Jumat, 19 Februari 2016

Hikmah Ayat "Bismillaahirrahmaannirrahiim" Dalam Surah Al-Fatihah dan di Awal Surah-surah Al-Quran Lainnya & Langkah Pertama Pengenalan "Tauhid Ilahi"



Bismillaahirrahmaanirrahiim


KITAB SUCI AL-QURAN

Kitab Suci Al-Quran adalah kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak menyadarinya

“Setiap saat hatiku merindukan untuk mencium Kitab  Engkau dan melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan Kabahku”

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


  Hikmah  Ayat Bismillāhirrahmānirrahīm Dalam Surah Al-Fatihah dan di Awal Surah-Surah Al-Quran Lainnya & Langkah Pertama Pengenalan Tauhid Ilahi

Bab 36

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan   mengenai  bungkamnya para penentang Al-Quran terhadap  tantangan  untuk membuat tandingan kesempurnaan Al-Quran, firman-Nya: قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ  -- Katakanlah: “Jika  manusia dan jin benar-benar berhimpun  untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini,  لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ     -- mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang sama seperti ini,  وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا  -- walaupun  sebagian mereka membantu sebagian yang lain” (Bani Israil [17]:89).

Khazanah Surah Al-Fatihah

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  membahas   kesempurnaan Surah Al-Fatihah, beliau bersabda:
         “Surah Al-Fatihah berbunyi sebagai berikut:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾  مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬  غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
 Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh  alam. Maha Pemurah, Maha Penyayang. Yang mempunyai Hari Pembalasan. Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan. Tuntunlah kami kepada jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang kemudian dimurkai dan bukan pula yang kemudian sesat.
     Berikut ini beberapa hikmah dan kebenaran dalam tafsir Surah ini sebagai suatu ilustrasi:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
 “Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang
merupakan ayat pertama dari Surah ini dan semua Surah lainnya di dalam Al-Quran (kecuali Surah At-Taubah)  serta disebutkan juga di beberapa tempat lain dalam Al-Quran. Ayat ini lebih sering diulang-ulang di dalam Al-Quran dibanding ayat-ayat lainnya.
      Sudah menjadi kebiasaan bagi umat Muslim untuk memulai setiap tindakan yang diharapkan akan membawa kebaikan dengan membaca ayat tersebut sebagai tanda pemberkatan dan permohonan akan pertolongan Tuhan. Karena itu ayat ini dikenal luas di antara lawan dan kawan, dan di antara yang tua dan yang muda, sehingga misalnya pun seseorang tidak mengetahui ayat-ayat lain dari Al-Quran, biasanya ia akan mengenal ayat ini.
     Salah satu kebenaran sempurna yang dikandung adalah tujuan ayat tersebut untuk mengajarkan kepada hamba-hamba Allah yang lemah dan tidak menyadari ,  bahwa terdapat banyak sekali atribut-atribut atau Sifat-sifat Tuhan yang disebut dengan nama Allah,  dimana dalam istilah Al-Quran Sifat-sifat tersebut menggambarkan komprehensifitas  (kelengkapan) segala hal yang sempurna, bebas dari segala cela dan hanya digunakan atau ditujukan bagi Tuhan Yang Maha Benar, Maha Esa, serta Sumber  semua rahmat, dimana ada dua Sifat yang disebut dalam ayat ini yaitu Rahmāniyat (Pemurah) dan Rahīmiyat (Penyayang),  mensyaratkan diturunkannya firman Tuhan serta penebaran  Nur dan berkat dari firman-firman tersebut.

Peran Sifat Rahmāniyat  Allah Swt.

     Turunnya firman suci  Allah Swt. ke dunia untuk diketahui oleh para makhluk-Nya merupakan tuntutan dari Sifat  Rahmāniyat.  Sifat Rahmāniyat  dimanifestasikan (diwujudkan) tanpa harus didahului oleh tindakan siapa pun,  karena merupakan karunia dan Sifat Maha Pemurah Allah Swt..
    Tuhan sudah menciptakan matahari, bulan, air, udara dan lain-lain demi pemeliharaan dan kelangsungan hidup makhluk-makhluk-Nya dimana semua karunia dan kemurahan hati itu berkat  Sifat Rahmāniyat.  Tidak ada seorang pun yang bisa menyatakan bahwa semua benda-benda itu tercipta sebagai imbalan dari tindakannya.
   Selain benda-benda ciptaan tersebut, firman Tuhan yang turun untuk perbaikan dan pedoman bagi umat manusia juga terjadi berkat  Sifat Rahmāniyat.  Tidak ada satu pun makhluk hidup yang akan bisa menyatakan bahwa firman Suci Tuhan yang berisi kaidah-kaidah (hukum-hukum) syariat-Nya itu diwahyukan sebagai akibat dari tindakan atau upaya atau pun sebagai imbalan dari kesalehan dirinya.
    Itulah yang menjadi sebab mengapa -- walaupun kenyataannya mungkin memang terdapat beribu-ribu orang-orang yang dianggap suci dan saleh yang menjalani hidupnya secara khusyuk penuh ibadah --  namun nyatanya firman Allah yang suci dan sempurna,  yang menyampaikan perintah-perintah-Nya kepada dunia serta  memberitahukan kepada manusia tentang maksud-Nya, hanya diwahyukan pada saat dibutuhkan saja.
   Dengan sendirinya dimaklumi bahwa firman suci Allah Swt.  hanya diwahyukan kepada orang-orang yang mempunyai derajat tinggi dalam kesucian dan kemurnian jiwanya. Hanya saja tidak berarti bahwa setiap orang yang suci dan saleh pasti akan mendapatkan wahyu firman Tuhan. Turunnya wahyu tentang kaidah (hukum) syariat yang benar dan tuntunan dari Allah Yang Maha Kuasa tergantung kepada kebutuhan pada suatu saat.
   Ketika muncul kebutuhan akan  firman Tuhan sebagai sarana perbaikan manusia pada suatu masa maka Allah Yang Maha Bijaksana akan mewahyukannya. Pada saat lainnya tidak akan diturunkan firman Tuhan yang berisi kaidah-kaidah syariat Ilahi meskipun pada saat itu katakanlah terdapat berjuta-juta orang yang saleh dan suci.

Penyebab dan Tujuan  Turunnya Wahyu Ilahi

    Memang benar bahwa Tuhan berbicara kepada beberapa orang-orang yang suci jiwanya, namun hal ini pun juga terjadi ketika menurut Kebijakan Ilahi sudah saatnya dibutuhkan adanya pembicaraan demikian. Perbedaan di antara kedua kebutuhan ialah bahwa kaidah-kaidah syariat Ilahi diwahyukan pada saat ketika manusia karena penyelewengan dan kesalahan telah melenceng jauh dari jalan yang lurus,  sehingga diperlukan adanya kaidah syariat baru guna membawa mereka kembali ke jalan yang benar.
   Turunnya firman demikian akan mengangkat penyakit ruhani mereka, mencerahkan kegelapan batin mereka dengan Nur yang sempurna dan membawa kesembuhan, serta menyediakan penawar (obat) bagi keadaan dunia yang sudah membusuk. Yang namanya pembicaraan Tuhan dengan para aulia (wali-wali) tidak harus didahului persyaratan adanya kebutuhan seperti itu. Umumnya tujuan dari komunikasi Tuhan demikian adalah untuk menanamkan keteguhan di hati mereka saat dilanda kesulitan atau guna menyampaikan kabar gembira ketika yang bersangkutan sedang ditimpa kesedihan dan kepiluan.
     Adapun firman Tuhan yang sempurna dan suci yang diturunkan kepada para nabi dan rasul akan terjadi ketika keperluan untuk itu telah mengemuka dimana umat manusia sedang amat membutuhkannya. Jadi penyebab utama dari turunnya firman Tuhan adalah kebutuhan yang semestinya.
       Saat malam sepenuhnya tersaput kegelapan yang pekat, kalian akan merasa bahwa sudah saatnya muncul bulan yang baru. Begitu juga ketika kegelapan kedurhakaan manusia sudah meruyak di muka bumi, fikiran yang waras akan memperhitungkan bahwa kemunculan bulan keruhanian sudah mendekat.
      Sama juga dengan itu ialah ketika manusia menderita kekeringan, para bijak di antara mereka akan berfikir bahwa turunnya hujan rahmat sudah dekat. Dalam hukum alam  Tuhan juga telah mengatur adanya hujan dalam masing-masing musim ketika makhluk-Nya memang sedang memerlukannya.
    Melihat hujan yang turun dalam musim-musim tersebut, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa pada saat demikian umat manusia bersangkutan sedang berkelakuan baik, sedangkan pada saat kekeringan  adalah karena mereka sedang bergelimang dosa.
   Musim-musim yang dimaksud adalah ketika para petani sedang membutuhkan hujan guna sarana pertumbuhan tanaman sepanjang tahun. Begitu juga dengan firman Tuhan yang turunnya bukan karena kesalehan atau ketakwaan seseorang tertentu. Dengan kata lain, turunnya firman tersebut bukan karena yang bersangkutan itu memang amat suci dan saleh atau sedang kehausan dan kelaparan akan kebenaran.

Makna “Malam Takdir” &  Menghidupkan Kembali  “Bumi yang Mati

    Seperti juga telah diungkapkan dalam tulisan-tulisanku sebelumnya, kausa (penyebab) utama  pewahyuan Kitab-kitab Samawi (syariat) adalah kebutuhan pada saat bersangkutan ketika kegelapan menutupi seluruh dunia dimana Allah Swt. menurunkan Nur dari langit guna mengusir kegelapan itu. Hal seperti inilah yang diindikasikan dalam ayat:
اِنَّاۤ  اَنۡزَلۡنٰہُ  فِیۡ  لَیۡلَۃِ  الۡقَدۡرِ
 “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada Malam Takdir  (Al-Qadr [97]:2).
     Malam yang dimaksud ayat ini menurut beberapa ahli tafsir adalah Malam yang Berberkat. Namun beberapa ayat lain dalam Al-Quran mengindikasikan bahwa kondisi kegelapan yang menyelimuti dunia juga disebut sebagai Malam Takdir berdasarkan sifat-sifatnya yang tersembunyi (gaib).
     Dalam keadaan kegelapan seperti itu  adanya manusia yang tulus, berhati teguh, saleh dan beribadah mempunyai nilai yang tinggi dalam pemandangan Tuhan. Adalah karena kegelapan demikian itulah yang pada saat kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw. telah mencapai puncaknya, sehingga mensyaratkan dibutuhkan turunnya Nur Akbar.   
    Melihat luasnya kegelapan seperti itu dan karena kasih-Nya kepada para makhluk-Nya maka  Sifat Rahmāniyat  Tuhan terusik untuk menurunkan berkat Samawi ke dunia. Adalah berkat kegelapan seperti itulah maka dunia jadinya menerima rahmat akbar berupa turunnya Insan Kamil (manusia sempurna) dan Penghulu semua rasul yang tidak ada tandingannya dan tidak akan pernah ada tandingannya, guna membimbing dunia sambil membawa sebuah Kitab cemerlang yang sampai sekarang tidak ada bandingannya.
    Semua itu menggambarkan manifestasi kesempurnaan ruhani  Allah Swt. dimana ketika dunia sedang diselimuti kegelapan, Dia telah menurunkan Nur Akbar yang diberi nama Furqan sebagai pembeda di antara kebenaran dan kedustaan serta menggambarkan kedatangan kebenaran dan terusirnya kedustaan.
    Kitab ini diturunkan ketika dunia secara keruhanian telah mati dan  bumi (daratan) dan lautan telah rusak. Dengan turunnya tersebut Kitab ini telah memenuhi tujuan yang dikemukakan Allah Swt.  dalam ayat:
اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا
“Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya.” (Al-Hadīd [57]:18).
Yakni karena melihat bumi sudah dalam keadaan mati maka Tuhan menghidupkannya kembali.
    Patut diingat, bahwa turunnya Kitab Suci Al-Quran guna menghidupkan kembali bumi adalah berkat terusiknya  Sifat Rahmāniyat Allah Swt.. Sifat tersebut kadang-kadang mewujud secara material dan membawa hujan rahmat turun membasahi bumi yang kering, sehingga yang menderita kekeringan dan kelaparan terselamatkan.
     Sifat tersebut kadang-kadang juga muncul secara keruhanian dan memberkati mereka yang hampir mati karena haus dan lapar akibat dari penyelewengan dan kedurhakaan serta kelangkaan kebenaran dan ketakwaan yang menjadi sumber kehidupan ruhani manusia.
     Demikian itulah Sifat Yang Maha Pemurah (Sifat Rahmāniyat),   sebagaimana Dia memberikan makanan jasmani bagi tubuh ketika diperlukan, begitu pula berkat Rahmat-Nya yang sempurna Dia memberikan makanan ruhani pada saat dibutuhkan. Memang benar jika dikatakan bahwa firman Tuhan diturunkan kepada orang-orang terpilih yang diridhai-Nya, namun tidak berarti bahwa Kitab Samawi akan diwahyukan begitu saja kepada siapa yang dikasihi Allah Swt.. Kitab Samawi hanya diwahyukan ketika kebutuhan untuk itu telah mencuat.
   Kausa (penyebab) utama dari turunnya wahyu-wahyu Ilahi adalah berkat  Sifat Rahmāniyat  Allah Yang Maha Kuasa dan bukan merupakan hasil kinerja siapa pun. Hal ini merupakan kebenaran akbar yang tidak disadari oleh para lawan kita dari kelompok Brahmo Samaj dan yang lain-lainya.

Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) Allah Swt.

     Selanjutnya patut dimengerti,  bahwa untuk seseorang dikatakan pantas menjadi penerima rahmat berupa wahyu Ilahi dimana kemudian yang bersangkutan mencapai tujuan hidupnya berkat rahmat dan Nur wahyu tersebut, semua itu dimungkinkan karena bantuan Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang)   Allah Yang Maha Kuasa,  yang merupakan kelanjutan dari  Sifat Rahmāniyat-Nya.
    Dengan demikian patut dimengerti bahwa pengaruh wahyu Ilahi yang mewujud dalam kalbu manusia itu sebenarnya bersumber pada Sifat Rahīmiyat   tersebut. Sampai seberapa jauh seseorang berpaling kepada Tuhan-nya dimana kalbunya menjadi dipenuhi ketulusan dan keimanan serta ia menganut kepatuhan kepada-Nya dengan melakukan upaya-upaya yang sepadan, maka sejauh itu juga hatinya akan dipengaruhi dan mendapat keberkatan dari wahyu Ilahi serta memperoleh tanda sebagai orang yang diridhai Allah.
Kebenaran kedua yang dikandung dalam:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
 “Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”
ialah ayat pembuka Al-Fatihah ini diturunkan sebagai awal dari Al-Quran dan tujuan pelafalannya adalah untuk memohon pertolongan dari Wujud-Nya,  salah satunya bahwa Dia itu adalah Rahmān (Maha Pemurah) yang semata-mata karena kasih-Nya yang suci akan memberikan sarana pengelolaan semua kebaikan, rahmat dan petunjuk bagi seorang pencari kebenaran.
      Sifat lainnya bahwa Dia adalah Rahīm (Maha Penyayang) yang tidak akan mensia-siakan upaya seseorang serta akan memberkatinya dengan hasil yang baik. Tanpa bantuan kedua Sifat tersebut maka tidak ada rencana --  baik yang bersifat sekuler (duniawi) maupun keagamaan -- akan dapat diselesaikan dengan sempurna. Jika direnungi maka kita akan menyadari kalau kedua Sifat ini berada dalam keadaan operasional setiap saat guna pencapaian semua tujuan manusia.
      Sifat Rahmāniyat mewujud dengan sendirinya sebelum manusia muncul di muka bumi, dan Sifat ini merupakan sumber daya bagi manusia yang tak mungkin diperolehnya dengan kekuatan sendiri. Sumber daya itu diberikan bukan karena hasil kinerja (amal) siapa pun, melainkan semata-mata merupakan rahmat Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, serta diwujudkan dalam bentuk pengutusan nabi-nabi, pewahyuan Kitab-kitab Samawi, penyediaan hujan, fungsi-fungsi matahari, rembulan, udara, awan dan lain-lain serta kemunculan manusia di muka bumi yang dilengkapi dengan berbagai macam sifat dan kemampuan agar bisa hidup sehat sentosa dengan kenyamanan.
     Semua hal seperti ini mewujud karena  Sifat Rahmāniyat Allah Swt.. Begitu pula dengan  Sifat Rahīmiyat   yang mewujud dimana setelah manusia yang telah diberi segala kemampuan lalu memanfaatkannya untuk mencapai sesuatu maka Tuhan mengatur agar usahanya itu tidak akan sia-sia dan memberkatinya dengan hasil yang baik. Adalah  Sifat Rahīmiyat   itulah yang telah menyemangati upayanya.

Makna Pentingnya Mengucapkan “Bismillāhirrahmānirrahīm

     Tujuan dari ayat pembuka tersebut adalah agar dalam usaha mempelajari Al-Quran  perlu bagi manusia untuk memohon pertolongan dan berkat dari  Sifat Rahmāniyat dan   Rahīmiyat   Allah Swt.  yang menguasai seluruh Sifat yang sempurna. Tujuan mencari keberkatan dari  Sifat Rahmāniyat ialah agar Tuhan demi Sifat Pemurah dan Penyayang-Nya berkenan memberikan semua sarana untuk melaksanakan apa yang diperintahkan wahyu Ilahi.
   Sebagai contoh, pemberian hidup, ketentraman dan kesempatan, penganugrahan fitrat, kekuatan serta penjagaan terhadap segala sesuatu yang akan mengganggu kedamaian dan kenyamanan yang akan mengurangi kekhidmatan kalbu serta diperolehnya kemampuan yang diperlukan, semua ini diperoleh manusia berkat  Sifat Rahmāniyat.
      Adapun permohonan akan keberkatan melalui Sifat  Rahīmiyat ialah agar Wujud Yang Maha Sempurna itu berkenan memberkati upaya manusia dengan hasil yang baik serta memelihara hasil kerja susah-payah seseorang dari kesia-siaan dan memberkati segala upaya dan perjuangan yang dilakukan manusia bersangkutan untuk pencapaian tujuan tersebut.
       Dengan demikian  pada awal kerja telaah firman Ilahi -- bahkan juga di awal setiap kerja akbar lainnya -- merupakan kebenaran luhur untuk memohon berkat dan pertolongan dari  Sifat Rahmāniyat dan  Rahīmiyat Allah Swt.. Melalui cara ini maka manusia akan memahami realitas Ketauhidan Ilahi dan menyadari kekurangan dirinya sendiri,  seperti kebodohan, kesalahan, kekhilafan, ketidak-berdayaan dan kerendahan akhlak yang selama ini menjadi bagian dirinya.
    Fikirannya selanjutnya akan menjurus kepada Keagungan dan Keluhuran  Maha Sumber segala rahmat. Dengan menganggap dirinya sendiri sebagai seorang yang miskin, papa dan tidak berarti apa-apa, manusia memohon berkat dari  Sifat Rahmāniyat dan  Rahīmiyat   Yang Maha Kuasa.
     Sifat-sifat Ilahi ini sebenarnya berada dalam keadaan operasional setiap saat,  namun Yang Maha Bijaksana telah menjadikannya sejak awal dunia berkembang sebagai bagian dari hukum alam,  bahwa permohonan doa dan pertolongan dari seorang manusia kepada Tuhan-nya mempunyai andil besar dalam kesuksesan usahanya. Rahmat Ilahi akan turun kepada mereka yang berdoa secara khusyuk guna memecahkan segala kesulitan yang mereka hadapi dalam usaha dan upaya mereka.

Pentingnya Menciptakan Kondisi “Kehambaan

   Manusia yang menganggap dirinya sebagai seorang yang lemah dan menyadari segala kekurangan pada dirinya tidak akan memulai usaha apa pun dengan fikiran bebas dan penuh keyakinan diri, karena kondisi kehambaan dirinya akan memaksanya untuk memohon pertolongan Allah Yang Maha Kuasa yang menjadi Maha Pengendali. Hasrat menghambakan diri tersebut selalu terdapat di dalam kalbu mereka yang rendah hati dan menyadari kekurangan diri.
     Seorang tulus yang hatinya tidak dinodai oleh keangkuhan atau kesombongan serta menyadari kekurangan dan ketidak-berdayaan dirinya, menganggap dirinya tidak mampu mencapai keberhasilan dalam mengerjakan segala sesuatu dengan prakarsanya sendiri serta merasa dirinya sama sekali tidak memiliki kekuatan atau kekuasaan, secara naluriah akan memohonkan kekuatan Samawi.
   Ia menyaksikan setiap saat Wujud Yang Maha Perkasa dalam segala Kesempurnaan dan Keagungan-Nya dan ia menganggap bahwa keberhasilan usaha apa pun tergantung kepada  Sifat Rahmāniyat dan  Rahīmiyat Ilahi, maka sebelum ia memulai usahanya yang tidak berharga dan tidak ada artinya itu, ia akan memohonkan pertolongan Ilahi dengan mengucapkan:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
 “Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”
    Dengan segala kerendahan hati demikian maka ia menjadi berhak untuk memperoleh sedikit kekuasaan dari kekuasaan Allah Swt., sekelumit kekuatan dari kekuatan-Nya, secercah pengetahuan dari pengetahuan milik-Nya serta keberhasilan dalam filosofi, karena batin setiap manusia memiliki kapasitas untuk menyadarinya, dimana pengalaman-pengalaman pribadi dari orang-orang bijak menjadi saksi akan kebenarannya.
      Tidak ada yang bersifat artifisial (dibuat-buat) dari seorang makhluk yang memohonkan pertolongan dari Allah Swt.,  bukan juga merupakan hasil pemikiran iseng-iseng atau pun sesuatu yang tidak berharga.  Kebenaran ini sudah ditegakkan Allah Swt.  sebagai bagian utama yang menyangga alam dan atas dasar kekuatan Sifat-sifat inilah maka bahtera alam ini melaju.

Langkah Pertama Pengenalan Tauhid Ilahi

    Dia memberikan bantuan kepada mereka yang menganggap diri mereka rendah dan hina yang telah memohon kepada-Nya dan memulai usaha mereka dengan nama-Nya. Jika mereka berpaling kepada Tuhan mereka dengan segala kerendahan hati dan perhambaan maka mereka akan dibantu melalui pertolongan-Nya.
      Mencari berkat pertolongan dari Nama Sang Maha Sumber Segala Rahmat yang adalah Rahmān (Maha Pemurah) dan Rahīm (Maha Penyayang)  sebelum memulai usaha apa pun yang bermanfaat, adalah cara memperlihatkan penghormatan dan perhambaan yang dilambari dengan perasaan ketidak-berdayaan dan kepapaan.
  Hal ini menjadi langkah pertama yang mengarah kepada pengenalan Ketauhidan Ilahi dalam setiap tindakan seseorang. Dengan cara ini maka seseorang sepertinya menerapkan kerendahan hati seorang anak kecil dimana batinnya disucikan dari keangkuhan yang memenuhi hati orang-orang sombong di dunia ini.
       Saat menyadari kelemahan dirinya dan efektivitas  pertolongan Ilahi, ia akan memasuki lingkungan orang-orang yang memiliki pemahaman khusus sebagai hamba-hamba Allah. Tidak diragukan lagi bahwa   setakat manusia mengikuti jalan tersebut dan menjadikan sebagai kewajiban bagi dirinya untuk mematuhinya -- disamping merasa akan dirugikan jika meninggalkannya --  maka setakat itu juga keimanannya pada Ketauhidan Ilahi menjadi mantap, dan setakat   itu juga kalbunya akan dibersihkan dari keangkuhan dan rasa diri penting. Setakat   itu pula kegelapan kepalsuan akan terkikis dari penampilan dirinya dan sinar ketulusan akan memancar dari wajahnya.
    Semua itu merupakan kebenaran yang secara berangsur akan menuntun manusia ke tingkatan dimana ia memfanakan (melarutkan) dirinya kepada Tuhan-nya ketika   ia menganggap bahwa semuanya itu datang dari Allah Swt. dan tidak ada yang berasal dari dirinya sendiri. Manakala seseorang mengikuti jalan ini maka keharuman dari Ketauhidan Ilahi akan turun di atas dirinya sehingga kalbu dan fikirannya menjadi harum karenanya.    
    Dalam mengadaptasi kebenaran tersebut, seorang pencari kebenaran akan menyatakan dirinya tidak berarti apa-apa sama sekali,  dan mengakui bahwa hanya Allah Yang Maha Luhur saja yang menjadi Sang Maha Pengendali dan Mata Air Rahmat. Kedua persyaratan tersebut menjadi tujuan akhir dari para pencari kebenaran dan merupakan persyaratan guna mencapai tingkatan fana (larut) dalam Wujud-Nya.

Kelemahan Keadaan Para Filosof 

      Sesungguhnya hanya mereka yang mencari yang akan menemukan dan hanya mereka yang memohon yang akan diberi karunia. Mereka yang pada awal dari suatu usaha hanya mengandalkan keterampilan, intelegensia atau kekuatan serta tidak meyakini Allah Yang Maha Kuasa, sesungguhnya tidak menyadari sepenuhnya Sang Maha Perkasa Yang merangkum pemeliharaan seluruh alam ini (Rabb al-‘ālamīn) dalam Wujud-Nya. Keimanan mereka itu laiknya ranting kering yang tidak lagi mempunyai hubungan dengan batang induknya yang hijau dan segar, sehingga juga tidak menikmati kesegaran buah dan bunganya.
   Kelihatannya ia seperti memiliki hubungan dengan pohon induk, namun kedudukannya sangat rapuh dan mudah digoyang oleh angin yang paling halus sekali pun atau diguncang oleh seseorang. Demikian itulah keimanan para filosof kering yang tidak menyandarkan diri mereka kepada Sang Pemelihara Alam Semesta (Rabb al-‘ālamīn) dan tidak mengakui ketergantungan mereka kepada Allah sebagai Sumber segala rahmat.
   Mereka ini berada jauh dari pengakuan Ketauhidan Ilahi sejauh jarak kegelapan dari keadaan terang. Mereka tidak memahami bahwa merendahkan diri mereka kepada kekuatan akbar Sang Maha Kuasa dengan mengakui ketidak-berdayaan dirinya  adalah tingkatan terakhir perhambaan dan menjadi titik terjauh pencapaian pengertian Ketauhidan Ilahi. Kondisi demikian akan memfanakan (melarutkan) dirinya secara total sehingga ia kehilangan ego (keakuan) dan prakarsa diri serta sepenuhnya beriman pada pengendalian Tuhan secara menyeluruh.
   Jangan kalian dengar argumentasi para filosof tersebut yang menyatakan bahwa kita tidak perlu lagi memohon pertolongan Ilahi ketika memulai suatu pekerjaan karena katanya Tuhan sudah membekali fitrat kita dengan kekuatan yang cukup,  sehingga dirasa berlebihan untuk memohon lagi kepada-Nya kekuatan demikian.

Tidak Cukup Mengandalkan Fitrat

      Memang benar bahwa Allah Swt  telah membekali fitrat kita dengan kekuatan untuk melakukan beberapa tindakan, namun ini tidak berarti bahwa kita bebas dari pengaturan Sang Pemelihara Alam (Rabb al-‘ālamīn), atau bahwa Dia telah menjauhkan Diri-Nya dari kita dan telah menarik bantuan-Nya kepada kita serta mengasingkan kita dari Rahmat-Nya yang tanpa batas.
     Apa pun yang telah dikaruniakan kepada kita sesungguhnya bersifat terbatas sedangkan apa yang kita minta dari Wujud-Nya adalah sesuatu yang tidak ada batasnya. Lagi pula kita ini tidak ada diberikan kekuatan untuk menyelesaikan hal-hal yang berada di luar kemampuan kita.
     Bila direnungi lebih mendalam, kita akan menyadari bahwa sesungguhnya kita tidak diberikan kekuasaan yang bersifat sepenuhnya sempurna. Sebagai contoh, kekuatan fisik kita sangat tergantung pada kesehatan kita dan kesehatan ini bergantung pula pada beberapa kausa (penyebab), baik yang bersifat Samawi atau pun duniawi, yang semuanya berada di luar jangkauan kemampuan kita.
     Sesungguhnya, Sang Pemelihara Alam (Rabb al-‘ālamīn) karena Sifat-Nya sebagai Penyebab dari segala sebab atau Kausa (Penyebab) Akbar dari segala kausa (sebab), memahami sepenuhnya kondisi eksternal dan internal diri kita, awal dan akhir kita, atas dan bawah, kiri dan kanan, hati dan jiwa, serta seluruh fitrat jiwa kita, bahwa sesungguhnya hal itu merupakan masalah yang amat rumit yang berada di luar jangkauan kemampuan akal manusia.
   Tidak perlu rasanya mendalami lebih lanjut karena apa yang sudah kami kemukakan ini cukup untuk menolak keberatan dari para lawan kita. Satu-satunya cara untuk mendapatkan rahmat Sang Pemelihara Alam (Rabb al-‘ālamīn) adalah dengan menyungkurkan diri bersujud dengan segala fitrat, kekuasaan dan kekuatan yang kita miliki. Hal ini bukanlah suatu hal yang baru karena sudah inheren (melekat) dalam fitrat manusia sejak awalnya.
       Seseorang yang berhasrat menelusuri jalan pengabdian akan mengikuti cara ini, sebagaimana juga dengan orang yang mencari rahmat Tuhan-nya, atau pun mereka yang mengharapkan pengampunan Ilahi akan mematuhi kaidah hukum abadi ini. Kaidah-kaidah ini bukanlah suatu ciptaan baru sebagaimana halnya sosok yang dipertuhan umat Kristiani, melainkan kaidah-kaidah tetap yang bersifat abadi dan merupakan kebiasaan (Sunnah) Allah Swt.  yang telah berlaku sepanjang waktu,  yang  kebenarannya nyata bagi seorang pencari kebenaran yang tulus melalui berbagai ragam pengalaman dirinya.
       Setiap rahmat akan mewujud dengan cara dimana Sang Wujud Yang adalah Maha Pengendali (Rabb) serta menjadi Kausa (Sebab) dari segala kausa dan Sumber dari segala keberkatan -- yang namanya dalam istilah Al-Quran adalah ALLAH – mula-mula akan memperlihatkan  Sifat Rahmāniyat-Nya dengan menciptakan segala apa yang diperlukan, tanpa campur tangan siapa pun, semata-mata karena Sifat Pemurah dan Penyayang-Nya.
    Ketika  Sifat Rahmāniyat telah sempurna berfungsi dan manusia yang telah dikaruniai kekuatan menggunakannya sepenuh kemampuan maka saatnya bagi Allah Yang Maha Agung untuk memperlihatkan Sifat Rahīmiyat dengan cara memberikan ganjaran atas segala upaya dan ketekunan hamba-Nya serta memelihara hasil kerjanya dari segala kesia-siaan.
   Berkaitan dengan Sifat yang kedua inilah dikatakan bahwa mereka yang mencari akan menemukan, mereka yang meminta akan diberi, dan barangsiapa yang mengetuk akan dibukakan pintu.

Hikmah Imbauan Untuk Berdoa Kepada Allah Swt.

   Ada yang salah mengartikan dan menganggap bahwa usaha memohon pertolongan itu tidak ada gunanya dan bahwa  Sifat Rahmāniyat dan  Rahīmiyat Tuhan tidak dimanifestasikan (diwujudkan) setiap saat. Sesungguhnya Allah Yang Maha Kuasa mendengar permohonan yang dilakukan dengan penuh ketulusan dan membantu mereka yang memohon pertolongan-Nya secara pantas.
    Kadang-kadang yang terjadi adalah permohonan seseorang tidak dilakukan secara tulus dan merendahkan diri, begitu pula kondisi keruhaniannya sedang dalam keadaan tidak seimbang, sehingga meski bibirnya mengucapkan doa tetapi hatinya tidak sejalan  atau memang hanya untuk dilihat orang lain.
    Kadang-kadang pula Tuhan sudah mendengar permohonan manusia dan mengaruniakan kepadanya apa yang menurut Kebijakan-Nya adalah yang terbaik baginya, hanya saja seorang yang bodoh tidak mengenali rahmat Tuhan yang tersembunyi. Karena kebodohan dan ketidak-sadarannya tersebut maka ia mengeluh dan mengabaikan petunjuk yang diungkapkan oleh ayat:
عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ لَّکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ  وَ اَنۡتُمۡ  لَا تَعۡلَمُوۡنَ  
“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal hal itu baik bagimu dan boleh jadi juga kamu menyukai sesuatu padahal hal itu buruk bagimu. Dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui (Al-Baqarah [2]:217).
Sejauh ini sudah jelas makna dari ayat:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
 “Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”
yang mencakup kebenaran akbar tentang cara-cara terbaik mencapai kemajuan keimanan dalam Ketauhidan Ilahi dan dalam pengabdian dan ketulusan, dimana semua itu tidak akan bisa ditemui dalam Kitab-kitab Samawi lainnya. Jika ada yang menganggap bahwa ada padanannya di tempat lain, silakan yang bersangkutan mengajukannya bersama dengan kebenaran-kebenaran lain sebagaimana yang akan kami kemukakan berikut ini.
      Beberapa lawan Islam yang berpandangan cupat pernah mengajukan kritik atas komposisi ayat tersebut. Salah seorang di antaranya adalah Pendeta Imaduddin yang mengemukakan pendapatnya dalam buku karangannya Hidayatul Muslimin. Yang lainnya adalah Bawa Narayan Singh, seorang pengacara dari Amritsar, yang menganggap pandangan pendeta di atas sebagai suatu yang bermutu, dan karena rasa permusuhannya lalu mengulang isinya dalam harian miliknya Vidya Parkashak.

Hikmah Urutan Posisi Kata Rahmān dan Rahīm

     Kami akan menjawab kritik mereka itu sehingga setiap orang yang jujur akan menyadari seberapa jauh kebutaan karena fanatisme telah mendorong para lawan kita untuk melihat apa yang sebenarnya Nur cemerlang di mata mereka terlihat sebagai kegelapan dan parfum yang harum tercium busuk di hidung mereka.
   Kritik mereka menyatakan bahwa urutan Rahmān dan Rahīm dalam ayat pembuka tersebut tidak tepat adanya, karena menurut mereka urutan seharusnya adalah  Rahīm dan  Rahmān. Dalam pandangan mereka, Sifat  Rahmān menggambarkan rahmat Ilahi yang bersifat umum dan komprehensif,  sedangkan Sifat Rahīm sebagai rahmat Ilahi yang terbatas dan khusus. Menurut mereka, ketentuan komposisi mengharuskan bahwa apa yang sifatnya terbatas harus mendahului apa yang bersifat umum dan tidak terbatas, bukan sebaliknya.
    Inilah kritik yang diajukan oleh kedua orang tersebut sambil menutup mata mereka terhadap teks  (ayat) yang keagungannya telah diakui oleh semua orang terpelajar di bidang bahasa Arab, walaupun mereka sendiri adalah musuh-musuh Islam dan bahkan di antara mereka juga terdapat para penyair akbar. Para lawan Islam sangat terkagum dengan komposisi teks ayat pembuka tersebut.
      Banyak dari antara mereka itu sangat menguasai ilmu komposisi dan mereka menemukan bahwa komposisi Al-Quran berada di luar kemampuan manusia untuk membuatnya, sehingga menganggapnya sebagai suatu mukjizat dan atas dasar itu mereka kemudian beriman.
      Adapun pendeta Kristiani tersebut rupanya tidak menyadari bahwa kefasihan suatu komposisi tidak mengharuskan apa yang lebih kecil disebutkan di muka sebelum sesuatu yang lebih besar, serta melupakan bahwa ayat yang benar seharusnya merupakan cerminan dari realitas (kenyataan).  Dalam ayat ini dimana  Rahmān mendahului  Rahīm telah menjadikan ayat tersebut sebagai cermin realitas sesungguhnya.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  414-435, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,   14 Februari 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar