Bismillaahirrahmaanirrahiim
KITAB SUCI AL-QURAN
“Kitab Suci Al-Quran
adalah kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak
menyadarinya ”
“Setiap saat hatiku
merindukan untuk mencium Kitab Engkau
dan melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan Kabahku”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)
Hikmah Ayat Bismillāhirrahmānirrahīm
Dalam Surah Al-Fatihah dan di Awal Surah-Surah Al-Quran Lainnya &
Langkah Pertama Pengenalan Tauhid Ilahi
Bab 36
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam Bab sebelumnya telah
dijelaskan mengenai bungkamnya
para penentang Al-Quran terhadap tantangan untuk membuat tandingan kesempurnaan Al-Quran, firman-Nya: قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ
الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ -- Katakanlah: “Jika manusia
dan jin benar-benar berhimpun untuk mendatangkan
yang semisal Al-Quran ini, لَا یَاۡتُوۡنَ
بِمِثۡلِہٖ -- mereka tidak akan sanggup mendatangkan
yang sama seperti ini, وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ ظَہِیۡرًا
-- walaupun sebagian mereka membantu sebagian
yang lain” (Bani Israil [17]:89).
Khazanah Surah Al-Fatihah
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. membahas kesempurnaan Surah Al-Fatihah, beliau bersabda:
“Surah Al-Fatihah berbunyi sebagai
berikut:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ
ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ
الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ
وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ
الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ
الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا
الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah,
Tuhan seluruh alam. Maha Pemurah, Maha
Penyayang. Yang mempunyai Hari Pembalasan. Hanya Engkau-lah Yang kami sembah
dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan. Tuntunlah kami kepada jalan
yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka
yang kemudian dimurkai dan bukan pula yang kemudian sesat.
Berikut ini beberapa hikmah dan kebenaran dalam tafsir Surah ini sebagai suatu ilustrasi:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
“Dengan nama Allah,
Maha Pemurah, Maha Penyayang”
merupakan ayat pertama dari Surah ini
dan semua Surah lainnya di dalam Al-Quran (kecuali Surah At-Taubah) serta disebutkan juga di beberapa tempat lain
dalam Al-Quran. Ayat ini lebih sering diulang-ulang di dalam Al-Quran dibanding
ayat-ayat lainnya.
Sudah menjadi kebiasaan bagi umat Muslim
untuk memulai setiap tindakan yang
diharapkan akan membawa kebaikan
dengan membaca ayat tersebut sebagai
tanda pemberkatan dan permohonan
akan pertolongan Tuhan. Karena itu ayat ini dikenal luas di antara lawan
dan kawan, dan di antara yang tua dan yang muda, sehingga misalnya pun
seseorang tidak mengetahui ayat-ayat lain dari Al-Quran, biasanya ia akan
mengenal ayat ini.
Salah satu kebenaran sempurna yang dikandung adalah tujuan ayat tersebut untuk mengajarkan kepada hamba-hamba Allah yang lemah
dan tidak menyadari , bahwa terdapat banyak sekali atribut-atribut atau Sifat-sifat Tuhan yang disebut dengan
nama Allah, dimana dalam istilah Al-Quran Sifat-sifat tersebut menggambarkan komprehensifitas (kelengkapan) segala hal yang sempurna, bebas dari segala cela dan hanya digunakan atau ditujukan bagi Tuhan Yang Maha Benar, Maha Esa, serta Sumber semua rahmat, dimana ada dua Sifat yang disebut dalam ayat ini yaitu
Rahmāniyat (Pemurah) dan Rahīmiyat (Penyayang), mensyaratkan diturunkannya firman Tuhan serta penebaran Nur dan berkat dari firman-firman tersebut.
Peran Sifat Rahmāniyat Allah Swt.
Turunnya firman suci Allah Swt. ke dunia untuk diketahui
oleh para makhluk-Nya merupakan tuntutan
dari Sifat Rahmāniyat. Sifat Rahmāniyat dimanifestasikan
(diwujudkan) tanpa harus didahului oleh tindakan
siapa pun, karena merupakan karunia dan Sifat Maha Pemurah Allah Swt..
Tuhan sudah menciptakan matahari, bulan, air, udara dan lain-lain demi pemeliharaan dan kelangsungan hidup makhluk-makhluk-Nya dimana semua karunia dan kemurahan hati itu berkat Sifat Rahmāniyat. Tidak ada seorang pun yang bisa menyatakan
bahwa semua benda-benda itu tercipta
sebagai imbalan dari tindakannya.
Selain benda-benda ciptaan
tersebut, firman Tuhan yang turun
untuk perbaikan dan pedoman bagi umat manusia juga terjadi
berkat Sifat Rahmāniyat. Tidak ada
satu pun makhluk hidup yang akan
bisa menyatakan bahwa firman Suci Tuhan
yang berisi kaidah-kaidah
(hukum-hukum) syariat-Nya itu diwahyukan sebagai akibat dari tindakan atau upaya atau pun sebagai imbalan
dari kesalehan dirinya.
Itulah yang menjadi sebab mengapa -- walaupun kenyataannya
mungkin memang terdapat beribu-ribu
orang-orang yang dianggap suci
dan saleh yang menjalani hidupnya
secara khusyuk penuh ibadah -- namun nyatanya firman Allah yang suci
dan sempurna, yang menyampaikan perintah-perintah-Nya kepada dunia serta memberitahukan
kepada manusia tentang maksud-Nya,
hanya diwahyukan pada saat dibutuhkan saja.
Dengan sendirinya dimaklumi bahwa firman
suci Allah Swt. hanya diwahyukan kepada orang-orang yang mempunyai derajat
tinggi dalam kesucian dan kemurnian jiwanya. Hanya saja tidak berarti bahwa setiap orang yang suci dan saleh pasti akan mendapatkan wahyu
firman Tuhan. Turunnya wahyu tentang
kaidah (hukum) syariat yang benar dan tuntunan
dari Allah Yang Maha Kuasa tergantung
kepada kebutuhan pada suatu saat.
Ketika muncul kebutuhan
akan firman Tuhan sebagai sarana perbaikan
manusia pada suatu masa maka Allah Yang
Maha Bijaksana akan mewahyukannya.
Pada saat lainnya tidak akan diturunkan firman
Tuhan yang berisi kaidah-kaidah syariat
Ilahi meskipun pada saat itu katakanlah terdapat berjuta-juta orang yang saleh
dan suci.
Penyebab dan Tujuan Turunnya Wahyu
Ilahi
Memang benar bahwa Tuhan
berbicara kepada beberapa
orang-orang yang suci jiwanya,
namun hal ini pun juga terjadi ketika menurut Kebijakan Ilahi sudah saatnya dibutuhkan
adanya pembicaraan demikian.
Perbedaan di antara kedua kebutuhan
ialah bahwa kaidah-kaidah syariat Ilahi
diwahyukan pada saat ketika manusia
karena penyelewengan dan kesalahan telah melenceng jauh dari jalan yang lurus, sehingga diperlukan adanya kaidah syariat baru guna membawa mereka
kembali ke jalan yang benar.
Turunnya firman demikian akan
mengangkat penyakit ruhani mereka, mencerahkan
kegelapan batin mereka dengan Nur
yang sempurna dan membawa kesembuhan,
serta menyediakan penawar (obat)
bagi keadaan dunia yang sudah membusuk. Yang namanya pembicaraan Tuhan dengan para aulia (wali-wali) tidak harus didahului
persyaratan adanya kebutuhan seperti itu. Umumnya tujuan dari komunikasi Tuhan demikian adalah untuk menanamkan keteguhan di hati mereka saat dilanda kesulitan atau
guna menyampaikan kabar gembira
ketika yang bersangkutan sedang ditimpa kesedihan
dan kepiluan.
Adapun firman Tuhan yang sempurna
dan suci yang diturunkan kepada para
nabi dan rasul akan terjadi ketika keperluan
untuk itu telah mengemuka dimana umat manusia sedang amat membutuhkannya. Jadi penyebab
utama dari turunnya firman Tuhan
adalah kebutuhan yang semestinya.
Saat malam sepenuhnya
tersaput kegelapan yang pekat,
kalian akan merasa bahwa sudah saatnya muncul bulan yang baru. Begitu juga ketika kegelapan kedurhakaan manusia sudah meruyak di muka bumi, fikiran yang waras akan memperhitungkan bahwa
kemunculan bulan keruhanian sudah
mendekat.
Sama juga dengan itu ialah ketika manusia menderita kekeringan, para bijak
di antara mereka akan berfikir bahwa
turunnya hujan rahmat sudah dekat.
Dalam hukum alam Tuhan juga telah mengatur adanya hujan dalam masing-masing musim ketika makhluk-Nya memang sedang memerlukannya.
Melihat hujan
yang turun dalam musim-musim
tersebut, kita tidak bisa langsung menyimpulkan
bahwa pada saat demikian umat manusia
bersangkutan sedang berkelakuan baik,
sedangkan pada saat kekeringan adalah karena mereka sedang bergelimang dosa.
Musim-musim yang dimaksud
adalah ketika para petani sedang membutuhkan hujan guna sarana pertumbuhan
tanaman sepanjang tahun. Begitu juga dengan firman Tuhan yang turunnya bukan karena kesalehan atau ketakwaan
seseorang tertentu. Dengan kata lain, turunnya
firman tersebut bukan karena yang bersangkutan
itu memang amat suci dan saleh atau sedang kehausan dan kelaparan
akan kebenaran.
Makna “Malam Takdir” & Menghidupkan Kembali “Bumi
yang Mati”
Seperti juga telah diungkapkan dalam tulisan-tulisanku sebelumnya, kausa (penyebab) utama pewahyuan
Kitab-kitab Samawi (syariat) adalah kebutuhan
pada saat bersangkutan ketika kegelapan
menutupi seluruh dunia dimana
Allah Swt. menurunkan Nur dari langit guna mengusir kegelapan itu. Hal seperti inilah yang
diindikasikan dalam ayat:
اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰہُ
فِیۡ لَیۡلَۃِ الۡقَدۡرِ
“Sesungguhnya
Kami menurunkannya pada Malam Takdir”
(Al-Qadr [97]:2).
Malam yang dimaksud ayat ini
menurut beberapa ahli tafsir adalah Malam
yang Berberkat. Namun beberapa ayat
lain dalam Al-Quran mengindikasikan bahwa kondisi
kegelapan yang menyelimuti dunia
juga disebut sebagai Malam Takdir
berdasarkan sifat-sifatnya yang tersembunyi (gaib).
Dalam keadaan kegelapan
seperti itu adanya manusia yang tulus,
berhati teguh, saleh dan beribadah
mempunyai nilai yang tinggi dalam pemandangan Tuhan. Adalah karena kegelapan demikian itulah yang pada
saat kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw.
telah mencapai puncaknya, sehingga
mensyaratkan dibutuhkan turunnya Nur
Akbar.
Melihat luasnya kegelapan
seperti itu dan karena kasih-Nya
kepada para makhluk-Nya maka Sifat
Rahmāniyat Tuhan terusik untuk
menurunkan berkat Samawi ke dunia.
Adalah berkat kegelapan seperti
itulah maka dunia jadinya menerima rahmat akbar berupa turunnya Insan Kamil (manusia sempurna) dan Penghulu semua rasul yang tidak ada tandingannya
dan tidak akan pernah ada tandingannya,
guna membimbing dunia sambil membawa
sebuah Kitab cemerlang yang sampai
sekarang tidak ada bandingannya.
Semua itu menggambarkan manifestasi
kesempurnaan ruhani Allah Swt.
dimana ketika dunia sedang
diselimuti kegelapan, Dia telah
menurunkan Nur Akbar yang diberi
nama Furqan sebagai pembeda di antara kebenaran dan kedustaan
serta menggambarkan kedatangan kebenaran dan terusirnya kedustaan.
Kitab ini diturunkan ketika dunia secara keruhanian telah mati
dan bumi
(daratan) dan lautan telah rusak. Dengan turunnya tersebut Kitab ini telah memenuhi tujuan yang dikemukakan Allah Swt. dalam ayat:
اِعۡلَمُوۡۤا
اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا
“Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya.” (Al-Hadīd [57]:18).
Yakni karena melihat bumi sudah dalam keadaan mati maka Tuhan menghidupkannya kembali.
Patut diingat, bahwa turunnya Kitab
Suci Al-Quran guna menghidupkan
kembali bumi adalah berkat terusiknya
Sifat Rahmāniyat Allah Swt.. Sifat
tersebut kadang-kadang mewujud secara material
dan membawa hujan rahmat turun membasahi bumi yang kering, sehingga
yang menderita kekeringan dan kelaparan terselamatkan.
Sifat tersebut kadang-kadang
juga muncul secara keruhanian dan memberkati mereka yang hampir mati karena haus dan lapar akibat
dari penyelewengan dan kedurhakaan serta kelangkaan kebenaran dan ketakwaan
yang menjadi sumber kehidupan ruhani
manusia.
Demikian itulah Sifat Yang Maha Pemurah (Sifat Rahmāniyat), sebagaimana Dia memberikan makanan jasmani bagi tubuh ketika diperlukan, begitu pula berkat Rahmat-Nya yang sempurna Dia memberikan makanan
ruhani pada saat dibutuhkan.
Memang benar jika dikatakan bahwa firman
Tuhan diturunkan kepada orang-orang
terpilih yang diridhai-Nya,
namun tidak berarti bahwa Kitab Samawi
akan diwahyukan begitu saja kepada siapa yang dikasihi Allah Swt.. Kitab
Samawi hanya diwahyukan ketika kebutuhan untuk itu telah mencuat.
Kausa (penyebab) utama dari turunnya wahyu-wahyu Ilahi adalah berkat Sifat
Rahmāniyat Allah Yang Maha Kuasa dan bukan merupakan hasil kinerja siapa pun. Hal ini
merupakan kebenaran akbar yang tidak
disadari oleh para lawan kita dari kelompok Brahmo Samaj dan yang lain-lainya.
Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) Allah Swt.
Selanjutnya patut dimengerti,
bahwa untuk seseorang
dikatakan pantas menjadi penerima rahmat
berupa wahyu Ilahi dimana kemudian
yang bersangkutan mencapai tujuan
hidupnya berkat rahmat dan Nur wahyu tersebut, semua itu dimungkinkan karena bantuan Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) Allah Yang Maha Kuasa, yang merupakan kelanjutan dari Sifat Rahmāniyat-Nya.
Dengan demikian patut dimengerti bahwa pengaruh wahyu Ilahi
yang mewujud dalam kalbu manusia itu sebenarnya bersumber
pada Sifat Rahīmiyat tersebut. Sampai seberapa jauh seseorang berpaling kepada Tuhan-nya dimana kalbunya
menjadi dipenuhi ketulusan dan keimanan serta ia menganut kepatuhan kepada-Nya dengan melakukan upaya-upaya yang sepadan, maka sejauh
itu juga hatinya akan dipengaruhi dan mendapat keberkatan dari wahyu
Ilahi serta memperoleh tanda
sebagai orang yang diridhai Allah.
Kebenaran kedua yang dikandung dalam:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”
ialah ayat pembuka Al-Fatihah ini diturunkan sebagai awal dari Al-Quran dan
tujuan pelafalannya adalah untuk
memohon pertolongan dari Wujud-Nya, salah satunya bahwa Dia itu adalah Rahmān
(Maha Pemurah) yang semata-mata karena kasih-Nya
yang suci akan memberikan sarana pengelolaan
semua kebaikan, rahmat dan petunjuk bagi
seorang pencari kebenaran.
Sifat lainnya bahwa Dia adalah Rahīm
(Maha Penyayang) yang tidak akan
mensia-siakan upaya seseorang serta akan memberkatinya dengan hasil
yang baik. Tanpa bantuan kedua Sifat tersebut maka tidak ada rencana -- baik yang bersifat sekuler (duniawi) maupun keagamaan
-- akan dapat diselesaikan dengan sempurna. Jika direnungi maka kita akan
menyadari kalau kedua Sifat ini
berada dalam keadaan operasional
setiap saat guna pencapaian semua tujuan
manusia.
Sifat Rahmāniyat mewujud
dengan sendirinya sebelum manusia muncul
di muka bumi, dan Sifat ini
merupakan sumber daya bagi manusia
yang tak mungkin diperolehnya dengan
kekuatan sendiri. Sumber daya itu
diberikan bukan karena hasil kinerja
(amal) siapa pun, melainkan semata-mata merupakan rahmat Yang Maha Pemurah dan Maha
Penyayang, serta diwujudkan
dalam bentuk pengutusan nabi-nabi, pewahyuan Kitab-kitab Samawi,
penyediaan hujan, fungsi-fungsi matahari, rembulan, udara, awan dan lain-lain serta kemunculan manusia di muka bumi yang dilengkapi dengan berbagai macam sifat dan kemampuan agar bisa hidup
sehat sentosa dengan kenyamanan.
Semua hal seperti ini mewujud karena
Sifat Rahmāniyat Allah Swt..
Begitu pula dengan Sifat Rahīmiyat yang mewujud dimana setelah manusia yang
telah diberi segala kemampuan lalu memanfaatkannya untuk mencapai sesuatu maka Tuhan mengatur agar usahanya itu tidak akan sia-sia dan memberkatinya
dengan hasil yang baik. Adalah Sifat
Rahīmiyat itulah yang telah
menyemangati upayanya.
Makna Pentingnya Mengucapkan “Bismillāhirrahmānirrahīm”
Tujuan dari ayat pembuka
tersebut adalah agar dalam usaha mempelajari
Al-Quran perlu bagi manusia untuk memohon pertolongan dan berkat dari Sifat Rahmāniyat
dan Rahīmiyat Allah Swt. yang menguasai seluruh Sifat yang sempurna.
Tujuan mencari keberkatan dari Sifat Rahmāniyat ialah agar Tuhan demi Sifat Pemurah dan Penyayang-Nya
berkenan memberikan semua sarana
untuk melaksanakan apa yang diperintahkan
wahyu Ilahi.
Sebagai contoh, pemberian
hidup, ketentraman dan kesempatan, penganugrahan
fitrat, kekuatan serta penjagaan terhadap
segala sesuatu yang akan mengganggu
kedamaian dan kenyamanan yang
akan mengurangi kekhidmatan kalbu
serta diperolehnya kemampuan yang
diperlukan, semua ini diperoleh manusia berkat
Sifat Rahmāniyat.
Adapun permohonan akan keberkatan melalui Sifat Rahīmiyat ialah agar Wujud Yang Maha Sempurna itu berkenan memberkati upaya manusia dengan hasil yang baik serta memelihara hasil kerja susah-payah
seseorang dari kesia-siaan dan memberkati segala upaya dan perjuangan
yang dilakukan manusia bersangkutan untuk pencapaian
tujuan tersebut.
Dengan demikian pada awal
kerja telaah firman Ilahi --
bahkan juga di awal setiap kerja akbar
lainnya -- merupakan kebenaran luhur
untuk memohon berkat dan pertolongan dari Sifat
Rahmāniyat dan Rahīmiyat Allah Swt.. Melalui cara
ini maka manusia akan memahami realitas Ketauhidan Ilahi dan menyadari kekurangan dirinya sendiri, seperti kebodohan, kesalahan, kekhilafan,
ketidak-berdayaan dan kerendahan akhlak yang selama ini menjadi bagian dirinya.
Fikirannya selanjutnya akan menjurus kepada Keagungan dan Keluhuran Maha
Sumber segala rahmat. Dengan menganggap dirinya sendiri sebagai seorang
yang miskin, papa dan tidak berarti
apa-apa, manusia memohon berkat
dari Sifat Rahmāniyat dan Rahīmiyat Yang Maha
Kuasa.
Sifat-sifat Ilahi ini
sebenarnya berada dalam keadaan operasional
setiap saat, namun Yang Maha Bijaksana telah menjadikannya sejak awal dunia berkembang sebagai bagian
dari hukum alam, bahwa permohonan
doa dan pertolongan dari seorang
manusia kepada Tuhan-nya mempunyai andil
besar dalam kesuksesan usahanya.
Rahmat Ilahi akan turun kepada
mereka yang berdoa secara khusyuk guna memecahkan segala kesulitan yang mereka hadapi dalam usaha dan upaya mereka.
Pentingnya Menciptakan Kondisi “Kehambaan”
Manusia yang menganggap dirinya sebagai seorang yang lemah dan menyadari
segala kekurangan pada dirinya tidak
akan memulai usaha apa pun dengan fikiran bebas dan penuh keyakinan diri, karena kondisi kehambaan dirinya akan
memaksanya untuk memohon pertolongan Allah
Yang Maha Kuasa yang menjadi Maha Pengendali. Hasrat menghambakan diri tersebut selalu
terdapat di dalam kalbu mereka yang rendah hati dan menyadari kekurangan diri.
Seorang tulus yang hatinya tidak dinodai oleh keangkuhan atau kesombongan serta menyadari kekurangan
dan ketidak-berdayaan dirinya, menganggap
dirinya tidak mampu mencapai keberhasilan dalam mengerjakan segala sesuatu dengan prakarsanya sendiri
serta merasa dirinya sama sekali tidak memiliki kekuatan atau kekuasaan, secara naluriah akan memohonkan
kekuatan Samawi.
Ia menyaksikan setiap saat Wujud Yang Maha Perkasa dalam segala Kesempurnaan dan Keagungan-Nya dan ia menganggap
bahwa keberhasilan usaha apa pun tergantung kepada Sifat
Rahmāniyat dan Rahīmiyat Ilahi, maka sebelum ia memulai usahanya yang tidak
berharga dan tidak ada artinya itu, ia akan memohonkan
pertolongan Ilahi dengan mengucapkan:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”
Dengan segala kerendahan hati demikian
maka ia menjadi berhak untuk
memperoleh sedikit kekuasaan dari kekuasaan Allah Swt., sekelumit kekuatan dari kekuatan-Nya, secercah pengetahuan
dari pengetahuan milik-Nya serta keberhasilan dalam filosofi, karena batin
setiap manusia memiliki kapasitas
untuk menyadarinya, dimana pengalaman-pengalaman pribadi dari orang-orang bijak menjadi saksi akan kebenarannya.
Tidak ada yang bersifat artifisial
(dibuat-buat) dari seorang makhluk
yang memohonkan pertolongan dari
Allah Swt., bukan juga merupakan hasil pemikiran iseng-iseng atau pun
sesuatu yang tidak berharga. Kebenaran ini sudah ditegakkan Allah
Swt. sebagai bagian utama yang menyangga
alam dan atas dasar kekuatan
Sifat-sifat inilah maka bahtera alam
ini melaju.
Langkah Pertama Pengenalan Tauhid Ilahi
Dia memberikan bantuan
kepada mereka yang menganggap diri mereka rendah dan hina yang telah memohon kepada-Nya dan memulai
usaha mereka dengan nama-Nya.
Jika mereka berpaling kepada Tuhan mereka dengan segala kerendahan hati dan perhambaan maka mereka akan dibantu melalui pertolongan-Nya.
Mencari berkat pertolongan
dari Nama Sang Maha Sumber Segala Rahmat
yang adalah Rahmān (Maha Pemurah)
dan Rahīm (Maha Penyayang) sebelum
memulai usaha apa pun yang bermanfaat, adalah cara memperlihatkan penghormatan
dan perhambaan yang dilambari dengan perasaan ketidak-berdayaan dan kepapaan.
Hal ini menjadi langkah pertama
yang mengarah kepada pengenalan
Ketauhidan Ilahi dalam setiap tindakan
seseorang. Dengan cara ini maka
seseorang sepertinya menerapkan kerendahan
hati seorang anak kecil dimana batinnya disucikan dari keangkuhan yang memenuhi hati orang-orang sombong di dunia ini.
Saat menyadari kelemahan dirinya
dan efektivitas pertolongan Ilahi, ia akan memasuki lingkungan orang-orang yang
memiliki pemahaman khusus sebagai hamba-hamba Allah. Tidak diragukan lagi
bahwa setakat manusia mengikuti jalan tersebut dan menjadikan
sebagai kewajiban bagi dirinya untuk
mematuhinya -- disamping merasa akan
dirugikan jika meninggalkannya -- maka
setakat itu juga keimanannya pada Ketauhidan Ilahi menjadi mantap, dan setakat itu
juga kalbunya akan dibersihkan dari keangkuhan dan rasa diri
penting. Setakat itu pula kegelapan
kepalsuan akan terkikis dari
penampilan dirinya dan sinar ketulusan
akan memancar dari wajahnya.
Semua itu merupakan kebenaran yang secara berangsur akan menuntun manusia ke tingkatan dimana ia memfanakan (melarutkan) dirinya kepada Tuhan-nya ketika ia menganggap bahwa semuanya itu datang dari Allah Swt. dan tidak ada yang berasal
dari dirinya sendiri. Manakala
seseorang mengikuti jalan ini maka keharuman dari Ketauhidan Ilahi akan turun
di atas dirinya sehingga kalbu dan fikirannya menjadi harum karenanya.
Dalam mengadaptasi kebenaran
tersebut, seorang pencari kebenaran
akan menyatakan dirinya tidak berarti
apa-apa sama sekali, dan mengakui bahwa hanya Allah Yang Maha Luhur saja yang menjadi Sang Maha Pengendali dan Mata
Air Rahmat. Kedua persyaratan
tersebut menjadi tujuan akhir dari
para pencari kebenaran dan merupakan
persyaratan guna mencapai tingkatan fana (larut) dalam Wujud-Nya.
Kelemahan Keadaan Para Filosof
Sesungguhnya hanya mereka yang mencari
yang akan menemukan dan hanya mereka
yang memohon yang akan diberi karunia. Mereka yang pada awal dari
suatu usaha hanya mengandalkan keterampilan, intelegensia atau kekuatan serta
tidak meyakini Allah Yang Maha Kuasa,
sesungguhnya tidak menyadari
sepenuhnya Sang Maha Perkasa Yang merangkum pemeliharaan seluruh alam ini (Rabb al-‘ālamīn) dalam Wujud-Nya. Keimanan mereka itu laiknya ranting
kering yang tidak lagi mempunyai hubungan
dengan batang induknya yang hijau dan segar, sehingga juga tidak menikmati kesegaran buah dan bunganya.
Kelihatannya ia seperti memiliki hubungan
dengan pohon induk, namun kedudukannya sangat rapuh dan mudah digoyang oleh angin
yang paling halus sekali pun atau diguncang
oleh seseorang. Demikian itulah keimanan
para filosof kering yang tidak menyandarkan diri mereka kepada Sang Pemelihara Alam Semesta (Rabb
al-‘ālamīn) dan tidak mengakui
ketergantungan mereka kepada Allah
sebagai Sumber segala rahmat.
Mereka ini berada jauh dari pengakuan
Ketauhidan Ilahi sejauh jarak kegelapan
dari keadaan terang. Mereka tidak memahami bahwa merendahkan diri mereka kepada kekuatan akbar Sang Maha Kuasa dengan
mengakui ketidak-berdayaan dirinya adalah tingkatan
terakhir perhambaan dan menjadi titik
terjauh pencapaian pengertian
Ketauhidan Ilahi. Kondisi demikian akan memfanakan (melarutkan) dirinya secara total sehingga ia kehilangan
ego (keakuan) dan prakarsa diri
serta sepenuhnya beriman pada pengendalian Tuhan secara menyeluruh.
Jangan kalian dengar argumentasi
para filosof tersebut yang
menyatakan bahwa kita tidak perlu lagi memohon pertolongan
Ilahi ketika memulai suatu pekerjaan
karena katanya Tuhan sudah membekali fitrat kita dengan kekuatan yang cukup, sehingga dirasa berlebihan untuk memohon
lagi kepada-Nya kekuatan demikian.
Tidak Cukup Mengandalkan Fitrat
Memang benar bahwa Allah Swt telah membekali
fitrat kita dengan kekuatan
untuk melakukan beberapa tindakan,
namun ini tidak berarti bahwa kita bebas
dari pengaturan Sang Pemelihara Alam
(Rabb al-‘ālamīn), atau bahwa Dia telah
menjauhkan Diri-Nya dari kita dan telah
menarik bantuan-Nya kepada kita serta mengasingkan
kita dari Rahmat-Nya yang tanpa
batas.
Apa pun yang telah dikaruniakan
kepada kita sesungguhnya bersifat
terbatas sedangkan apa yang kita
minta dari Wujud-Nya adalah
sesuatu yang tidak ada batasnya.
Lagi pula kita ini tidak ada diberikan
kekuatan untuk menyelesaikan hal-hal yang berada di luar kemampuan kita.
Bila direnungi lebih mendalam, kita akan menyadari bahwa sesungguhnya kita
tidak diberikan kekuasaan yang bersifat sepenuhnya sempurna. Sebagai contoh,
kekuatan fisik kita sangat tergantung pada kesehatan kita dan kesehatan ini bergantung pula pada beberapa kausa (penyebab), baik yang bersifat Samawi atau pun duniawi, yang semuanya berada di
luar jangkauan kemampuan kita.
Sesungguhnya, Sang Pemelihara
Alam (Rabb al-‘ālamīn) karena Sifat-Nya
sebagai Penyebab dari segala sebab atau Kausa (Penyebab) Akbar
dari segala kausa (sebab), memahami sepenuhnya kondisi eksternal dan internal diri kita, awal dan akhir
kita, atas dan bawah, kiri dan kanan, hati dan jiwa, serta seluruh fitrat jiwa kita, bahwa sesungguhnya hal itu merupakan masalah yang amat rumit yang berada di luar jangkauan kemampuan akal
manusia.
Tidak perlu rasanya mendalami lebih lanjut karena apa yang sudah kami
kemukakan ini cukup untuk menolak
keberatan dari para lawan kita. Satu-satunya cara untuk mendapatkan rahmat
Sang Pemelihara Alam (Rabb al-‘ālamīn) adalah dengan menyungkurkan diri bersujud dengan segala fitrat, kekuasaan dan kekuatan yang kita miliki. Hal ini
bukanlah suatu hal yang baru karena sudah inheren
(melekat) dalam fitrat manusia sejak
awalnya.
Seseorang yang berhasrat
menelusuri jalan pengabdian akan mengikuti cara ini, sebagaimana juga
dengan orang yang mencari rahmat
Tuhan-nya, atau pun mereka yang mengharapkan
pengampunan Ilahi akan mematuhi kaidah
hukum abadi ini. Kaidah-kaidah ini bukanlah suatu ciptaan baru sebagaimana halnya sosok yang dipertuhan umat Kristiani, melainkan kaidah-kaidah tetap yang bersifat abadi dan merupakan kebiasaan
(Sunnah) Allah Swt. yang telah berlaku sepanjang waktu,
yang kebenarannya nyata bagi seorang pencari kebenaran yang tulus
melalui berbagai ragam pengalaman
dirinya.
Setiap rahmat akan mewujud dengan cara dimana Sang Wujud Yang
adalah Maha Pengendali (Rabb) serta
menjadi Kausa (Sebab) dari segala kausa dan Sumber dari segala keberkatan
-- yang namanya dalam istilah Al-Quran
adalah ALLAH – mula-mula akan memperlihatkan
Sifat Rahmāniyat-Nya dengan menciptakan segala apa yang diperlukan, tanpa campur tangan siapa
pun, semata-mata karena Sifat Pemurah
dan Penyayang-Nya.
Ketika Sifat Rahmāniyat telah sempurna berfungsi dan manusia yang telah
dikaruniai kekuatan menggunakannya
sepenuh kemampuan maka saatnya bagi Allah Yang Maha Agung untuk
memperlihatkan Sifat Rahīmiyat
dengan cara memberikan ganjaran atas
segala upaya dan ketekunan hamba-Nya serta memelihara hasil kerjanya dari segala kesia-siaan.
Berkaitan dengan Sifat yang kedua inilah dikatakan bahwa
mereka yang mencari akan menemukan, mereka yang meminta akan diberi, dan barangsiapa yang mengetuk
akan dibukakan pintu.
Hikmah Imbauan Untuk Berdoa
Kepada Allah Swt.
Ada yang salah mengartikan
dan menganggap bahwa usaha memohon
pertolongan itu tidak ada gunanya
dan bahwa Sifat Rahmāniyat dan Rahīmiyat Tuhan tidak dimanifestasikan
(diwujudkan) setiap saat. Sesungguhnya Allah
Yang Maha Kuasa mendengar permohonan yang dilakukan dengan penuh ketulusan dan membantu mereka yang memohon pertolongan-Nya secara pantas.
Kadang-kadang yang terjadi adalah permohonan
seseorang tidak dilakukan secara tulus
dan merendahkan diri, begitu pula kondisi keruhaniannya sedang dalam
keadaan tidak seimbang, sehingga meski bibirnya mengucapkan doa tetapi hatinya tidak sejalan atau memang hanya untuk dilihat orang lain.
Kadang-kadang pula Tuhan sudah
mendengar permohonan manusia dan mengaruniakan
kepadanya apa yang menurut Kebijakan-Nya
adalah yang terbaik baginya, hanya
saja seorang yang bodoh tidak mengenali rahmat Tuhan yang tersembunyi. Karena kebodohan
dan ketidak-sadarannya tersebut maka
ia mengeluh dan mengabaikan petunjuk yang diungkapkan oleh ayat:
عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ
لَّکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ
اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ
“Boleh jadi kamu tidak
menyukai sesuatu padahal hal itu baik
bagimu dan boleh jadi juga kamu
menyukai sesuatu padahal hal itu buruk
bagimu. Dan Allah mengetahui sedangkan
kamu tidak mengetahui’ (Al-Baqarah [2]:217).
Sejauh ini sudah jelas makna dari
ayat:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”
yang mencakup kebenaran akbar tentang cara-cara
terbaik mencapai kemajuan keimanan
dalam Ketauhidan Ilahi dan dalam pengabdian dan ketulusan, dimana semua itu tidak
akan bisa ditemui dalam Kitab-kitab Samawi
lainnya. Jika ada yang menganggap bahwa ada padanannya di tempat lain, silakan yang bersangkutan mengajukannya bersama dengan kebenaran-kebenaran lain sebagaimana
yang akan kami kemukakan berikut ini.
Beberapa lawan Islam yang berpandangan cupat pernah mengajukan kritik atas komposisi ayat tersebut. Salah seorang di antaranya adalah Pendeta Imaduddin yang mengemukakan
pendapatnya dalam buku karangannya Hidayatul Muslimin. Yang lainnya adalah Bawa Narayan Singh, seorang pengacara
dari Amritsar, yang menganggap pandangan pendeta di atas sebagai suatu yang
bermutu, dan karena rasa permusuhannya
lalu mengulang isinya dalam harian miliknya Vidya Parkashak.
Hikmah Urutan Posisi Kata Rahmān
dan Rahīm
Kami akan menjawab kritik mereka itu sehingga setiap orang yang jujur akan menyadari seberapa jauh kebutaan karena fanatisme
telah mendorong para lawan kita
untuk melihat apa yang sebenarnya Nur
cemerlang di mata mereka terlihat sebagai kegelapan dan parfum
yang harum tercium busuk di hidung mereka.
Kritik mereka menyatakan bahwa urutan Rahmān dan Rahīm dalam ayat pembuka tersebut tidak tepat adanya, karena menurut
mereka urutan seharusnya adalah Rahīm dan Rahmān.
Dalam pandangan mereka, Sifat Rahmān menggambarkan rahmat Ilahi yang bersifat umum dan komprehensif, sedangkan Sifat Rahīm sebagai rahmat Ilahi
yang terbatas dan khusus. Menurut mereka, ketentuan komposisi mengharuskan bahwa apa yang sifatnya terbatas harus mendahului apa yang bersifat umum dan tidak terbatas, bukan sebaliknya.
Inilah kritik yang diajukan oleh kedua orang tersebut sambil menutup mata
mereka terhadap teks (ayat) yang keagungannya telah diakui
oleh semua orang terpelajar di
bidang bahasa Arab, walaupun mereka
sendiri adalah musuh-musuh Islam dan
bahkan di antara mereka juga terdapat para penyair
akbar. Para lawan Islam sangat terkagum
dengan komposisi teks ayat pembuka
tersebut.
Banyak dari antara mereka itu sangat menguasai ilmu komposisi dan mereka menemukan bahwa komposisi Al-Quran berada di luar kemampuan manusia untuk membuatnya,
sehingga menganggapnya sebagai suatu
mukjizat dan atas dasar itu mereka
kemudian beriman.
Adapun pendeta Kristiani
tersebut rupanya tidak menyadari bahwa kefasihan
suatu komposisi tidak mengharuskan
apa yang lebih kecil disebutkan di
muka sebelum sesuatu yang lebih besar,
serta melupakan bahwa ayat yang benar
seharusnya merupakan cerminan dari realitas (kenyataan). Dalam ayat ini dimana Rahmān
mendahului Rahīm telah menjadikan ayat tersebut sebagai cermin realitas sesungguhnya.” (Brahin-i-
Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. I, hlm. 414-435, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 14 Februari
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar