Rabu, 24 Februari 2016

Kekeliruan Memaknai Ungkapan "Anak Masih Dalam Buaian" Mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. & Misteri "Penyaliban" Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang Menggelincirkan Banyak Pihak



Bismillaahirrahmaanirrahiim

KITAB SUCI AL-QURAN

Kitab Suci Al-Quran adalah kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak menyadarinya

“Setiap saat hatiku merindukan untuk mencium Kitab  Engkau dan melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan Kabahku”

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


Kekeliruan Memaknai  Ungkapan  “Anak Masih Dalam Buaian” Mengenai   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. &  Misteri “Penyaliban” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  yang Menggelincirkan Banyak Pihak  

Bab 41


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah kemukakan ayat mengenai  respon Maryam binti ‘Imran terhadap  tuduhan dusta para pemuka kaum Yahudi  mengenai kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
فَاَشَارَتۡ اِلَیۡہِ ؕ قَالُوۡا کَیۡفَ نُکَلِّمُ مَنۡ  کَانَ فِی  الۡمَہۡدِ  صَبِیًّا ﴿﴾  قَالَ اِنِّیۡ عَبۡدُ اللّٰہِ ۟ؕ اٰتٰنِیَ الۡکِتٰبَ وَ جَعَلَنِیۡ  نَبِیًّا ﴿ۙ﴾  وَّ جَعَلَنِیۡ مُبٰرَکًا اَیۡنَ مَا کُنۡتُ ۪ وَ اَوۡصٰنِیۡ بِالصَّلٰوۃِ  وَ الزَّکٰوۃِ مَا دُمۡتُ  حَیًّا ﴿۪ۖ﴾ وَّ بَرًّۢا بِوَالِدَتِیۡ ۫ وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡنِیۡ جَبَّارًا شَقِیًّا ﴿﴾  وَ السَّلٰمُ عَلَیَّ یَوۡمَ وُلِدۡتُّ وَ یَوۡمَ اَمُوۡتُ  وَ  یَوۡمَ  اُبۡعَثُ  حَیًّا ﴿﴾  ذٰلِکَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ ۚ قَوۡلَ الۡحَقِّ الَّذِیۡ  فِیۡہِ  یَمۡتَرُوۡنَ ﴿﴾
Maka ia, Maryammemberi isyarah kepadanya.  Mereka berkata: "Bagaimana kami akan bercakap dengan seorang anak masih dalam buaian?"  Ia, Ibnu Maryam, berkata: "Sesungguhnya aku seorang hamba Allah, Dia telah menganugerahkan kepadaku Kitab itu dan Dia telah menjadikanku seorang nabi,   dan Dia telah menjadikan­ku diberkati di mana pun aku ber­ada, dan telah memerintahkanku mendirikan  shalat dan membayar zakat selama aku hidup. Dan  berbakti  kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang   yang sewenang-wenang lagi sial, dan selamat-sejahtera atasku  pada hari aku dilahirkan, pada hari aku mati, dan pada hari aku akan dibangkitkan hidup kembali."    Itulah Isa ibnu Maryam, suatu perkataan  haq yang  mengenainya mereka saling  berbantah.   (Maryam [19]:30-35).

Makna Ungkapan    Fil- Mahdi Shabiyyan  (Anak Masih Dalam Buaian)

  Kata-kata  فَاَشَارَتۡ اِلَیۡہِ  -- "ia memberi isyarah kepadanya" menyatakan bahwa Maryam binti ‘Imran mengetahui jawaban apa yang akan diberikan oleh putranya,  Nabi Isa a.s.,  ketika para  pemuka kaum Yahudi mengajukan pertanyaan-pertanyaan mereka kepada beliau. Kata-kata ini mungkin pula menyatakan  bahwa Maryam binti Maryam mengetahui bahwa jika beliau menyatakan diri beliau tidak bersalah maka tidak ada seorang pun akan mempercayai beliau, satu-satunya bukti mengenai kesucian beliau adalah anaknya.
 Jadi, maksud beliau  mengisyaratkan  kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  bahwa anak yang begitu suci dan saleh  dan oleh Allah Swt.  telah dianugerahi sifat-sifat yang begitu mulia  tidak mungkin lahir dari akibat hubungan serong  (zina),  dan bahwa kebaikan-kebaikan dan sifat-sifat beliau yang utama dengan sendirinya merupakan bukti yang cukup kuat bagi kesucian   Maryam binti Maryam, karena itu beliau menunjuk kepada anak beliau.
   Makna ayat selanjutnya:  قَالُوۡا کَیۡفَ نُکَلِّمُ مَنۡ  کَانَ فِی  الۡمَہۡدِ  صَبِیًّا -- “Mereka berkata: "Bagaimana kami akan bercakap dengan seorang anak masih dalam buaian?" Ketika  Maryam binti ‘Imran  -- yang karena diejek para pemuka kaum Yahudi  -- mengarahkan perhatian mereka kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  mereka tidak sudi berbicara dengan beliau a.s. dan mengatakan dengan sikap benci bagaimana mungkin mereka akan berbicara dengan "anak masih dalam buaian," maksudnya berbicara dengan seorang anak yang telah dilahirkan dan dibesarkan di hadapan mata mereka sendiri.
Orang-orang tua suka berkata demikian bila diajak belajar hikmah dari seorang yang umurnya jauh lebih muda dari mereka sendiri. Kata-kata ini hanya merupakan ungkapan rasa benci dan mengandung hinaan terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. Mengenai  kata mahd tersebut     dalam  QS.3:46-47 Allah Swt. berfirman:
اِذۡ قَالَتِ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یٰمَرۡیَمُ اِنَّ اللّٰہَ یُبَشِّرُکِ بِکَلِمَۃٍ مِّنۡہُ ٭ۖ اسۡمُہُ الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ وَجِیۡہًا فِی الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃِ  وَ مِنَ الۡمُقَرَّبِیۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ یُکَلِّمُ النَّاسَ فِی الۡمَہۡدِ وَ کَہۡلًا  وَّ مِنَ  الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Ingatlah ketika para malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya  Allah memberi engkau kabar gembira dengan  satu kalimat  dari-Nya tentang kelahiran seorang anak laki-laki namanya Al-Masih  Isa  Ibnu Maryam,  yang dimuliakan di dunia serta di akhirat, dan ia adalah dari antara orang-orang yang didekatkan kepada Allah. وَ یُکَلِّمُ النَّاسَ فِی الۡمَہۡدِ وَ کَہۡلًا  وَّ مِنَ  الصّٰلِحِیۡنَ  -- Dan  ia akan bertutur-kata de-ngan manusia dalam buaian  dan ketika sudah setengah umur,  dan ia  dari kalangan orang-orang saleh. (Ali ‘Imran [3]:46-47). 

Arti Kata Mahd dan Kahlan

      Arti yang pokok dari kata mahd adalah keadaan atau masa persiapan ketika orang seolah-olah disiapkan dan dibenahi untuk memangku tugas-tugas yang akan diserahkan kepadanya ketika menginjak usia matang (kahlan). Disebutkannya kedua masa mahd dan  kuhulah (kahlan)   bersama-sama menunjukkan bahwa tiada waktu-selang yang memisahkan antara kedua masa itu. Seluruh masa sebelum kuhulah (setengah umur) ialah mahd.
      Kahl berarti orang setengah umur atau umur ketika rambutnya mulai bercampur uban; atau kata itu berarti orang yang berumur antara 30 atau 34  dan  51, atau 40 dan 51 tahun (Lexicon Lane & Tsa’labi). Dengan demikian jelaslah bahwa makna kata mahd (dalam buian) berkenaan dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   bukan berarti  beliau benar-benar masih berupa seorang  bayi yang masih  dalam  gendongan (buaian).
      Bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  mengucapkan kata-kata penuh hikmah di masa kanak-kanak, tidak merupakan hal yang bersifat  kemukjizat-mukjizatan atau adikudrati (supernatural), sebab banyak anak-anak cerdas dan berpendidikan-baik berkata-kata seperti itu.
      Jadi  seluruh kalimat  وَ یُکَلِّمُ النَّاسَ فِی الۡمَہۡدِ وَ کَہۡلًا  وَّ مِنَ  الصّٰلِحِیۡنَ  -- “dan  ia akan bertutur-kata dengan manusia dalam buaian  dan ketika sudah setengah umur,  dan ia  dari kalangan orang-orang saleh itu berarti bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  biasa mengucapkan kata-kata yang penuh dengan hikmah dan ilmu ruhani yang luar biasa, jauh melebihi umur dan pengalamannya, kesemuanya pada masa persiapan sebagai seorang belia dan juga pada waktu berusia setengah umur.
     Penunjukkan kepada dua masa yang berlainan dari kehidupan Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s. dapat pula dianggap sebagai isyarat bahwa tutur kata beliau ketika sudah menginjak setengah umur, akan berbeda sifatnya dengan tutur kata beliau waktu masih remaja. Pada waktu setengah umur (kahlan) beliau biasa berbicara kepada orang-orang sebagai nabi Allah.
       Jadi kabar gembira  yang disampaikan kepada   Maryam binti Maryam a.s.  terletak dalam hal bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bukan saja ditakdirkan akan menjadi pemuda yang cerdas, tetapi juga beliau akan hidup sampai masa tua sebagai abdi-Allah (hamba Allah) yang muttaqi, karena beliau memiliki tugas untuk mencari  10 suku Bani Israil   yang tercerai-berai di luar Palestina (Kanaan) setelah  mereka mengalami masa pembuangan  yang pertama oleh raja Nebukadnezar ke Babilonia akibat kutukan Nabi Daud a.s..

Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Selama Masih Hidup Senantiasa  Mengerjakan Shalat dan Membayar Zakat

 Kembali kepada  percakapan yang Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  lakukan dengan para pemuka kaum Yahudi, hal itu  tidak mungkin percakapan seorang  anak kecil,  firman-Nya:  
فَاَشَارَتۡ اِلَیۡہِ ؕ قَالُوۡا کَیۡفَ نُکَلِّمُ مَنۡ  کَانَ فِی  الۡمَہۡدِ  صَبِیًّا ﴿﴾  قَالَ اِنِّیۡ عَبۡدُ اللّٰہِ ۟ؕ اٰتٰنِیَ الۡکِتٰبَ وَ جَعَلَنِیۡ  نَبِیًّا ﴿ۙ﴾  وَّ جَعَلَنِیۡ مُبٰرَکًا اَیۡنَ مَا کُنۡتُ ۪ وَ اَوۡصٰنِیۡ بِالصَّلٰوۃِ  وَ الزَّکٰوۃِ مَا دُمۡتُ  حَیًّا ﴿۪ۖ﴾ وَّ بَرًّۢا بِوَالِدَتِیۡ ۫ وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡنِیۡ جَبَّارًا شَقِیًّا ﴿﴾  وَ السَّلٰمُ عَلَیَّ یَوۡمَ وُلِدۡتُّ وَ یَوۡمَ اَمُوۡتُ  وَ  یَوۡمَ  اُبۡعَثُ  حَیًّا ﴿﴾  ذٰلِکَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ ۚ قَوۡلَ الۡحَقِّ الَّذِیۡ  فِیۡہِ  یَمۡتَرُوۡنَ ﴿﴾
Maka ia, Maryammemberi isyarah kepadanya.  Mereka berkata: "Bagaimana kami akan bercakap dengan seorang anak masih dalam buaian?"  Ia, Ibnu Maryam, berkata: "Sesungguhnya aku seorang hamba Allah, Dia telah menganugerahkan kepadaku Kitab itu dan Dia telah menjadikanku seorang nabi,   dan Dia telah menjadikan­ku diberkati di mana pun aku ber­ada, dan telah memerintahkanku mendirikan  shalat dan membayar zakat selama aku hidup. Dan  berbakti  kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang   yang sewenang-wenang lagi sial, dan selamat-sejahtera atasku  pada hari aku dilahirkan, pada hari aku mati, dan pada hari aku akan dibangkitkan hidup kembali."    Itulah Isa ibnu Maryam, suatu perkataan  haq yang  mengenainya mereka saling  berbantah.   (Maryam [19]:30-35).
 Alasan mengapa  jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  lakukan dengan para pemuka kaum Yahudi  tidak mungkin  merupakan ucapan seorang  anak kecil?  Sebab jika ucapan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut  keluar dari  mulut seorang anak kecil maka ucapan tersebut akan dianggap ucapan dusta belaka oleh para pemuka kaum Yahudi,  karena   terhadap seorang anak kecil  belum diwajibkan melaksanakan shalat dan membayar zakat. Lagi pula  ketika masih kecil  Nabi  Isa  Ibnu Maryam a.s. bukan  seorang nabi Allah,  sehingga tidak mungkin kepada beliau Allah Swt. telah memberikan pengetahuan mengenai  Kitab, yakni Taurat dan Injil.
 Jadi, digabungkannya dua pasang kata – mahd dan kahlan  -- itu mengandung pula suatu nubuatan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  tidak akan mati muda tetapi akan hidup lama hingga mencapai usia tua dengan penuh kedewasaan. Nubuatan ini sungguh mengandung mukjizat yang sebenar-benarnya.
 Tetapi  bila kata mahd diberi arti "masa persiapan" yang juga merupakan salah satu dari arti-arti kata ini, kemudian  makna kata mahd  dalam ayat QS.3:47 akan berarti  bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  akan berbicara kepada orang banyak dengan kata-kata yang penuh dengan hikmah dan ilmu ruhani yang luar biasa, jauh di atas umur dan pengalaman beliau, baik di masa persiapan  yaitu di masa muda (mahd), maupun dalam masa pertengahan umur (kahlan).
Adalah mustahil  ketika   mereka mendustakan beliau dan berusaha untuk membunuh beliau melalui penyaliban – agar terbukti beliau sebagai seorang yang terkutuk  --  lalu Allah Swt. mengangkat beliau hidup-hidup ke langit  sebagaimana yang umumnya   dipercayai secara keliru, sebab dalam Bible tidak ada bukti bahwa  setelah peristiwa pembuangan mereka ke Babilonia   ada  suku-suku di antara  10 suku  Bani Israil    yang tersesat  ke atas langit, melainkan mereka tercerai-berai di luar wilayah  sebelah timur Kanaan (Palestina).
  Jadi, pernyataan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam  ayat-ayat Surah Maryam tersebut membantah kepercayaan keliru  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hingga saat ini masih hidup di langit dengan jasad kasarnya, sebab bagaimana mungkin beliau akan membuktikan kebenaran ucapannya tersebut dalam   firman-Nya tersebut:
قَالَ اِنِّیۡ عَبۡدُ اللّٰہِ ۟ؕ اٰتٰنِیَ الۡکِتٰبَ وَ جَعَلَنِیۡ  نَبِیًّا ﴿ۙ﴾  وَّ جَعَلَنِیۡ مُبٰرَکًا اَیۡنَ مَا کُنۡتُ ۪ وَ اَوۡصٰنِیۡ بِالصَّلٰوۃِ  وَ الزَّکٰوۃِ مَا دُمۡتُ  حَیًّا ﴿۪ۖ﴾ وَّ بَرًّۢا بِوَالِدَتِیۡ ۫ وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡنِیۡ جَبَّارًا شَقِیًّا ﴿﴾  وَ السَّلٰمُ عَلَیَّ یَوۡمَ وُلِدۡتُّ وَ یَوۡمَ اَمُوۡتُ  وَ  یَوۡمَ  اُبۡعَثُ  حَیًّا ﴿﴾  ذٰلِکَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ ۚ قَوۡلَ الۡحَقِّ الَّذِیۡ  فِیۡہِ  یَمۡتَرُوۡنَ ﴿﴾
Ia, Ibnu Maryam, berkata: "Sesungguhnya aku seorang hamba Allah, Dia telah menganugerahkan kepadaku Kitab itu dan Dia telah menjadikanku seorang nabi,   dan Dia telah menjadikan­ku diberkati di mana pun aku ber­ada, dan telah memerintahkanku mendirikan  shalat dan membayar zakat selama aku hidup. Dan  berbakti  kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang   yang sewenang-wenang lagi sial, dan selamat-sejahtera atasku  pada hari aku dilahirkan, pada hari aku mati, dan pada hari aku akan dibangkitkan hidup kembali."  Itulah Isa ibnu Maryam, suatu perkataan  haq yang  mengenainya mereka saling  berbantah.   (Maryam [19]:31-35).    
  Barangkali tidak ada orang lain dalam sejarah agama yang mengenainya terdapat perselisihan yang begitu banyak dan begitu jauh jangkauannya seperti Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. Orang-orang Yahudi, orang-orang Kristen, dan orang-orang Islam semuanya berpegang pada pandangan-pandangan yang sangat berlainan mengenai kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  cara beliau menemui ajal  dan juga mengenai beberapa peristiwa yang penting dalam kehidupan beliau.

Penyebab Ketiga Allah Swt Menghukum Orang-orang Yahudi: Karena Mereka  Berusaha Membunuh Nabi  Isa Ibnu Maryam a.s. Melalui Penyaliban

       Jadi, kembali kepada firman Allah Swt. mengenai  beberapa sebab mengapa Allah Swt. menghukum orang-orang Yahudi, firman-Nya:
فَبِمَا نَقۡضِہِمۡ مِّیۡثَاقَہُمۡ وَ کُفۡرِہِمۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ وَ قَتۡلِہِمُ الۡاَنۡۢبِیَآءَ بِغَیۡرِ حَقٍّ وَّ قَوۡلِہِمۡ قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ طَبَعَ اللّٰہُ عَلَیۡہَا بِکُفۡرِہِمۡ فَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ  اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾۪  وَّ بِکُفۡرِہِمۡ وَ قَوۡلِہِمۡ عَلٰی مَرۡیَمَ  بُہۡتَانًا عَظِیۡمًا ﴿﴾ۙ  وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿﴾
Maka Kami mengazab mereka disebabkan pelanggaran mereka atas perjanjian mereka, dan   kekafiran  mereka kepada Tanda-tanda Allah,  dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa hak, dan karena ucapan mereka: قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ --  Hati kami terselubung!” بَلۡ طَبَعَ اللّٰہُ عَلَیۡہَا بِکُفۡرِہِمۡ   --  Tidak demikian,   bahkan  Allah telah memeterai  hati mereka disebabkan kekafiran mereka,  فَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ  اِلَّا قَلِیۡلًا -- maka tidaklah mereka beriman kecuali sedikit. وَّ بِکُفۡرِہِمۡ وَ قَوۡلِہِمۡ عَلٰی مَرۡیَمَ  بُہۡتَانًا عَظِیۡمًا  --  Dan juga  mereka  Kami azab karena kekafiran mereka dan ucapan mereka terhadap Maryam berupa tuduhan palsu yang besar, وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ  --   Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,”  وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ  -- padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penya-liban,  akan tetapi ia disamarkan  kepada mereka seperti telah mati di atas salib.  وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ --  Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini, مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ  --   mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka  وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا -- dan mereka tidak  yakin telah membunuhnya  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ -- Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا --  dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisā [4]:156-159).
  Penyebab yang ketiga adalah: , وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ  --   “Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,”  وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ  -- padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban, akan tetapi ia disamarkan  kepada mereka seperti telah mati di atas salib.”

Tidak Sampai Terbunuh  Pada Tiang Salib

   Makna kalimat   mā shalabū hu  bukan berarti bahwa Nabi isa Ibnu Maryam a.s. sama sekali tidak pernah mengalami peristiwa penyaliban, melainkan artinya  bahwa  sekali pun orang-orang Yahudi itu berhasil   menggantungkan  tubuh  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan memakukannya di tiang salib, akan tetapi  upaya penyaliban yang mereka lakukan tersebut   tidak menyebabkan kematian dia pada tiang salib.
 Mengapa demikian? Sebab  kata shalab itu cara membunuh yang terkenal. Orang berkata Shalaba al-lishsha, yakni “ia membunuh pencuri itu dengan memakunya pada tiang salib”.  Jadi, pernyataan ayat itu tidak mengingkari kenyataan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dipakukan ke tiang salib, tetapi menyangkal beliau mengalami kematian di atas tiang salib itu, sebab jika itu terjadi maka  tuduhan para pemuka kaum Yahudi   bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah seorang nabi palsu akan terbuti benar, sebab  menurut hukum Taurat barangsiapa yang matinya tergantung di atas salib merupakan kutuk baginya (Ulangan 21:23), sedangkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- sekali pun sempat mengalami pemaukan selama 3 jam   -- tetapi beliau tidak  mengalami  kematian, melainkan hanya mengalami  mati suri.
 Mengisyaratkan kepada kenyataan “keadaan mati suri” itulah makna ayat selanjutnya  وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ – “tetapi ia disamarkan kepada mereka.” Ungkapan syubbiha lahum artinya: Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ditampakkan kepada orang-orang Yahudi seperti orang yang mati disalib; atau hal kematian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menjadi samar atau menjadi teka-teki kepada mereka. Syubbiha 'alaihi al-amru, artinya “hal itu dibuat kalang-kabut, samar atau teka-teki kepadanya” (Lexicon Lane).
 Jadi hanya tafsir jahil  belaka memaknai ayat  وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ – “tetapi ia disamarkan kepada mereka”   bahwa Yudas Iskariot  itulah yang  telah disalib. karena wajahnya oleh Allah Swt. telah diserupakan dengan wajah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sedangkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri telah diangkat hidup-hidup oleh Allah Swt.  kepada-Nya: بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ --    Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا --  dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (QS.4:159).

Keraguan Para pemuka Yahudi Mengenai Kematian Nabi Isa Ibnu Maryam di Atas Tiang Salib

  Ungkapan ayat selanjutnya memperkuat kata syubiha lahum (disamarkan   kepada mereka): وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا   artinya: (1) mereka tidak membunuh dia dengan nyata; (2) mereka tidak mengubah  dugaan mereka  jadi keyakinan, yakni  pengetahuan mereka mengenai kematian Nabi Isa a.s. pada tiang salib tidak demikian pastinya sehingga  tidak ada suatu celah keraguan pun dalam pikiran mereka bahwa mereka benar-benar telah membunuh beliau.
  Dalam hal ini kata ganti hu dalam qatalūhu menunjuk kepada kata benda zhann (dugaan). Orang-orang Arab berkata qatalasy-syai’a khubran, yakni ia memperoleh pengetahuan sepenuhnya dan pasti mengenai hal itu supaya menia-dakan segala kemungkinan untuk meragukan hal itu (Lexicon Lane; Lisan-ul-‘Arab, dan Al-Mufradat).
Bahwa Nabi  Ibnu Maryam  a.s  tidak wafat pada tiang salib tapi wafat secara wajar  jelas nampak dari Al-Quran (QS.3:56; QS.5:     ; QS.21:35-36). Fakta-fakta berikut, sebagaimana dikisahkan dalam Injil sendiri, memberi dukungan yang kuat kepada keterangan Al-Quran itu:
1. Karena Nabi Isa Inu Maryam a.s.  itu seorang nabi Allah, beliau tak mungkin mati pada kayu salib, sebab menurut Bible: "orang yang tergantung itu kutuklah bagi Tuhan Allah" (Ulangan 21:23).
2. Beliau  di Taman Getsemani telah berdoa kepada Tuhan dalam kesakitan yang amat sangat supaya "biarkanlah kiranya cawan (kematian di atas salib) ini lepas dariku" (Markus 14:36; Matius 26:29; Lukas 22:42); dan doa beliau telah terkabul (Iberani 5:7).
3. Beliau telah mengabarkan sebelumnya bahwa seperti Nabi Yunus a.s.  yang telah masuk ke perut ikan  besar  di  laut dan telah keluar lagi hidup-hidup (Matius 12:40), beliau akan tinggal dalam "perut bumi" selama tiga hari dan akan keluar lagi hidup-hidup.
4. Beliau telah menubuatkan pula bahwa beliau akan pergi mencari kesepuluh suku bangsa Israil yang hilang (Yahya 10:16). Bahkan orang-orang Yahudi di masa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  pun mempercayai bahwa suku-suku bangsa Israil yang hilang itu telah terpencar ke berbagai negeri (Yohanes 7:34-35).
5. Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   telah terpancang pada tiang salib hanya selama kira-kira 3 jam (Yohanes 19:14) dan sebagai orang yang memiliki kesehatan jasmani yang normal, beliau tidak mungkin wafat dalam waktu yang sependek itu.
6. Segera sesudah beliau diturunkan dari tiang salib  pinggang beliau ditusuk dan darah serta air keluar darinya. Hal demikian merupakan tanda yang pasti bahwa beliau masih hidup (Yohanes 19:34).
7. Orang-orang Yahudi sendiri merasa tidak yakin mengenai kematian Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s.    karena itu mereka telah meminta kepada Pilatus untuk menempatkan penjaga di kuburannya "supaya jangan murid-muridnya datang mencuri Dia, serta mengatakan kepada kaum, bahwa Ia sudah bangkit dari antara orang mati" (Matius 27:64).
8. Tidak didapatkan dalam semua Injil barang sebuah pun pernyataan tertulis dari seorang saksi yang menerangkan bahwa Nabi Isa ibnu Maryam a.s. telah wafat ketika beliau diturunkan dari tiang salib atau ketika beliau ditempatkan dalam kuburan. Lagi pula, tidak seorang pun dari antara murid beliau hadir di tempat kejadian penyaliban, semuanya melarikan diri tatkala Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dibawa ke tempat penyaliban.

Rekayasa Penyelamatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari Kematian Terkutuk di Tiang Salib

Kejadian yang sebenarnya nampaknya demikian, boleh jadi disebabkan oleh impian istrinya agar "Jangan berbuat barang apapun ke atas orang yang benar itu" (Matius 27 : 19), maka Pilatus telah percaya bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  tidak bersalah, dan karenanya telah bersekongkol dengan Yusuf Arimatea - seorang tokoh dari perkumpulan Essene, tempat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri pernah menjadi anggotanya, sebelum beliau diutus sebagai nabi - untuk menyelamatkan  jiwa beliau.
Sidang pemeriksaan perkara Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berlangsung pada hari Jum'at, karena Pilatus dengan sengaja mengulur waktu dengan perhitungan bahwa esok harinya jatuh Hari Sabat, saat orang-orang terhukum tidak dapat dibiarkan di atas tiang salib sesudah matahari terbenam.
  Ketika pada akhirnya Pilatus merasa terpaksa menghukum Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  ia memberikan keputusannya hanya 3 jam sebelum terbenamnya matahari, dengan demikian meyakinkan dirinya bahwa tidak ada orang yang normal kesehatannya tinggal di atas tiang salib dalam waktu yang sesingkat itu dapat mati.
   Selain itu Pilatus pun telah sudi mengusahakan agar Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ketika masih berapa  di tiang salib   diberi anggur atau cuka dicampur dengan rempah-rempah mur (myrrh) untuk mengurangi perasaan sakitnya. Tatkala sesudah 3 jam lamanya tergantung, beliau diturunkan dari salib dalam keadaan tidak sadarkan diri (mungkin karena pengaruh cuka yang diminumkan kepada beliau).
 Pilatus dengan senang hati mengabulkan permintaan Yusuf Arimatea dan menyerahkan badan beliau kepadanya. Lain halnya dari kedua penjahat yang digantung bersama-sama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tulang-tulang beliau tidak dipatahkan, dan Yusuf Arimatea telah meletakkan beliau di suatu rongga yang ruangnya luas, digali di bagian samping bukit padas. Ketika itu tidak ada ilmu pemeriksaan mayat (medical autopsy), tidak ada percobaan stethoscopis, tidak diadakan pemeriksaan dari segi hukum dengan pertolongan kesaksian dari mereka yang terakhir bersama beliau ("Mystical life of Yesus" oleh H. Spencer Lewis).
9. Marham Isa (salep Isa) yang terkenal itu dibuat dan dipakai untuk mengobati luka-luka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan beliau diurus serta dirawat oleh Yusuf Arimatea dan Nicodemus yang juga seorang yang sangat terpelajar dan anggota yang amat terhormat dari Ikatan Persaudaraan Essene.
10. Setelah luka-luka beliau cukup sembuh, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  meninggalkan kuburan itu dan menemui beberapa murid beliau dan bersantap bersama mereka, lalu menempuh perjalanan jauh dari Yerusalem ke Galilea dengan berjalan kaki (Lukas 24:50).
11. "The Crucifixion by an Eye Witness," sebuah buku yang untuk pertama kalinya iterbitkan pada tahun 1873 di Amerika Serikat, merupakan terjemahan dalam bahasa Inggeris dari sebuah naskah surat dalam bahasa Latin purba yang ditulis 7 tahun sesudah peristiwa salib oleh seorang warga Essene di Yerusalem kepada seorang anggota perkumpulan itu di Iskandaria, memberi dukungan yang kuat kepada pendapat bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah diturunkan dari salib dalam keadaan masih hidup.  Buku itu menceriterakan secara terinci semua kejadian yang menjurus kepada peristiwa salib, pemandangan di bukit tempat terjadinya penyaliban dan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian.  
     Dua pendapat yang berbeda tersebar di tengah-tengah orang-orang Yahudi mengenai dugaan wafat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   karena penyaliban. Beberapa di antara mereka berpendapat bahwa beliau pertama-tama dibunuh, kemudian badan beliau digantung pada tiang salib, sedang yang lainnya berpendapat bahwa beliau dibunuh dengan dipakukan pada tiang salib. Pendapat yang pertama tercermin dalam Kisah Rasul-rasul 5:50, kita baca: "Yang sudah kamu ini bunuh dan menggantungkan Dia pada kayu itu."
  Al-Quran membantah kedua pendapat ini dengan mengatakan: وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ     --  "mereka tidak membunuhnya, dan tidak pula mematikannya di atas salib." Pertama Al-Quran menolak pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam bentuk apapun, dan selanjutnya menyangkal cara pembunuhan yang khas dengan jalan menggantungkan pada salib. Al-Quran  tidak menolak pendapat bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sempat  digantung pada tiang salib, hanya saja Al-Quran  menyangkal beliau wafat  di atas tiang salib.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,   19 Februari 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar