Sabtu, 20 Februari 2016

Pembukaan "Meterai" (Segel) Surah Al-Fatihah Oleh Masih Mau'ud a.s. & Perumpamaan "Kalimah yang Baik" dan "Kalimah yang Buruk"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 
KITAB SUCI AL-QURAN

Kitab Suci Al-Quran adalah kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak menyadarinya

“Setiap saat hatiku merindukan untuk mencium Kitab  Engkau dan melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan Kabahku”

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


Pembukaan “Meterai” (Segel) Surah Al-Fatihah oleh Masih Mau’ud a.s. & Perumpamaan “Kalimah yang Baik” dan “Kalimah yang Buruk

Bab 37


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai kesempurnaan Surah Al-Fatihah, yang  sebelumnya tidak pernah ada ulama Muslim yang menjelaskannya seperti itu, sehingga genaplah nubuatan dalam Bible mengenai  akan dibukanya  “meterai” Surah Al-Fatihah  di Akhir Zaman ini oleh Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s..

Nama-nama Surah Al-Fatihah dan Maknanya

      Nama terkenal untuk Surah pendek ini ialah Fātihat-ul-Kitāb (Surah Pembukaan Al-Kitab), diriwayatkan bersumber pada beberapa ahli ilmu hadits yang dapat dipercaya (Tirmidzi dan Muslim), kemudian nama itu disingkat menjadi Surah Al-Fātihah atau Al-Fātihah saja.  
      Surah ini dikenal dengan beberapa nama, dan 10 nama berikut ini lebih sah, yaitu:  (1) Al-Fātihah, (2) Al-Shalāt, (3) Al-Hamd, (4) Umm-ul-Quran, (5) Al-Quran-ul-’Azhim, (6) Al-Sab’al-Matsani, (7) Umm-ul Kitāb, (8) Al-Syifā, (9) Al-Ruqyah, dan (10)  Al-Kanz. Nama-nama ini menerangkan betapa luasnya isi Surah ini.
      Nama Fātihat-ul-Kitāb (Surah Pembukaan Al-Kitab) berarti bahwa  karena Surah itu telah diletakkan pada permulaan  maka ia merupakan kunci pembuka seluruh pokok masalah Al-Quran.
     Al-Shalāt (Shalat) berarti bahwa Al-Fātihah merupakan doa yang lengkap lagi sempurna dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari shalat Islam yang sudah melembaga.
    Al-Hamd (Puji-pujian) berarti bahwa Surah ini menjelaskan tujuan agung penciptaan manusia dan mengajarkan bahwa hubungan  Allah Swt.  dengan manusia adalah hubungan berdasarkan kemurahan (Rahmāniyat) dan kasih-sayang (Rahīmiyat).
      Umm-ul-Qur’an (Ibu Al-Quran) berarti bahwa Surah ini merupakan intisari seluruh Al-Quran, yang dengan ringkas mengemukakan semua pengetahuan yang menyangkut perkembangan akhlak dan  ruhani  manusia. 
       Al-Quran-ul-’Azhim (Al-Quran Agung) berarti bahwa meski pun Surah ini terkenal sebagai Umm-ul-Kitāb dan Umm-ul-Qur’an namun tetap merupakan bagian Kitab Suci itu dan bukan seperti anggapan salah sementara orang bahwa ia terpisah darinya. 
       Al-Sab’ul Matsani (Tujuh ayat yang seringkali diulang) berarti ketujuh ayat pendek Surah ini sungguh-sungguh memenuhi segala keperluan ruhani manusia. Nama itu berarti pula bahwa Surah ini harus diulang dalam tiap-tiap rakaat shalat.   
Umm-ul-Kitab (Ibu Kitab) berarti bahwa doa dalam Surah ini  menjadi sebab diwahyukannya ajaran Al-Quran.
     Al-Syifā (Penyembuh) berarti bahwa Surah ini memberi pengobatan terhadap segala keraguan dan syak yang biasa timbul dalam hati manusia.
      Al-Ruqyah (Jimat atau Mantera) berarti bahwa Surah ini bukan hanya doa untuk menghindarkan penyakit tetapi juga memberi perlindungan terhadap syaitan dan pengikut-pengikutnya, dan menguatkan hati manusia untuk melawan mereka.
Al-Kanz (Khazanah) mengandung arti bahwa Surah ini suatu khazanah ilmu yang tidak habis-habisnya.

Al-Fātihah Dinubuatkan dalam Perjanjian Baru

      Tetapi nama yang terkenal Surah ini adalah Al-Fātihah. Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa nama itu juga tercantum dalam nubuatan Perjanjian Baru:
     “Maka aku tampak seorang malaikat lain yang gagah, turun dari langit ......... dan di tangannya ada sebuah Kitab Kecil yang terbuka, maka kaki kanannya berpijak di laut, dan kaki kiri di darat” (Wahyu 10:1-2).
Kata dalam bahasa Ibrani untuk “terbuka”  adalah Fatoah, yang sama dengan kata Arab, Fatihah. Kemudian lagi:
“ ...... dan tatkala ia (malaikat) berteriak, ketujuh guruh pun membunyikan                      bunyi masing-masing” (Wahyu 10:3).
Tujuh guruh” mengisyaratkan kepada tujuh ayat Surah ini.
      Para sarjana Kristen mengatakan bahwa nubuatan itu mengisyaratkan kepada kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya. Hal itu telah dibuktikan oleh kenyataan-kenyataan yang sebenarnya. Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s.  yang dalam wujudnya nubuatan tentang kedatangan Nabi Isa a.s. kedua kalinya yakni  sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)    telah menjadi sempurna, Masih Mau’ud a.s.  menulis tafsir mengenai Surah ini dan menunjukkan bukti-bukti serta dalil-dalil mengenai kebenaran pendakwaan beliau  dari isi Surah ini, dan beliau senantiasa memakainya sebagai doa yang baku.
       Beliau menyimpulkan dari tujuh ayat yang pendek-pendek ini  ilmu-ilmu makrifat Ilahi dan kebenaran-kebenaran kekal abadi yang tidak diketahui sebelumnya. Seolah-olah Surah ini sebuah Kitab yang dimeterai hingga khazanah itu akhirnya dibukakan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s..  Dengan demikian sempurnalah nubuatan yang terkandung dalam Wahyu 10:4, yakni:
      “Tatkala ketujuh guruh sudah berbunyi itu, sedang aku hendak menyuratkan, lalu aku dengar suatu suara dari langit, katanya: "Meteraikanlah barang apa yang ketujuh guruh itu sudah mengatakan dan jangan dituliskan.”
Nubuatan itu menunjuk kepada kenyataan bahwa Fatoah atau Al-Fātihah itu untuk sementara waktu akan tetap merupakan sebuah Kitab tertutup, tetapi suatu waktu akan tiba ketika khazanah ilmu ruhani yang dikandungnya akan dibukakan. Hal itu telah dilaksanakan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s. yakni Imam Mahdi a.s. atau   Masih Mau’ud a.s..  Lebih jauh beliau menjelaskan:   

Karakteristik Ruhani Surah Al-Fatihah & Imbauan Kepada Para Pencari Kebenaran

    “Salah satu karakteristik keruhanian  Surah Al-Fatihah adalah   jika seseorang melafazkannya dalam shalat dengan penuh perhatian dan menegakkan   ajarannya di dalam kalbunya sendiri serta beriman atas kebenarannya maka kalbunya akan mengalami pencerahan.   Kemampuan berfikir yang bersangkutan akan berkembang dan kegelapan manusiawi akan tersingkirkan sehingga ia mulai menikmati pengalaman keberkatan dari Sumber segala rahmat.
        Ia akan merasa dikitari nur keridhaan Ilahi dan maju ke tahapan terhormat dimana ia bisa berbicara dengan Tuhan-nya melalui kasyaf dan wahyu yang benar. Ia akan memasuki lingkungan mereka yang dekat kepada Tuhan dimana ia akan menikmati keajaiban ilham dan pengabulan doa, menerima bantuan Ilahi serta dibukakannya hal-hal yang tersembunyi (gaib), suatu hal yang tidak terdapat pada manusia awam (umum).
      Bagi para lawan kami yang menyangkal hal ini, sesungguhnya bukti untuk itu ada dalam buku ini. Hamba yang lemah ini bersedia memuaskan para pencari kebenaran, tidak saja mereka yang melawan kami tetapi juga dari antara mereka yang hanya secara nominal saja meyakini kami, yaitu orang-orang yang hanya Muslim di kulitnya saja namun keimanannya terselaput kabut dan dirinya tanpa kehidupan ruhani.
    Dalam masa kegelapan seperti sekarang ini mereka tidak meyakini tanda-tanda Samawi dan menganggap wahyu sebagai suatu hal yang mustahil, yang dikatakan sebagai ilusi atau imajinasi. Mereka memiliki konsep kemajuan manusia yang sempit yang terbatas hanya pada pandangan permasalahan intelektual dan perkiraan saja. Konsep mereka tentang Allah Yang Maha Kuasa adalah sebagai Wujud yang lemah tak berdaya.
       Hamba yang lemah ini mengajukan dengan segala hormat bahwa jika mereka ini menyangkal efektivitas Al-Quran dan tetap berpegang pada kebodohan mereka, sepatutnyalah mereka itu menanggapi kesempatan yang diberikan oleh hamba yang lemah ini untuk memuaskan mereka berdasarkan pengalamannya sendiri. Sepatutnyalah para pencari kebenaran itu datang kepadaku dan memperhatikan dengan mata kepala sendiri karakteristik   Firman Allah yang dikemukakan di atas. Mereka akan bisa  meninggalkan kegelapan dan memasuki pencerahan Nur yang benar.

Imbauan Kepada Golongan Non-Muslim  Pencari Kebenaran yang Hakiki

      Sampai sekarang hamba yang lemah ini masih hidup namun yang namanya kehidupan adalah suatu hal yang tidak pasti. Karena itu sebaiknya setelah mendengar pemberitahuan ini segeralah mencari kebenaran dan hilangkan kedustaan agar jika pernyataanku ini palsu adanya maka ada alasan untuk menyangkalnya. Tetapi jika pernyataanku itu memang benar maka sepantasnya para lawan meninggalkan jalan fikiran mereka untuk segera memeluk agama Islam supaya terhindar dari dipermalukan dan dihinakan di dunia ini serta siksa dan hukuman di akhirat.
      Karena itu perhatikanlah, wahai saudara-saudaraku terkasih, para filosof, pandit-pandit, missionaris Kristen, kaum Arya, aliran kebatinan dan kaum Brahmo Samaj, aku memaklumkan (mengumumkan) secara terbuka,  bahwa jika ada yang meragukan karakteristik  Al-Quran sebagaimana yang telah aku kemukakan di atas dan mempunyai keraguan untuk bisa menerimanya, marilah datang kepadaku segera dimana dengan hidup dekat bersamaku untuk sementara waktu secara tulus dan tekun, kalian akan menyaksikan kebenaran pernyataanku dengan mata kalian sendiri. Jangan sampai jika aku sudah meninggalkan dunia lalu ada yang mengatakan bahwa ia tidak pernah diundang secara terbuka dan tidak mengetahui mengenai pernyataanku itu sehingga tidak sempat melihat pembuktiannya.
       Jadi, wahai saudara-saudaraku dan para pencari kebenaran, perhatikanlah bahwa aku mengungkapkan hal ini secara terbuka dan dengan beriman kepada Allah Swt. Yang Nur-Nya aku melihatnya siang dan malam, aku memikul tanggungjawab bahwa bila kalian memang mencari kebenaran dengan ketulusan hati dan mau tinggal bersamaku untuk beberapa waktu dengan niat baik, akan nyata kepada kalian bahwa nilai-nilai keruhanian yang aku kemukakan di atas memang benar-benar ada di dalam Surah al-Fatihah dan dalam Kitab Suci Al-Quran.
    Betapa berberkatnya orang yang mau mengosongkan hatinya dari kefanatikan dan permusuhan serta memiliki hasrat untuk memeluk agama Islam jika ia mau memenuhi undanganku ini guna mencapai apa yang dimaksud. Betapa malangnya orang yang tidak menghiraukan undangan terbuka ini sehingga menjadikan dirinya sebagai sasaran kutuk dan kemurkaan Allah Swt.. Sesungguhnya maut (kematian) itu sudah dekat dan akhir dari hidup ini sudah di ambang pintu” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  626-635, London, 1984).

Al-Fatihah Sebagai Rangkuman Tujuan Al-Quran

       Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai Surah Al-Fatihah sebagai “intisari” Al-Quran sehingga disebut sebagai  “Umul-Kitab”:
       “Surah Al-Fatihah secara ringkas merangkum keseluruhan isi dan tujuan  Kitab Suci Al-Quran. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنٰکَ سَبۡعًا مِّنَ الۡمَثَانِیۡ وَ الۡقُرۡاٰنَ  الۡعَظِیۡمَ
 “Sesungguhnya telah Kami berikan kepada engkau tujuh ayat yang selalu diulang-ulang dan Al-Quran yang agung”(Al-Hijr [15]:88).
      Berarti ketujuh ayat dari Surah Al-Fatihah secara ringkas telah mencakup seluruh maksud Al-Quran, sedangkan rincian secara terinci tujuan-tujuan agama dijelaskan dalam surah-surah lainnya. Karena itulah surah ini dianggap sebagai Ibu Kitab (Ummul Kitab) dan Surah yang komprehensif (Al-Kanz).
       Disebut sebagai Ummul Kitab karena semua tujuan yang dipaparkan dalam Al-Quran bisa diintisarikan darinya dan disebut sebagai Surah yang Komprehensif (lengkap) karena secara ringkas mencakup semua bentuk ajaran yang terdapat di dalam Al-Quran. Berdasarkan alasan inilah maka Hadhrat Rasulullah Saw. menyatakan bahwa mereka yang melafazkan Surah Al-Fatihah sama dengan membaca Al-Quran karena Surah tersebut merupakan cermin yang memantulkan isi   Al-Quran.
       Sebagai contoh, salah satu tujuan Al-Quran adalah mengemukakan semua puji-pujian sempurna tentang Allah Yang Maha Agung dan menyatakan secara jelas kesempurnaan yang dimiliki-Nya. Hal ini secara singkat dikemukakan Surah Al-Fatihah di ayat:  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ   -- “Segala puji bagi Allah,” yang berarti bahwa semua bentuk puji-pujian yang sempurna adalah bagi Allah Yang merangkum dalam Wujud-Nya semua bentuk keluhuran dimana sepatutnyalah Dia memperoleh segala jenis persembahan.
      Tujuan kedua   Al-Quran adalah menonjolkan Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta dan Maha Perancang alam semesta, Yang mendzahirkan awal   alam semesta dimana terangkum di dalamnya pengertian bahwa semua yang ada di dalamnya merupakan hasil ciptaan-Nya. Hal ini secara ringkas dinyatakan dalam bagian dari ayat:   رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- “Tuhan seluruh alam.
      Tujuan ketiga dari Al-Quran adalah menegaskan tentang rahmat Tuhan yang tidak perlu diminta terlebih dahulu yang disebut juga sebagai rahmat yang bersifat umum. Hal ini termaktub dalam kata:  الرَّحۡمٰنِ  -- Rahmān  (Maha Pemurah).
      Tujuan keempat ialah mencanangkan berkat dari Allah Swt. yang diperoleh karena upaya permohonan dan kekhusyukan seseorang. Hal itu terangkum dalam kata:الرَّحِیۡمِ -- Rahīm (Maha Penyayang).
     Tujuan kelima adalah mengingatkan manusia akan adanya kehidupan setelah di dunia ini yaitu kehidupan di akhirat yang dirangkum dalam ayat: مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ  -- “Yang mempunyai Hari Pembalasan”.
     Tujuan Al-Quran yang keenam adalah untuk mengemukakan ketulusan batin, peribadatan dan pensucian kalbu dari segala hal lainnya kecuali Allah semata dan sebagai obat penawar bagi penyakit keruhanian, reformasi nilai-nilai akhlak dan penegakkan Ketauhidan Ilahi dalam peribadatan. Semua ini termaktub dalam ayat:  اِیَّاکَ نَعۡبُدُ    -- “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah”.
   Tujuan yang ketujuh adalah menegaskan Allah Swt.  sebagai satu-satunya Sumber  semua tindakan, semua kekuatan dan pengasihan, semua pertolongan dan keteguhan, kepatuhan dan kebebasan dari dosa, pencapaian segala sarana untuk berbuat baik, perbaikan kehidupan di dunia dan di akhirat serta kebutuhan akan pertolongan-Nya dalam segala hal. Tujuan ini diringkas dalam pernyataan: اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ   -- “Hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.”
       Tujuan kedelapan dari Al-Quran adalah mengemukakan mutiara hikmah dari jalan yang lurus dan perlunya jalan itu dicari melalui doa dan shalat. Hal tersebut diungkapkan dalam:  اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ -- “Tuntunlah kami kepada jalan yang lurus.
     Tujuan kesembilan dari Al-Quran adalah mengemukakan tentang jalan dan cara dari mereka yang telah menjadi penerima berkat dan karunia Ilahi, agar kalbu para pencari kebenaran memperoleh ketenteraman karenanya. Tujuan itu dirangkum dalam  ayat: صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ -- “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.”
      Tujuan kesepuluh dari Al-Quran ialah menegaskan adanya orang-orang yang karena akhlak dan akidahnya telah menjadikan Tuhan tidak berkenan kepada mereka yaitu orang-orang yang tersesat mencari-cari akidah palsu atau bid’ah dengan maksud agar para pencari kebenaran berhati-hati terhadap mereka. Hal ini termaktub dalam ayat: غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪ -- “Bukan jalan mereka yang kemudian dimurkai dan bukan pula yang kemudian sesat.
    Inilah sepuluh tujuan yang menjadi inti ajaran Kitab Suci Al-Quran yang menjadi akar dari segala kebenaran. Semua itu dirangkum secara ringkas di dalam Surah Al-Fatihah.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 580-585, London, 1984).

Perbaikan Tabiat Melalui Al-Quran & Keadaan Para Wali  (Sahabat) Allah yang Hakiki

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan mengenai  hamba-hamba Allah  yang hakiki yang  mengamalkan  ajaran Al-Quran,  dimana  keadaan  mereka  bertolak belakang dengan  para “ulama duniawi”  yang hanya pandai mengatakan  kebenaran tetapi tidak melaksanakannya  dalam bentuk amal  nyata (QS.2:45; QS.61:3-5) sehingga Allah Swt. menyebut mereka sebagai “asy-syua’rā   -- tukang-tukang syair”  (QS.26:22-228). Beliau bersabda:
      “Mereka yang hanya mengandalkan logika saja sebenarnya sama saja dengan orang-orang yang berkekurangan dalam tindakan dan keimanan serta ketulusan perilaku, sebagaimana juga mereka berkekurangan dalam pengetahuan, pemahaman dan keyakinan. Kelompok orang-orang seperti ini tidak pernah menjadi teladan atau dimasukkan ke dalam kelompok jutaan orang-orang suci yang menjadi hamba Allah yang diridhai oleh-Nya.
      Berkat  orang-orang suci itu demikian nyata dimana mereka melalui khutbah, peringatan, doa dan perhatian (tawajuh) serta pengaruh keakraban diri mereka telah menyadarkan banyak orang untuk kembali ke jalan yang lurus dan sepenuhnya menjadi hamba-hamba Allah.
       Mereka ini tidak mempedulikan dunia dengan isinya serta mengasingkan diri mereka dari kenyamanan, kesukaan, martabat, kebanggaan, harta milik dan kerajaan duniawi. Mereka mengikuti jalan takwa dimana karenanya ratusan dari mereka telah kehilangan nyawa dan ribuan kepala telah terpenggal sehingga bumi menjadi basah karena darah orang-orang suci tersebut.
   Meskipun menghadapi berbagai bencana seperti itu mereka tetap saja memperlihatkan kesetiaan kepada Tuhan mereka sebagaimana laiknya seorang pencinta yang setia. Mereka hanya tertawa ketika kaki mereka dibelenggu dan merasa gembira ketika ditimpakan kesakitan serta bersyukur di tengah malapetaka.
      Demi kecintaan kepada Yang Maha Esa, mereka rela meninggalkan rumah-rumah mereka, lebih memilih kehinaan daripada kemasyhuran, lebih menyukai kesulitan daripada kenyamanan, lebih memilih kemiskinan daripada kekayaan serta puas dengan kepapaan dan pengasingan serta ketidakberdayaan daripada kawan-kawan dan kesukaan.
    Dengan mengalirkan darah, terpenggalnya kepala atau menyerahkan nyawa, mereka telah memeterai kebenaran eksistensi (keberadaan)  Tuhan. Berkat dari mengikuti firman Tuhan  mereka telah memperoleh Nur yang tidak ada padanannya pada orang lain.

Para Wali Allah Senantiasa Muncul  di Lingkungan Umat Islam &  Perumpamaan “Kalimah yang Baik”  

      Orang-orang seperti itu tidak hanya terdapat di masa lalu karena kelompok manusia pilihan seperti itu selalu ada di dalam Islam dan mereka ini menangkal para lawan mereka dengan kecemerlangan diri mereka. Dengan demikian kami telah membuktikan secara konklusif (pasti) bahwa sebagaimana Al-Quran bisa membawa seseorang ke tingkat kesempurnaan intelektual yang tinggi, begitu jugalah dengan melaluinya seseorang akan mencapai kesempurnaan dalam perilaku.
      Nur dan tanda-tanda keridhaan Allah Swt.  telah muncul dan akan selalu terlihat pada mereka yang mengikuti firman Suci. Bagi seorang pencari kebenaran hal seperti ini menjadi bukti yang bisa dilihat dengan mata kepalanya sendiri   bahwa berkat surgawi dan tanda-tanda Ilahi hanya bisa ditemukan di antara para penganut Kitab Suci Al-Quran.   Adapun aliran atau sekte lainnya seperti Brahmo Samaj, kaum Arya dan kaum Kristiani yang menyangkal adanya wahyu, sesungguhnya diluputkan dari Nur kebenaran tersebut.
   Kami bersedia memberikan kepuasan kepada siapa pun yang ingin menyangkal pandangan kami, tetapi dengan syarat bahwa yang bersangkutan memang berhasrat memeluk agama Islam secara tulus. Silakan datanglah kepada kami dengan niat baik, keteguhan hati dan ketulusan untuk mencari kebenaran.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 350-352, London, 1984).
      Sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut merupakan bukti kebenaran firman Allah Swt. mengenai perumpamaan  Al-Quran berikut ini:
اَلَمۡ تَرَ کَیۡفَ ضَرَبَ اللّٰہُ مَثَلًا کَلِمَۃً طَیِّبَۃً  کَشَجَرَۃٍ  طَیِّبَۃٍ اَصۡلُہَا ثَابِتٌ وَّ فَرۡعُہَا فِی  السَّمَآءِ ﴿ۙ﴾  تُؤۡتِیۡۤ  اُکُلَہَا کُلَّ حِیۡنٍۭ  بِاِذۡنِ رَبِّہَا ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ  الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Tidakkah engkau melihat  bagaimana Allah mengemukakan perumpamaan satu kalimat yang baik?  کَشَجَرَۃٍ  طَیِّبَۃٍ اَصۡلُہَا ثَابِتٌ وَّ فَرۡعُہَا فِی  السَّمَآءِ -- Kalimat itu seperti sebatang pohon yang baik, yang akarnya kokoh kuat dan cabang-cabangnya menjangkau  langitتُؤۡتِیۡۤ  اُکُلَہَا کُلَّ حِیۡنٍۭ  بِاِذۡنِ رَبِّہَا --   Ia memberikan buahnya  setiap waktu dengan izin Rabb-nya (Tuhan-Nya), وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ  الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَذَکَّرُوۡنَ  -- dan  Allah mengemukakan  perumpamaan-perumpamaan itu bagi manusia, supaya mereka mendapat nasihat. (Ibrahim [14]:25-26).
       Firman Allah  Swt. dalam ayat-ayat ini   -- yakni Al-Quran  --  diumpamakan sebatang pohon yang mempunyai empat macam sifat yang penting:
    (a) Kalam Ilahi  itu baik, artinya bersih dari segala ajaran-ajaran yang bertentangan dengan akal dan kata hati manusia, atau berlawanan dengan perasaan dan kepekaan tabiat manusia.
       (b) Seperti sebatang pohon yang baik, akarnya dalam serta buahnya subur; Kalam Ilahi itu mempunyai dasar yang kuat dan kokoh, dan menerima hayat (hidup) serta jaminan hidup yang tetap segar dari sumbernya; dan laksana sebatang pohon yang kuat  firman Ilahi itu tidak merunduk oleh tiupan angin perlawanan serta kecaman yang timbul dari rasa permusuhan, tetapi berdiri tegak di hadapan segala taufan badai. Firman Allah Swt. tersebut mendapat hayat dan jaminan hidup hanya dari satu sumber dan oleh karena itu tidak ada ketidak-serasian atau pertentangan dalam prinsip-prinsip dan ajarannya.
       (c) Pohon yang baik itu memiliki dahan-dahan yang menjangkau sampai ke langit, yang berarti bahwa dengan mengamalkannya maka si pelaku dapat menanjak (naik) ke puncak-puncak kemuliaan ruhani tertinggi (QS.4:70-71).
      (d) Kalam Ilahi itu menghasilkan buahnya yang berlimpah-limpah di segala musim, yang berarti bahwa berkat-berkatnya nampak di sepanjang masa. Kalam Ilahi itu di sepanjang abad terus-menerus membuahkan orang-orang yang karena beramal sesuai dengan ajaran-ajarannya sehingga mereka mencapai perhubungan dengan Allah Swt.,   dan karena kejujurannya serta kesucian dalam tingkah lakunya mereka  menjulang tinggi dan mengatasi orang-orang yang sezaman dengan mereka (QS.48:30).    Kitab suci Al-Quran memiliki semua sifat itu dalam ukuran yang sepenuhnya. 

Perumpamaan   “Kalimah yang Buruk” & Jaminan Pemeliharaan Al-Quran

      Berbeda dengan kesempurnaan Al-Quran, keadaan Kitab-kitab suci yang posisinya telah digantikan oleh Al-Quran (QS.2:107) keadaannya digambarkan  Allah Swt. dalam firman selanjutnya:
وَ مَثَلُ کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا  لَہَا مِنۡ  قَرَارٍ ﴿﴾  یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ ﴿٪﴾
Dan perumpamaan kalimah yang buruk اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا  لَہَا مِنۡ  قَرَارٍ  کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ -- adalah seperti  pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, ia sekali-kali tidak   memiliki kemantapan. یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  --  Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ  -- dan Allah menyesatkan orang-orang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim [14]:25-28).
         Berbeda dari pohon yang baik, keadaan kitab-kitab yang diciptakan oleh seorang pemalsu (QS.2:42-45 & 80, 147, 175)  adalah seperti pohon yang buruk. Ia tidak memiliki kekekalan atau kemantapan. Ajarannya tidak didukung oleh akal maupun hukum-hukum alam.
      Kitab-kitab semacam itu tak dapat bertahan terhadap kritikan, dan asas-asas serta cita-citanya terus berubah bersama dengan berubahnya keadaan manusia dan lingkungannya. Ia merupakan ajaran yang campur aduk, dikumpulkan dari sumber-sumber yang meragukan.
    Kitab-kitab  semacam itu tidak bisa melahirkan orang-orang yang dapat menda'wakan pernah mengadakan perhubungan yang hakiki dengan Allah Swt. Kitab-kitab seperti itu tidak menerima daya hidup yang baru dari sumber Ilahi dan selamanya terancam keruntuhan dan kemunduran.
      Untuk tujuan pemeliharaan akhlak dan ruhani manusia dari kesesatan akibat menganut ajaran-ajaran yang sudah kedaluwarsa  seperti itulah maka Allah Swt. telah mewahyukan Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:107; QS.5:4) dan Allah Swt. terus menerus memeliharanya dari berbagai upaya penyimpangan dari orang-orang yang hatinya bengkok dan berpenyakit (QS.15:10; QS.3:8-9).
       Salah satu bentuk “pemeliharaan” Allah Swt. terhadap Al-Quran tersebut adalah dengan membangkitkan para mujaddid dan para wali Allah   di kalangan umat Islam di setiap abad   --  contohnya ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Imam GhazaliSyaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani, Muhyiddin ‘Ibnu ‘Arabi dan lain-lain  --  termasuk di Akhir Zaman ini yaitu Masih Mau’ud a.s.  (QS.61:10; QS.62:3-5).
       Tertuju kepada “hamba-hamba Allah” yang hakiki itulah sabda Masih Mau’ud a.s. sebelum ini, sebab mereka itulah yang senantiasa menjadi sasaran  fatwa kafir dan tindakan zalim dari para “ulama duniawi” di masanya yang merasa sangat  terganggu   oleh kemunculan para mujaddid dan para wali Allah  hakiki tersebut:
     “…..Berkat  orang-orang suci itu demikian nyata dimana mereka melalui khutbah, peringatan, doa dan perhatian (tawajuh) serta pengaruh keakraban diri mereka telah menyadarkan banyak orang untuk kembali ke jalan yang lurus dan sepenuhnya menjadi hamba-hamba Allah.
       Mereka ini tidak mempedulikan dunia dengan isinya serta mengasingkan diri mereka dari kenyamanan, kesukaan, martabat, kebanggaan, harta milik dan kerajaan duniawi. Mereka mengikuti jalan takwa dimana karenanya ratusan dari mereka telah kehilangan nyawa dan ribuan kepala telah terpenggal sehingga bumi menjadi basah karena darah orang-orang suci tersebut.
   Meskipun menghadapi berbagai bencana seperti itu mereka tetap saja memperlihatkan kesetiaan kepada Tuhan mereka sebagaimana laiknya seorang pencinta yang setia. Mereka hanya tertawa ketika kaki mereka dibelenggu dan merasa gembira ketika ditimpakan kesakitan serta bersyukur di tengah malapetaka.
      Demi kecintaan kepada Yang Maha Esa, mereka rela meninggalkan rumah-rumah mereka, lebih memilih kehinaan daripada kemasyhuran, lebih menyukai kesulitan daripada kenyamanan, lebih memilih kemiskinan daripada kekayaan serta puas dengan kepapaan dan pengasingan serta ketidakberdayaan daripada kawan-kawan dan kesukaan.
     Dengan mengalirkan darah, terpenggalnya kepala atau menyerahkan nyawa, mereka telah memeterai kebenaran eksistensi (keberadaan)  Tuhan. Berkat dari mengikuti firman Tuhan  mereka telah memperoleh Nur yang tidak ada padanannya pada orang lain.
    Orang-orang seperti itu tidak hanya terdapat di masa lalu karena kelompok manusia pilihan seperti itu selalu ada di dalam Islam dan mereka ini menangkal para lawan mereka dengan kecemerlangan diri mereka. Dengan demikian kami telah membuktikan secara konklusif (pasti) bahwa sebagaimana Al-Quran bisa membawa seseorang ke tingkat kesempurnaan intelektual yang tinggi, begitu jugalah dengan melaluinya seseorang akan mencapai kesempurnaan dalam perilaku.
       Nur dan tanda-tanda keridhaan Allah Swt.  telah muncul dan akan selalu terlihat pada mereka yang mengikuti firman Suci. Bagi seorang pencari kebenaran hal seperti ini menjadi bukti yang bisa dilihat dengan mata kepalanya sendiri   bahwa berkat surgawi dan tanda-tanda Ilahi hanya bisa ditemukan di antara para penganut Kitab Suci Al-Quran.”  

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar,   15 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar