran berhati-hati terhadap
mereka. Hal ini termaktub dalam ayat: غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا
الضَّآلِّیۡنَ ٪ -- “Bukan jalan mereka yang kemudian dimurkai
dan bukan pula yang kemudian sesat”.
Inilah sepuluh tujuan yang
menjadi inti ajaran Kitab Suci Al-Quran yang menjadi akar dari segala kebenaran. Semua itu dirangkum secara ringkas di dalam Surah Al-Fatihah.” (Brahin-i- Ahmadiyah,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
580-585, London, 1984).
Perbaikan Tabiat
Melalui Al-Quran & Keadaan Para Wali (Sahabat) Allah yang Hakiki
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai hamba-hamba
Allah yang hakiki yang mengamalkan
ajaran Al-Quran, dimana keadaan
mereka bertolak belakang dengan
para “ulama duniawi” yang hanya pandai mengatakan kebenaran tetapi tidak melaksanakannya dalam
bentuk amal nyata (QS.2:45; QS.61:3-5) sehingga Allah
Swt. menyebut mereka sebagai “asy-syua’rā -- tukang-tukang
syair” (QS.26:22-228). Beliau
bersabda:
“Mereka yang hanya mengandalkan
logika saja sebenarnya sama saja dengan orang-orang yang berkekurangan
dalam tindakan dan keimanan serta ketulusan perilaku, sebagaimana juga mereka berkekurangan dalam pengetahuan,
pemahaman dan keyakinan. Kelompok orang-orang seperti ini tidak pernah menjadi teladan
atau dimasukkan ke dalam kelompok jutaan
orang-orang suci yang menjadi hamba
Allah yang diridhai oleh-Nya.
Berkat orang-orang suci itu demikian nyata dimana mereka melalui khutbah, peringatan, doa dan perhatian (tawajuh) serta pengaruh keakraban diri mereka telah menyadarkan banyak orang untuk kembali ke jalan yang lurus dan sepenuhnya
menjadi hamba-hamba Allah.
Mereka ini tidak mempedulikan
dunia dengan isinya serta mengasingkan diri mereka dari kenyamanan, kesukaan, martabat, kebanggaan, harta milik dan kerajaan
duniawi. Mereka mengikuti jalan
takwa dimana karenanya ratusan
dari mereka telah kehilangan nyawa
dan ribuan kepala telah terpenggal
sehingga bumi menjadi basah karena darah orang-orang suci tersebut.
Meskipun menghadapi berbagai bencana seperti itu mereka tetap saja
memperlihatkan kesetiaan kepada Tuhan
mereka sebagaimana laiknya seorang pencinta
yang setia. Mereka hanya tertawa
ketika kaki mereka dibelenggu dan
merasa gembira ketika ditimpakan kesakitan serta bersyukur di tengah malapetaka.
Demi kecintaan kepada Yang Maha Esa, mereka rela meninggalkan rumah-rumah mereka,
lebih memilih kehinaan daripada kemasyhuran, lebih menyukai kesulitan daripada kenyamanan,
lebih memilih kemiskinan daripada kekayaan serta puas dengan kepapaan dan pengasingan serta ketidakberdayaan daripada kawan-kawan
dan kesukaan.
Dengan mengalirkan darah, terpenggalnya kepala atau menyerahkan nyawa, mereka telah memeterai kebenaran eksistensi
(keberadaan) Tuhan. Berkat dari mengikuti
firman Tuhan mereka telah memperoleh
Nur yang tidak ada padanannya pada orang lain.
Para Wali Allah Senantiasa Muncul
di Lingkungan Umat Islam & Perumpamaan
“Kalimah yang Baik”
Orang-orang seperti itu tidak hanya terdapat di masa lalu karena kelompok
manusia pilihan seperti itu selalu ada
di dalam Islam dan mereka ini menangkal
para lawan mereka dengan kecemerlangan diri mereka. Dengan
demikian kami telah membuktikan secara konklusif
(pasti) bahwa sebagaimana Al-Quran bisa
membawa seseorang ke tingkat kesempurnaan intelektual yang tinggi, begitu
jugalah dengan melaluinya seseorang akan
mencapai kesempurnaan dalam perilaku.
Nur
dan tanda-tanda keridhaan Allah Swt.
telah muncul dan akan selalu
terlihat pada mereka yang mengikuti
firman Suci. Bagi seorang pencari
kebenaran hal seperti ini menjadi
bukti yang bisa dilihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa berkat
surgawi dan tanda-tanda Ilahi
hanya bisa ditemukan di antara para penganut Kitab Suci Al-Quran. Adapun aliran
atau sekte lainnya seperti Brahmo Samaj, kaum Arya dan kaum Kristiani
yang menyangkal adanya wahyu, sesungguhnya diluputkan dari Nur kebenaran tersebut.
Kami bersedia memberikan kepuasan
kepada siapa pun yang ingin menyangkal
pandangan kami, tetapi dengan syarat
bahwa yang bersangkutan memang berhasrat
memeluk agama Islam secara tulus.
Silakan datanglah kepada kami dengan
niat baik, keteguhan hati dan ketulusan
untuk mencari kebenaran.” (Brahin-i- Ahmadiyah,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
350-352, London, 1984).
Sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut merupakan bukti kebenaran firman Allah
Swt. mengenai perumpamaan Al-Quran berikut ini:
اَلَمۡ تَرَ
کَیۡفَ ضَرَبَ اللّٰہُ مَثَلًا کَلِمَۃً طَیِّبَۃً کَشَجَرَۃٍ
طَیِّبَۃٍ اَصۡلُہَا ثَابِتٌ وَّ فَرۡعُہَا فِی السَّمَآءِ ﴿ۙ﴾ تُؤۡتِیۡۤ
اُکُلَہَا کُلَّ حِیۡنٍۭ بِاِذۡنِ
رَبِّہَا ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ
الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Tidakkah engkau melihat bagaimana Allah mengemukakan perumpamaan satu kalimat yang baik? کَشَجَرَۃٍ طَیِّبَۃٍ اَصۡلُہَا ثَابِتٌ وَّ فَرۡعُہَا فِی السَّمَآءِ -- Kalimat
itu seperti sebatang pohon yang baik,
yang akarnya kokoh kuat dan cabang-cabangnya menjangkau langit? تُؤۡتِیۡۤ اُکُلَہَا کُلَّ حِیۡنٍۭ بِاِذۡنِ رَبِّہَا -- Ia memberikan
buahnya setiap waktu dengan izin Rabb-nya (Tuhan-Nya), وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ
لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَذَکَّرُوۡنَ -- dan Allah
mengemukakan perumpamaan-perumpamaan
itu bagi manusia, supaya mereka mendapat nasihat. (Ibrahim [14]:25-26).
Firman Allah Swt. dalam ayat-ayat ini -- yakni Al-Quran -- diumpamakan sebatang pohon yang mempunyai empat
macam sifat yang penting:
(a) Kalam Ilahi itu baik,
artinya bersih dari segala ajaran-ajaran
yang bertentangan dengan akal dan kata hati manusia, atau berlawanan
dengan perasaan dan kepekaan tabiat manusia.
(b) Seperti sebatang pohon yang baik, akarnya dalam serta buahnya
subur; Kalam Ilahi itu mempunyai dasar yang kuat dan kokoh, dan menerima hayat (hidup) serta jaminan hidup yang tetap
segar dari sumbernya; dan laksana
sebatang pohon yang kuat firman
Ilahi itu tidak merunduk oleh tiupan angin perlawanan serta kecaman yang timbul dari rasa permusuhan, tetapi berdiri tegak di hadapan segala taufan badai. Firman Allah Swt. tersebut
mendapat hayat dan jaminan hidup hanya dari satu sumber dan oleh karena itu tidak ada ketidak-serasian atau pertentangan dalam prinsip-prinsip dan ajarannya.
(c) Pohon yang baik itu
memiliki dahan-dahan yang menjangkau
sampai ke langit, yang berarti bahwa
dengan mengamalkannya maka si pelaku dapat menanjak (naik) ke puncak-puncak
kemuliaan ruhani tertinggi (QS.4:70-71).
(d) Kalam Ilahi itu menghasilkan buahnya
yang berlimpah-limpah di segala musim, yang berarti bahwa berkat-berkatnya nampak di sepanjang
masa. Kalam Ilahi itu di sepanjang abad terus-menerus membuahkan orang-orang yang karena beramal sesuai dengan ajaran-ajarannya sehingga mereka mencapai
perhubungan dengan Allah Swt., dan karena kejujurannya serta kesucian
dalam tingkah lakunya mereka menjulang
tinggi dan mengatasi orang-orang
yang sezaman dengan mereka
(QS.48:30). Kitab suci Al-Quran
memiliki semua sifat itu dalam ukuran yang sepenuhnya.
Perumpamaan “Kalimah yang Buruk” & Jaminan Pemeliharaan Al-Quran
Berbeda dengan kesempurnaan Al-Quran, keadaan Kitab-kitab suci yang posisinya
telah digantikan oleh Al-Quran (QS.2:107) keadaannya
digambarkan Allah Swt. dalam firman
selanjutnya:
وَ مَثَلُ
کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ اجۡتُثَّتۡ مِنۡ
فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا لَہَا مِنۡ قَرَارٍ ﴿﴾ یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ
الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ یُضِلُّ اللّٰہُ
الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ
اللّٰہُ مَا یَشَآءُ ﴿٪﴾
Dan perumpamaan kalimah yang buruk اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا
لَہَا مِنۡ قَرَارٍ کَشَجَرَۃٍ
خَبِیۡثَۃِۣ -- adalah seperti pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, ia sekali-kali tidak memiliki kemantapan. یُثَبِّتُ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ -- Allah
meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, وَ یُضِلُّ اللّٰہُ
الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ
اللّٰہُ مَا یَشَآءُ -- dan Allah menyesatkan orang-orang zalim,
dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim [14]:25-28).
Berbeda
dari pohon yang baik, keadaan kitab-kitab yang diciptakan oleh seorang
pemalsu (QS.2:42-45 & 80, 147,
175) adalah seperti pohon yang buruk. Ia tidak memiliki kekekalan atau kemantapan.
Ajarannya tidak didukung oleh akal
maupun hukum-hukum alam.
Kitab-kitab semacam itu tak
dapat bertahan terhadap kritikan, dan asas-asas serta cita-citanya
terus berubah bersama dengan berubahnya keadaan manusia dan lingkungannya. Ia merupakan ajaran yang campur aduk, dikumpulkan dari sumber-sumber
yang meragukan.
Kitab-kitab
semacam itu tidak bisa melahirkan orang-orang yang dapat menda'wakan pernah mengadakan perhubungan yang hakiki dengan Allah
Swt. Kitab-kitab seperti itu tidak
menerima daya hidup yang baru
dari sumber Ilahi dan selamanya terancam keruntuhan dan kemunduran.
Untuk tujuan pemeliharaan akhlak dan ruhani
manusia dari kesesatan akibat
menganut ajaran-ajaran yang sudah kedaluwarsa seperti itulah maka Allah Swt. telah mewahyukan Al-Quran kepada Nabi Besar
Muhammad saw. (QS.2:107; QS.5:4) dan Allah Swt. terus menerus memeliharanya dari berbagai upaya penyimpangan dari orang-orang yang hatinya bengkok dan berpenyakit
(QS.15:10; QS.3:8-9).
Salah satu bentuk “pemeliharaan” Allah Swt. terhadap Al-Quran tersebut adalah dengan membangkitkan
para mujaddid dan para wali Allah di kalangan umat Islam di setiap abad --
contohnya ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz,
Imam Ghazali, Syaikh
‘Abdul Qadir al-Jailani, Muhyiddin
‘Ibnu ‘Arabi dan lain-lain -- termasuk di Akhir Zaman ini yaitu Masih
Mau’ud a.s. (QS.61:10; QS.62:3-5).
Tertuju kepada “hamba-hamba Allah” yang hakiki itulah
sabda Masih Mau’ud a.s. sebelum ini,
sebab mereka itulah yang senantiasa menjadi sasaran fatwa
kafir dan tindakan zalim dari
para “ulama duniawi” di masanya yang
merasa sangat terganggu oleh kemunculan
para mujaddid dan para wali Allah hakiki tersebut:
“…..Berkat orang-orang
suci itu demikian nyata dimana mereka melalui khutbah, peringatan, doa dan perhatian (tawajuh) serta pengaruh
keakraban diri mereka telah menyadarkan
banyak orang untuk kembali ke jalan yang lurus dan sepenuhnya menjadi hamba-hamba Allah.
Mereka ini tidak mempedulikan
dunia dengan isinya serta mengasingkan diri mereka dari kenyamanan, kesukaan, martabat, kebanggaan, harta milik dan kerajaan
duniawi. Mereka mengikuti jalan
takwa dimana karenanya ratusan
dari mereka telah kehilangan nyawa
dan ribuan kepala telah terpenggal
sehingga bumi menjadi basah karena darah orang-orang suci tersebut.
Meskipun menghadapi berbagai bencana seperti itu mereka tetap saja
memperlihatkan kesetiaan kepada Tuhan
mereka sebagaimana laiknya seorang pencinta
yang setia. Mereka hanya tertawa
ketika kaki mereka dibelenggu dan
merasa gembira ketika ditimpakan kesakitan serta bersyukur di tengah malapetaka.
Demi kecintaan kepada Yang Maha Esa, mereka rela meninggalkan rumah-rumah mereka,
lebih memilih kehinaan daripada kemasyhuran, lebih menyukai kesulitan daripada kenyamanan,
lebih memilih kemiskinan daripada kekayaan serta puas dengan kepapaan dan pengasingan serta ketidakberdayaan daripada kawan-kawan
dan kesukaan.
Dengan mengalirkan darah, terpenggalnya kepala atau menyerahkan nyawa, mereka telah memeterai kebenaran eksistensi
(keberadaan) Tuhan. Berkat dari mengikuti
firman Tuhan mereka telah memperoleh
Nur yang tidak ada padanannya pada orang lain.
Orang-orang seperti itu tidak hanya terdapat di masa lalu karena kelompok
manusia pilihan seperti itu selalu ada
di dalam Islam dan mereka ini menangkal
para lawan mereka dengan kecemerlangan diri mereka. Dengan
demikian kami telah membuktikan secara konklusif
(pasti) bahwa sebagaimana Al-Quran bisa
membawa seseorang ke tingkat kesempurnaan intelektual yang tinggi, begitu
jugalah dengan melaluinya seseorang akan
mencapai kesempurnaan dalam perilaku.
Nur dan tanda-tanda keridhaan Allah Swt. telah muncul
dan akan selalu terlihat pada mereka
yang mengikuti firman Suci. Bagi seorang pencari kebenaran hal seperti
ini menjadi bukti yang bisa dilihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa berkat
surgawi dan tanda-tanda Ilahi
hanya bisa ditemukan di antara para penganut Kitab Suci Al-Quran.”
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 15 Februari
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar