Bismillaahirrahmaanirrahiim
KITAB SUCI AL-QURAN
“Kitab Suci Al-Quran
adalah kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak
menyadarinya ”
“Setiap saat hatiku
merindukan untuk mencium Kitab Engkau
dan melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan
Kabahku”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Kekeliruan Memaknai
Ungkapan “Anak Masih Dalam Buaian” Mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. & Misteri “Penyaliban”
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang Menggelincirkan Banyak Pihak
Bab 41
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam
Bab sebelumnya telah kemukakan ayat mengenai respon Maryam
binti ‘Imran terhadap tuduhan dusta para pemuka kaum Yahudi mengenai kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
firman-Nya:
فَاَشَارَتۡ
اِلَیۡہِ ؕ قَالُوۡا کَیۡفَ نُکَلِّمُ مَنۡ
کَانَ فِی الۡمَہۡدِ صَبِیًّا ﴿﴾ قَالَ اِنِّیۡ عَبۡدُ اللّٰہِ ۟ؕ اٰتٰنِیَ الۡکِتٰبَ
وَ جَعَلَنِیۡ نَبِیًّا ﴿ۙ﴾ وَّ جَعَلَنِیۡ مُبٰرَکًا اَیۡنَ مَا کُنۡتُ ۪ وَ
اَوۡصٰنِیۡ بِالصَّلٰوۃِ وَ الزَّکٰوۃِ
مَا دُمۡتُ حَیًّا ﴿۪ۖ﴾ وَّ بَرًّۢا
بِوَالِدَتِیۡ ۫ وَ لَمۡ یَجۡعَلۡنِیۡ
جَبَّارًا شَقِیًّا ﴿﴾ وَ السَّلٰمُ
عَلَیَّ یَوۡمَ وُلِدۡتُّ وَ یَوۡمَ اَمُوۡتُ
وَ یَوۡمَ اُبۡعَثُ
حَیًّا ﴿﴾ ذٰلِکَ عِیۡسَی
ابۡنُ مَرۡیَمَ ۚ قَوۡلَ الۡحَقِّ الَّذِیۡ
فِیۡہِ یَمۡتَرُوۡنَ ﴿﴾
Maka
ia, Maryam, memberi isyarah kepadanya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan bercakap dengan seorang anak masih dalam buaian?"
Ia, Ibnu Maryam, berkata:
"Sesungguhnya aku seorang hamba Allah,
Dia telah menganugerahkan kepadaku Kitab
itu dan Dia telah menjadikanku
seorang nabi, dan Dia telah menjadikanku diberkati di mana
pun aku berada, dan telah memerintahkanku
mendirikan shalat dan membayar
zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang
yang sewenang-wenang lagi sial, dan selamat-sejahtera atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku mati, dan pada hari aku akan dibangkitkan hidup kembali." Itulah Isa
ibnu Maryam, suatu perkataan haq yang
mengenainya mereka saling berbantah. (Maryam
[19]:30-35).
Makna Ungkapan Fil- Mahdi Shabiyyan (Anak Masih Dalam Buaian)
Kata-kata فَاَشَارَتۡ اِلَیۡہِ -- "ia memberi isyarah kepadanya"
menyatakan bahwa Maryam binti ‘Imran mengetahui
jawaban apa yang akan diberikan oleh
putranya, Nabi Isa a.s., ketika para
pemuka kaum Yahudi mengajukan
pertanyaan-pertanyaan mereka kepada beliau. Kata-kata ini mungkin pula
menyatakan bahwa Maryam binti
Maryam mengetahui bahwa jika beliau menyatakan diri beliau tidak bersalah maka tidak ada seorang pun akan mempercayai beliau, satu-satunya bukti mengenai kesucian beliau adalah anaknya.
Jadi, maksud beliau
mengisyaratkan kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., bahwa anak
yang begitu suci dan saleh
dan oleh Allah Swt. telah
dianugerahi sifat-sifat yang begitu mulia
tidak mungkin lahir dari
akibat hubungan serong (zina), dan bahwa kebaikan-kebaikan
dan sifat-sifat beliau yang utama dengan sendirinya merupakan bukti yang cukup kuat bagi kesucian Maryam
binti Maryam, karena itu beliau menunjuk kepada anak beliau.
Makna ayat selanjutnya: قَالُوۡا کَیۡفَ نُکَلِّمُ مَنۡ کَانَ فِی
الۡمَہۡدِ صَبِیًّا -- “Mereka
berkata: "Bagaimana kami akan
bercakap dengan seorang anak masih
dalam buaian?" Ketika Maryam binti ‘Imran -- yang karena diejek para pemuka kaum
Yahudi -- mengarahkan perhatian
mereka kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., mereka tidak
sudi berbicara dengan beliau a.s. dan mengatakan dengan sikap benci bagaimana mungkin mereka
akan berbicara dengan "anak masih
dalam buaian," maksudnya berbicara dengan seorang anak yang telah dilahirkan
dan dibesarkan di hadapan mata mereka
sendiri.
Orang-orang tua suka berkata demikian bila diajak belajar hikmah dari seorang yang umurnya jauh lebih muda dari mereka sendiri. Kata-kata ini hanya merupakan
ungkapan rasa benci dan mengandung hinaan terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s.. Mengenai kata mahd tersebut dalam QS.3:46-47 Allah Swt. berfirman:
اِذۡ
قَالَتِ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یٰمَرۡیَمُ اِنَّ اللّٰہَ یُبَشِّرُکِ بِکَلِمَۃٍ مِّنۡہُ
٭ۖ اسۡمُہُ الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ وَجِیۡہًا فِی الدُّنۡیَا وَ
الۡاٰخِرَۃِ وَ مِنَ الۡمُقَرَّبِیۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ یُکَلِّمُ النَّاسَ فِی الۡمَہۡدِ وَ کَہۡلًا وَّ مِنَ
الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Ingatlah ketika para malaikat berkata: “Hai Maryam,
sesungguhnya Allah memberi engkau kabar gembira dengan satu kalimat dari-Nya tentang kelahiran seorang anak
laki-laki namanya Al-Masih Isa Ibnu Maryam, yang dimuliakan
di dunia serta di akhirat, dan ia adalah dari antara orang-orang yang
didekatkan kepada Allah. وَ یُکَلِّمُ
النَّاسَ فِی الۡمَہۡدِ وَ کَہۡلًا وَّ
مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ -- Dan ia
akan bertutur-kata de-ngan manusia dalam buaian dan ketika
sudah setengah umur, dan ia
dari kalangan orang-orang saleh. (Ali ‘Imran
[3]:46-47).
Arti Kata Mahd dan Kahlan
Arti
yang pokok dari kata mahd adalah keadaan
atau masa persiapan ketika orang
seolah-olah disiapkan dan dibenahi untuk memangku tugas-tugas yang akan diserahkan kepadanya ketika
menginjak usia matang (kahlan).
Disebutkannya kedua masa mahd dan kuhulah (kahlan) bersama-sama menunjukkan bahwa tiada
waktu-selang yang memisahkan antara kedua masa itu. Seluruh masa sebelum kuhulah
(setengah umur) ialah mahd.
Kahl
berarti orang setengah umur atau umur ketika rambutnya mulai bercampur uban;
atau kata itu berarti orang yang berumur antara 30 atau 34 dan
51, atau 40 dan 51 tahun (Lexicon
Lane & Tsa’labi).
Dengan demikian jelaslah bahwa makna kata mahd
(dalam buian) berkenaan dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bukan berarti beliau benar-benar masih berupa seorang bayi
yang masih dalam gendongan (buaian).
Bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengucapkan kata-kata penuh hikmah di
masa kanak-kanak, tidak merupakan hal
yang bersifat kemukjizat-mukjizatan atau adikudrati
(supernatural), sebab banyak anak-anak
cerdas dan berpendidikan-baik
berkata-kata seperti itu.
Jadi seluruh kalimat وَ یُکَلِّمُ
النَّاسَ فِی الۡمَہۡدِ وَ کَہۡلًا وَّ
مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ -- “dan ia
akan bertutur-kata dengan manusia dalam buaian dan ketika
sudah setengah umur, dan ia
dari kalangan orang-orang saleh”
itu berarti bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. biasa mengucapkan kata-kata yang penuh dengan hikmah
dan ilmu ruhani yang luar biasa, jauh
melebihi umur dan pengalamannya, kesemuanya pada masa persiapan sebagai seorang belia dan juga pada waktu berusia setengah umur.
Penunjukkan kepada dua masa yang berlainan dari kehidupan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dapat pula dianggap sebagai
isyarat bahwa tutur kata beliau
ketika sudah menginjak setengah umur,
akan berbeda sifatnya dengan tutur kata
beliau waktu masih remaja. Pada waktu
setengah umur (kahlan) beliau biasa
berbicara kepada orang-orang sebagai nabi
Allah.
Jadi kabar gembira yang disampaikan kepada Maryam
binti Maryam a.s. terletak dalam hal
bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bukan saja ditakdirkan
akan menjadi pemuda yang cerdas,
tetapi juga beliau akan hidup sampai masa
tua sebagai abdi-Allah (hamba Allah)
yang muttaqi, karena beliau memiliki tugas untuk mencari 10 suku
Bani Israil yang tercerai-berai di luar Palestina (Kanaan) setelah mereka mengalami masa pembuangan yang pertama oleh
raja Nebukadnezar ke Babilonia akibat kutukan Nabi Daud a.s..
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Selama Masih Hidup Senantiasa
Mengerjakan Shalat dan
Membayar Zakat
Kembali kepada
percakapan yang Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. lakukan dengan
para pemuka kaum Yahudi, hal itu tidak
mungkin percakapan seorang anak kecil, firman-Nya:
فَاَشَارَتۡ
اِلَیۡہِ ؕ قَالُوۡا کَیۡفَ نُکَلِّمُ مَنۡ
کَانَ فِی الۡمَہۡدِ صَبِیًّا ﴿﴾ قَالَ اِنِّیۡ عَبۡدُ اللّٰہِ ۟ؕ اٰتٰنِیَ الۡکِتٰبَ
وَ جَعَلَنِیۡ نَبِیًّا ﴿ۙ﴾ وَّ جَعَلَنِیۡ مُبٰرَکًا اَیۡنَ مَا کُنۡتُ ۪ وَ
اَوۡصٰنِیۡ بِالصَّلٰوۃِ وَ الزَّکٰوۃِ
مَا دُمۡتُ حَیًّا ﴿۪ۖ﴾ وَّ بَرًّۢا
بِوَالِدَتِیۡ ۫ وَ لَمۡ یَجۡعَلۡنِیۡ جَبَّارًا
شَقِیًّا ﴿﴾ وَ السَّلٰمُ عَلَیَّ یَوۡمَ وُلِدۡتُّ وَ یَوۡمَ
اَمُوۡتُ وَ یَوۡمَ
اُبۡعَثُ حَیًّا ﴿﴾ ذٰلِکَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ ۚ قَوۡلَ الۡحَقِّ
الَّذِیۡ فِیۡہِ یَمۡتَرُوۡنَ ﴿﴾
Maka
ia, Maryam, memberi isyarah kepadanya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan bercakap dengan seorang anak masih dalam buaian?"
Ia, Ibnu Maryam, berkata:
"Sesungguhnya aku seorang hamba Allah,
Dia telah menganugerahkan kepadaku Kitab
itu dan Dia telah menjadikanku
seorang nabi, dan Dia telah menjadikanku diberkati di mana
pun aku berada, dan telah
memerintahkanku mendirikan shalat
dan membayar zakat selama aku
hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang
yang sewenang-wenang lagi sial, dan selamat-sejahtera atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku mati, dan pada hari aku akan dibangkitkan hidup kembali." Itulah Isa
ibnu Maryam, suatu perkataan haq yang
mengenainya mereka saling berbantah. (Maryam
[19]:30-35).
Alasan mengapa jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. lakukan dengan para pemuka kaum Yahudi tidak
mungkin merupakan ucapan seorang anak
kecil? Sebab jika ucapan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. tersebut keluar dari mulut seorang anak kecil maka ucapan tersebut akan dianggap ucapan dusta belaka oleh para pemuka kaum Yahudi, karena
terhadap seorang anak kecil belum diwajibkan
melaksanakan shalat dan membayar zakat. Lagi pula ketika masih kecil Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bukan seorang nabi
Allah, sehingga tidak mungkin kepada
beliau Allah Swt. telah memberikan pengetahuan mengenai Kitab,
yakni Taurat dan Injil.
Jadi, digabungkannya
dua pasang kata – mahd dan kahlan -- itu mengandung pula suatu nubuatan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
tidak akan mati muda tetapi akan hidup lama hingga mencapai usia
tua dengan penuh kedewasaan. Nubuatan
ini sungguh mengandung mukjizat yang
sebenar-benarnya.
Tetapi bila kata mahd diberi arti "masa persiapan" yang juga merupakan
salah satu dari arti-arti kata ini, kemudian makna kata mahd dalam ayat QS.3:47 akan berarti bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. akan berbicara
kepada orang banyak dengan kata-kata yang penuh dengan hikmah dan ilmu ruhani
yang luar biasa, jauh di atas umur
dan pengalaman beliau, baik di masa
persiapan yaitu di masa muda (mahd), maupun
dalam masa pertengahan umur (kahlan).
Adalah mustahil
ketika mereka mendustakan
beliau dan berusaha untuk membunuh
beliau melalui penyaliban – agar
terbukti beliau sebagai seorang yang terkutuk
-- lalu Allah Swt. mengangkat beliau hidup-hidup ke langit sebagaimana yang umumnya dipercayai secara keliru, sebab dalam Bible
tidak ada bukti bahwa setelah peristiwa pembuangan mereka ke Babilonia
ada suku-suku di antara 10 suku Bani Israil yang tersesat
ke atas langit, melainkan mereka tercerai-berai
di luar wilayah sebelah timur Kanaan (Palestina).
Jadi,
pernyataan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam
ayat-ayat Surah Maryam
tersebut membantah kepercayaan keliru Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hingga saat ini masih hidup di langit dengan jasad kasarnya, sebab bagaimana mungkin
beliau akan membuktikan kebenaran
ucapannya tersebut dalam firman-Nya tersebut:
قَالَ
اِنِّیۡ عَبۡدُ اللّٰہِ ۟ؕ اٰتٰنِیَ الۡکِتٰبَ وَ جَعَلَنِیۡ نَبِیًّا ﴿ۙ﴾ وَّ جَعَلَنِیۡ مُبٰرَکًا اَیۡنَ مَا کُنۡتُ ۪ وَ
اَوۡصٰنِیۡ بِالصَّلٰوۃِ وَ الزَّکٰوۃِ
مَا دُمۡتُ حَیًّا ﴿۪ۖ﴾ وَّ بَرًّۢا بِوَالِدَتِیۡ
۫ وَ لَمۡ یَجۡعَلۡنِیۡ جَبَّارًا
شَقِیًّا ﴿﴾ وَ السَّلٰمُ عَلَیَّ یَوۡمَ وُلِدۡتُّ وَ یَوۡمَ
اَمُوۡتُ وَ یَوۡمَ
اُبۡعَثُ حَیًّا ﴿﴾ ذٰلِکَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ ۚ قَوۡلَ الۡحَقِّ
الَّذِیۡ فِیۡہِ یَمۡتَرُوۡنَ ﴿﴾
Ia,
Ibnu Maryam, berkata: "Sesungguhnya aku seorang hamba Allah, Dia telah
menganugerahkan kepadaku Kitab itu dan Dia
telah menjadikanku seorang nabi, dan
Dia telah menjadikanku diberkati di
mana pun aku berada, dan telah
memerintahkanku mendirikan shalat
dan membayar zakat selama aku
hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang
yang sewenang-wenang lagi sial, dan selamat-sejahtera atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku mati, dan pada hari aku akan dibangkitkan hidup kembali."
Itulah Isa ibnu Maryam, suatu perkataan haq yang mengenainya
mereka saling berbantah. (Maryam
[19]:31-35).
Barangkali tidak ada orang lain dalam sejarah agama yang mengenainya terdapat perselisihan yang begitu banyak dan
begitu jauh jangkauannya seperti Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. Orang-orang Yahudi, orang-orang Kristen, dan orang-orang Islam
semuanya berpegang pada pandangan-pandangan yang sangat berlainan mengenai kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., cara beliau menemui ajal dan juga mengenai
beberapa peristiwa yang penting dalam kehidupan beliau.
Penyebab Ketiga Allah Swt Menghukum
Orang-orang Yahudi: Karena Mereka
Berusaha Membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Melalui Penyaliban
Jadi, kembali kepada firman Allah Swt. mengenai
beberapa sebab mengapa Allah
Swt. menghukum orang-orang Yahudi,
firman-Nya:
فَبِمَا
نَقۡضِہِمۡ مِّیۡثَاقَہُمۡ وَ کُفۡرِہِمۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ وَ قَتۡلِہِمُ
الۡاَنۡۢبِیَآءَ بِغَیۡرِ حَقٍّ وَّ قَوۡلِہِمۡ قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ طَبَعَ
اللّٰہُ عَلَیۡہَا بِکُفۡرِہِمۡ فَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾۪ وَّ بِکُفۡرِہِمۡ وَ قَوۡلِہِمۡ عَلٰی مَرۡیَمَ
بُہۡتَانًا عَظِیۡمًا ﴿﴾ۙ وَّ قَوۡلِہِمۡ
اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا
قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ
شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ
اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿﴾
Maka Kami
mengazab mereka disebabkan
pelanggaran mereka atas perjanjian
mereka, dan kekafiran mereka kepada Tanda-tanda Allah, dan mereka
membunuh nabi-nabi
tanpa hak, dan karena ucapan mereka:
قُلُوۡبُنَا
غُلۡفٌ -- ”Hati kami terselubung!” بَلۡ طَبَعَ اللّٰہُ
عَلَیۡہَا بِکُفۡرِہِمۡ -- Tidak
demikian, bahkan Allah
telah memeterai hati mereka disebabkan kekafiran mereka, فَلَا
یُؤۡمِنُوۡنَ اِلَّا قَلِیۡلًا -- maka tidaklah mereka
beriman kecuali sedikit. وَّ بِکُفۡرِہِمۡ وَ قَوۡلِہِمۡ عَلٰی مَرۡیَمَ
بُہۡتَانًا عَظِیۡمًا -- Dan
juga mereka Kami azab karena kekafiran mereka dan ucapan
mereka terhadap Maryam berupa tuduhan
palsu yang besar, وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ
رَسُوۡلَ اللّٰہِ -- Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya
kami telah membunuh Al-Masih, Isa
Ibnu Maryam, Rasul Allah,” وَ مَا
قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ -- padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penya-liban, akan tetapi ia disamarkan kepada
mereka seperti telah mati di atas salib. وَ اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا
فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ
-- Dan sesungguhnya orang-orang
yang berselisih dalam hal ini niscaya ada
dalam keraguan mengenai ini, مَا لَہُمۡ
بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ
الظَّنِّ -- mereka
tidak memiliki pengetahuan yang
pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka وَ مَا
قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا -- dan mereka tidak yakin telah membunuhnya بَلۡ
رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ -- Bahkan Allah telah mengangkatnya
kepada-Nya وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا
حَکِیۡمًا -- dan Allah Maha Perkasa,
Maha Bijaksana. (An-Nisā
[4]:156-159).
Penyebab yang ketiga adalah: , وَّ قَوۡلِہِمۡ
اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ -- “Dan
karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih,
Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ
لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ -- padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa
dan tidak pula mematikannya melalui
penyaliban, akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di
atas salib.”
Tidak Sampai Terbunuh Pada Tiang Salib
Makna kalimat mā shalabū hu bukan berarti bahwa Nabi isa Ibnu Maryam a.s.
sama sekali tidak pernah mengalami
peristiwa penyaliban, melainkan artinya bahwa
sekali pun orang-orang Yahudi
itu berhasil menggantungkan tubuh
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan memakukannya di tiang salib, akan tetapi
upaya penyaliban yang mereka
lakukan tersebut tidak
menyebabkan kematian dia pada tiang salib.
Mengapa
demikian? Sebab kata shalab itu
cara membunuh yang terkenal. Orang
berkata Shalaba al-lishsha, yakni “ia
membunuh pencuri itu dengan memakunya pada tiang salib”. Jadi, pernyataan ayat itu tidak mengingkari kenyataan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dipakukan ke tiang salib, tetapi menyangkal
beliau mengalami kematian di atas tiang salib
itu, sebab jika itu terjadi maka tuduhan para pemuka kaum Yahudi bahwa
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah seorang nabi
palsu akan terbuti benar, sebab menurut hukum
Taurat barangsiapa yang matinya
tergantung di atas salib merupakan kutuk
baginya (Ulangan 21:23), sedangkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- sekali
pun sempat mengalami pemaukan selama 3
jam -- tetapi beliau tidak mengalami kematian,
melainkan hanya mengalami mati suri.
Mengisyaratkan kepada kenyataan “keadaan mati suri” itulah makna ayat
selanjutnya وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ
لَہُمۡ
– “tetapi ia disamarkan kepada mereka.” Ungkapan syubbiha lahum artinya:
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ditampakkan
kepada orang-orang Yahudi seperti
orang yang mati disalib; atau hal kematian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
menjadi samar atau menjadi teka-teki kepada mereka. Syubbiha
'alaihi al-amru, artinya “hal itu dibuat kalang-kabut, samar atau teka-teki
kepadanya” (Lexicon Lane).
Jadi hanya tafsir
jahil belaka memaknai ayat وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ – “tetapi
ia disamarkan kepada mereka” bahwa Yudas Iskariot itulah yang
telah disalib. karena wajahnya oleh Allah Swt. telah diserupakan dengan wajah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sedangkan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. sendiri telah diangkat hidup-hidup
oleh Allah Swt. kepada-Nya: بَلۡ رَّفَعَہُ
اللّٰہُ اِلَیۡہِ -- Bahkan
Allah telah mengangkatnya kepada-Nya وَ کَانَ اللّٰہُ
عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- dan Allah Maha
Perkasa, Maha Bijaksana”
(QS.4:159).
Keraguan Para pemuka Yahudi Mengenai Kematian Nabi Isa Ibnu Maryam di Atas Tiang Salib
Ungkapan ayat selanjutnya memperkuat kata syubiha lahum (disamarkan kepada mereka): وَ مَا
قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا artinya: (1) mereka tidak membunuh dia dengan
nyata; (2) mereka tidak mengubah dugaan mereka jadi keyakinan,
yakni pengetahuan mereka mengenai kematian
Nabi Isa a.s. pada tiang salib tidak
demikian pastinya sehingga tidak ada suatu celah keraguan pun dalam pikiran mereka bahwa mereka benar-benar telah membunuh beliau.
Dalam hal ini kata ganti hu dalam qatalūhu
menunjuk kepada kata benda zhann (dugaan). Orang-orang Arab berkata qatalasy-syai’a
khubran, yakni ia memperoleh pengetahuan sepenuhnya dan pasti mengenai hal
itu supaya menia-dakan segala kemungkinan untuk meragukan hal itu (Lexicon Lane; Lisan-ul-‘Arab, dan Al-Mufradat).
Bahwa Nabi Ibnu
Maryam a.s tidak wafat pada tiang salib
tapi wafat secara wajar jelas nampak dari Al-Quran (QS.3:56;
QS.5: ; QS.21:35-36). Fakta-fakta
berikut, sebagaimana dikisahkan dalam Injil
sendiri, memberi dukungan yang kuat kepada keterangan Al-Quran itu:
1. Karena Nabi Isa Inu Maryam a.s. itu seorang nabi Allah, beliau tak mungkin mati
pada kayu salib, sebab menurut Bible:
"orang yang tergantung itu kutuklah
bagi Tuhan Allah" (Ulangan
21:23).
2. Beliau di Taman Getsemani telah berdoa kepada Tuhan dalam kesakitan yang amat sangat supaya "biarkanlah kiranya cawan (kematian di atas
salib) ini lepas dariku" (Markus
14:36; Matius 26:29; Lukas 22:42); dan doa beliau telah terkabul (Iberani 5:7).
3. Beliau telah mengabarkan sebelumnya bahwa seperti Nabi Yunus a.s. yang telah masuk ke perut ikan besar di laut
dan telah keluar lagi hidup-hidup (Matius 12:40), beliau akan tinggal dalam "perut bumi" selama tiga hari dan akan keluar lagi hidup-hidup.
4. Beliau telah menubuatkan
pula bahwa beliau akan pergi mencari
kesepuluh suku bangsa Israil yang hilang (Yahya 10:16). Bahkan orang-orang Yahudi di masa Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. pun
mempercayai bahwa suku-suku bangsa Israil
yang hilang itu telah terpencar ke berbagai negeri (Yohanes 7:34-35).
5. Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah terpancang pada tiang salib hanya selama kira-kira 3 jam (Yohanes 19:14) dan sebagai orang yang memiliki kesehatan jasmani yang normal, beliau tidak mungkin wafat dalam waktu yang
sependek itu.
6. Segera sesudah beliau diturunkan dari tiang salib pinggang beliau ditusuk dan darah serta air keluar darinya. Hal demikian
merupakan tanda yang pasti bahwa
beliau masih hidup (Yohanes 19:34).
7. Orang-orang Yahudi sendiri merasa tidak yakin mengenai kematian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. karena itu mereka telah meminta kepada Pilatus untuk menempatkan penjaga di kuburannya "supaya jangan murid-muridnya datang mencuri
Dia, serta mengatakan kepada kaum, bahwa Ia sudah bangkit dari antara orang
mati" (Matius
27:64).
8. Tidak didapatkan dalam semua Injil barang sebuah pun pernyataan tertulis dari seorang saksi yang
menerangkan bahwa Nabi Isa ibnu Maryam a.s. telah wafat ketika beliau diturunkan dari tiang salib atau ketika beliau
ditempatkan dalam kuburan. Lagi pula,
tidak seorang pun dari antara murid beliau hadir di tempat kejadian penyaliban, semuanya melarikan diri tatkala Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. dibawa ke tempat penyaliban.
Rekayasa Penyelamatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari Kematian Terkutuk di Tiang Salib
Kejadian yang sebenarnya nampaknya demikian, boleh
jadi disebabkan oleh impian istrinya agar "Jangan berbuat barang apapun ke
atas orang yang benar itu" (Matius
27 : 19), maka Pilatus telah
percaya bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak
bersalah, dan karenanya telah bersekongkol
dengan Yusuf Arimatea - seorang tokoh
dari perkumpulan Essene, tempat Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri pernah menjadi anggotanya, sebelum
beliau diutus sebagai nabi - untuk menyelamatkan jiwa beliau.
Sidang pemeriksaan perkara Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. . berlangsung pada hari Jum'at, karena Pilatus dengan sengaja mengulur
waktu dengan perhitungan bahwa esok harinya jatuh Hari Sabat, saat orang-orang terhukum
tidak dapat dibiarkan di atas tiang salib
sesudah matahari terbenam.
Ketika pada
akhirnya Pilatus merasa terpaksa
menghukum Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ia memberikan keputusannya hanya 3 jam
sebelum terbenamnya matahari, dengan demikian meyakinkan dirinya bahwa tidak
ada orang yang normal kesehatannya
tinggal di atas tiang salib dalam
waktu yang sesingkat itu dapat mati.
Selain itu Pilatus pun telah sudi mengusahakan agar
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ketika masih berapa
di tiang salib diberi
anggur atau cuka dicampur dengan rempah-rempah mur (myrrh) untuk
mengurangi perasaan sakitnya. Tatkala
sesudah 3 jam lamanya tergantung,
beliau diturunkan dari salib dalam keadaan tidak sadarkan diri (mungkin karena pengaruh cuka yang diminumkan kepada
beliau).
Pilatus dengan senang hati mengabulkan
permintaan Yusuf Arimatea dan
menyerahkan badan beliau kepadanya. Lain halnya dari kedua penjahat yang digantung bersama-sama Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. tulang-tulang beliau
tidak dipatahkan, dan Yusuf Arimatea telah meletakkan beliau di suatu rongga yang ruangnya luas, digali di
bagian samping bukit padas. Ketika itu tidak ada ilmu pemeriksaan mayat
(medical autopsy), tidak ada percobaan stethoscopis, tidak diadakan pemeriksaan
dari segi hukum dengan pertolongan kesaksian dari mereka yang terakhir bersama
beliau ("Mystical life of Yesus"
oleh H. Spencer Lewis).
9. Marham Isa (salep Isa) yang terkenal itu dibuat dan
dipakai untuk mengobati luka-luka
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan beliau diurus serta dirawat oleh Yusuf Arimatea dan Nicodemus yang juga seorang yang sangat terpelajar dan anggota yang
amat terhormat dari Ikatan Persaudaraan
Essene.
10. Setelah luka-luka beliau cukup sembuh, Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. meninggalkan kuburan itu dan menemui
beberapa murid beliau dan bersantap bersama mereka, lalu menempuh perjalanan
jauh dari Yerusalem ke Galilea dengan berjalan kaki (Lukas 24:50).
11. "The
Crucifixion by an Eye Witness," sebuah buku yang untuk pertama
kalinya iterbitkan pada tahun 1873 di Amerika Serikat, merupakan terjemahan
dalam bahasa Inggeris dari sebuah naskah surat dalam bahasa Latin purba yang
ditulis 7 tahun sesudah peristiwa salib oleh seorang warga Essene di Yerusalem kepada seorang anggota perkumpulan itu di
Iskandaria, memberi dukungan yang kuat kepada pendapat bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah
diturunkan dari salib dalam keadaan
masih hidup. Buku itu menceriterakan secara terinci semua
kejadian yang menjurus kepada peristiwa salib, pemandangan di bukit tempat
terjadinya penyaliban dan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian.
Dua pendapat yang berbeda tersebar di
tengah-tengah orang-orang Yahudi mengenai dugaan
wafat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. karena penyaliban. Beberapa di antara mereka berpendapat bahwa beliau
pertama-tama dibunuh, kemudian badan
beliau digantung pada tiang salib, sedang yang lainnya
berpendapat bahwa beliau dibunuh
dengan dipakukan pada tiang salib. Pendapat yang pertama
tercermin dalam Kisah Rasul-rasul 5:50, kita baca: "Yang sudah kamu
ini bunuh dan menggantungkan Dia pada kayu itu."
Al-Quran
membantah kedua pendapat ini dengan mengatakan: وَ مَا قَتَلُوۡہُ
وَ مَا صَلَبُوۡہُ -- "mereka
tidak membunuhnya, dan tidak pula mematikannya di atas salib." Pertama
Al-Quran menolak pembunuhan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. dalam bentuk apapun, dan selanjutnya menyangkal cara pembunuhan yang khas dengan jalan menggantungkan pada salib. Al-Quran
tidak menolak pendapat bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sempat digantung
pada tiang salib, hanya saja Al-Quran
menyangkal
beliau wafat di atas tiang
salib.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 19 Februari
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar