Bismillaahirrahmaanirrahiim
KITAB SUCI AL-QURAN
“Kitab Suci Al-Quran
adalah kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak
menyadarinya ”
“Setiap saat hatiku
merindukan untuk mencium Kitab Engkau
dan melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan
Kabahku”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Karunia Keberkatan
dan Hikmah Ilahi Serta
Terbukanya “Hijab” Al-Quran Kepada Hamba-hamba Allah yang Hakiki
Bab 32
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam
bagian akhir Bab sebelumnya telah
dijelaskan mengenai makna
"amal saleh" dalam ayat اِلَّا مَنۡ تَابَ وَ اٰمَنَ وَ عَمِلَ
صَالِحًا -- Kecuali orang yang bertaubat dan beriman serta beramal saleh فَاُولٰٓئِکَ
یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ وَ لَا یُظۡلَمُوۡنَ شَیۡئًا -- maka mereka
itulah akan masuk surga, dan mereka
tidak akan dizalimi sedikit pun” (Maryam
[19]:59-61), kata “amal shaleh” lebih
tepat dikenakan kepada amal-perbuatan
yang dilakukan pada keadaan yang tepat
serta sesuai dengan tuntutan waktu, daripada dikenakan hanya
kepada ibadah-ibadah belaka seperti
umumnya anggapan orang, yang dalam
kenyataannya tidak mampu menjadikan akhlak
dan ruhani si pelakunya menjadi lebih
baik – sebagaimana khasiat shalat (QS.29:46; QS.107:1-8) -- akibatnya
berbagai bentuk musibah dan azab Ilahi terus menerus
terjadi walau pun berbagai ritual “peribadahan”
pun tetap dikerjakan, firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ
اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman?
Dan Allah
benar-benar Maha Menghargai, Maha
Mengetahui (An-Nisā [4]:148).
Firman-Nya lagi:
وَ
اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکُمۡ
لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ
وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ
عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾ وَ قَالَ
مُوۡسٰۤی اِنۡ تَکۡفُرُوۡۤا اَنۡتُمۡ وَ
مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا ۙ فَاِنَّ اللّٰہَ لَغَنِیٌّ حَمِیۡدٌ ﴿﴾ اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ نَبَؤُا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ
قَوۡمِ نُوۡحٍ وَّ عَادٍ وَّ ثَمُوۡدَ ۬ؕۛ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ؕۛ
لَا یَعۡلَمُہُمۡ اِلَّا اللّٰہُ ؕ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُہُمۡ
بِالۡبَیِّنٰتِ فَرَدُّوۡۤا اَیۡدِیَہُمۡ فِیۡۤ
اَفۡوَاہِہِمۡ وَ قَالُوۡۤا اِنَّا کَفَرۡنَا بِمَاۤ اُرۡسِلۡتُمۡ
بِہٖ وَ اِنَّا لَفِیۡ شَکٍّ مِّمَّا تَدۡعُوۡنَنَاۤ اِلَیۡہِ
مُرِیۡبٍ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) kamu
mengumumkan: ”Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya akan
Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu, وَ لَئِنۡ
کَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ -- tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat keras.”
وَ قَالَ مُوۡسٰۤی
اِنۡ تَکۡفُرُوۡۤا اَنۡتُمۡ
وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا -- Dan Musa berkata: “Jika kamu
kafir, kamu dan siapa pun yang ada
di bumi ini semuanya tidak akan memu-daratkan Allah sedikit pun فَاِنَّ اللّٰہَ لَغَنِیٌّ حَمِیۡدٌ -- karena sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ نَبَؤُا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ قَوۡمِ نُوۡحٍ وَّ
عَادٍ وَّ ثَمُوۡدَ ۬ؕۛ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ -- Bukankah
telah datang kepada kamu berita mengenai orang-orang yang sebelum kamu, yaitu kaum Nuh, ‘Ād, Tsamūd, dan orang-orang yang sesudah mereka? لَا یَعۡلَمُہُمۡ
اِلَّا اللّٰہُ -- Tidak
ada yang mengetahui mereka kecuali Allah.
جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ -- Telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka
dengan Tanda-tanda yang nyata, فَرَدُّوۡۤا اَیۡدِیَہُمۡ فِیۡۤ
اَفۡوَاہِہِمۡ وَ قَالُوۡۤا -- tetapi mereka meletakkan tangan mereka pada mulutnya وَ قَالُوۡۤا اِنَّا کَفَرۡنَا بِمَاۤ اُرۡسِلۡتُمۡ
بِہٖ وَ اِنَّا لَفِیۡ شَکٍّ مِّمَّا تَدۡعُوۡنَنَاۤ اِلَیۡہِ
مُرِیۡبٍ -- dan berkata: “Sesungguhnya
kami tidak percaya kepada apa yang
dengan itu kamu telah diutus, dan sesungguhnya
kami benar-benar ada dalam keraguan yang sangat menggelisahkan mengenai apa yang kamu seru kami kepadanya”
(Ibrahim
[14]:8-10).
Karunia Berkat dan Hikmah Bagi Penganut
Al-Quran
Dalam rangka mewujudkan “langit baru dan bumi baru”
ruhani (QS.14:49-53) berupa “kejayaan Islam” kedua kali (QS.61:10) di
Akhir Zaman ini, lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan karunia serta berkat khusus yang dianugerahkan Allah Swt. terhadap para penganut Al-Quran yang hakiki, antara lain berupa penganugerahan hikmah
(kebijakan):
“Karunia yang dilimpahkan kepada para penganut Kitab Suci Al-Quran dan berkat khusus yang mereka terima amat
sulit diungkapkan dalam kata-kata. Namun sebagian
di antaranya adalah sedemikian akbarnya
sehingga patutlah diuraikan secara rinci sebagai petunjuk bagi para pencari
kebenaran.
Termasuk di dalamnya adalah pengetahuan
dan wawasan yang dikaruniakan kepada para penganut yang sempurna. Ketika seseorang mematuhi
sepenuhnya petunjuk Al-Quran, mengikat
dirinya secara total kepada perintah-perintahnya,
mencamkan petunjuknya dengan kecintaan yang tulus dan sempurna serta
tidak mengurangi sama sekali ketaatannya, maka pengamatan
dan perenungan kalbu yang
bersangkutan akan memperoleh Nur, dimana ia akan diberikan kesadaran akan mutiara-mutiara
hikmah pengetahuan Ilahiah yang tersembunyi
di dalam firman-firman Tuhan, dan pengertian
yang dalam akan turun ke kalbu mereka laiknya hujan yang
lebat. Dalam Al-Quran, pengertian
yang dalam ini diberi nama kebijakan (hikmah) sebagaimana
diungkapkan dalam ayat:
یُّؤۡتِی الۡحِکۡمَۃَ مَنۡ
یَّشَآءُ ۚ وَ مَنۡ یُّؤۡتَ الۡحِکۡمَۃَ فَقَدۡ اُوۡتِیَ خَیۡرًا کَثِیۡرًا
Dia
memberi kebijakan (hikmah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan barangsiapa diberi kebijakan (hikmah)
maka sungguh ia telah diberi
berlimpah-limpah kebajikan (Al-Baqarah [2]:270).
Pengetahuan dan pemahaman yang disebut sebagai kebijakan (hikmah) tersebut bersifat amat komprehensif (lengkap) dengan segala hal yang baik, laiknya sebuah samudra luas yang dikaruniakan kepada
para penganut firman Ilahi. Pengamatan dan perenungan mereka diberkati
sedemikian rupa, sehingga kebenaran luhur akan tercermin dalam jiwa mereka, dan kebenaran sempurna akan dibukakan bagi mereka. Bantuan Ilahi akan memberikan segala sarana, sehingga telaah
yang mereka lakukan akan sempurna
dan tidak mengandung kesalahan.
Terbukanya “Hijab” Al-Quran Bagi Hamba-hamba
Allah yang Hakiki
Berkat ini semua maka pengetahuan,
wawasan, argumentasi, bukti-bukti
dan mutiara-mutiara ruhani yang
mereka peroleh akan bersifat lengkap
dan sempurna, sehingga tidak
bisa dipadani oleh orang-orang lain. Tidak dengan kemampuannya sendiri mereka itu bisa mencapai keluhuran batin demikian karena mereka ini selalu dibimbing oleh pemahaman tersembunyi dan dukungan
Ilahi.
Melalui kekuatan pemahaman
tersebut mereka akan menemukan rahasia-rahasia dan Nur dari Al-Quran, yang tidak mungkin
dicapai semata-mata dengan menggunakan
logika manusia yang lemah. Pengetahuan dan wawasan yang dikaruniakan kepada mereka serta mutiara-mutiara hikmah dan kesadaran
yang dalam akan Wujud dan Sifat-sifat Ilahi
-- disamping pengetahuan tentang akhirat -- semuanya itu bersifat ruhaniah, dan hal ini dalam pandangan
orang-orang bijak dianggap bersifat
lebih luhur dan lebih agung
daripada mukjizat dzahir.
Dalam pandangan orang-orang bijak, nilai dan kedudukan
seorang hamba Allah ditentukan oleh karunia luar biasa tersebut. Semuanya
itu merupakan hiasan bagi keluhuran derajat mereka yang memperindah penampilan mereka. Sudah
menjadi bagian dari fitrat manusia bahwa kekaguman
akan pengetahuan dan wawasan yang benar, paling besar pengaruhnya atas fitrat
mereka, serta kebenaran dan pemahaman
menjadi lebih berharga baginya
dibanding apa pun lainnya.
Jika misalnya diperkirakan bahwa ada seorang saleh yang memperoleh kasyaf
(terbuka hijab) dan diberikan kesadaran
akan hal-hal yang tersembunyi
(gaib), mendisiplinkan dirinya
secara ketat, tetapi yang
bersangkutan tidak memahami pengetahuan
Ilahiah sehingga ia tidak bisa membedakan
antara kebenaran dengan kedustaan, terperangkap dalam cara
berfikir dan akidah yang salah,
cenderung lemah dan melakukan kesalahan dalam segala hal,
maka dalam pandangan orang-orang waras
yang bersangkutan itu dianggap orang hina dan rendah.
Seseorang yang dianggap bodoh
dalam pandangan mereka yang bijak,
serta tidak disukai karena selalu
mengeluarkan kata-kata yang tolol,
tidak akan bisa dihormati oleh orang-orang bijak dan akan tampak
sebagai manusia rendah, betapa pun
yang bersangkutan terlihat saleh dan
khusyuk. Hal ini menunjukkan bahwa kemuliaan ruhani dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan wawasan Ilahiah merupakan karakteristik pokok dari seorang hamba Allah dan menjadi persyaratan bagi pengakuan keagungan keimanannya.
Semua itu akan dikaruniakan
secara sempurna kepada mereka yang mengikuti Al-Quran dengan sepenuh
hati. Walaupun nyatanya mereka itu katakanlah tidak terpelajar berkaitan dengan ilmu-ilmu yang ada di dunia
sekarang ini, mereka itu jauh melebihi
yang lainnya dalam penguasaan
mutiara-mutiara hikmah dan pengetahuan
Ilahiah, sehingga para lawan
mereka akan terkagum mendengar khutbah atau membaca karya tulis mereka,
sehingga para lawan itu harus
mengakui bahwa pengetahuan dan wawasan
mereka adalah dari dunia lain
yang diwarnai dengan pertolongan Tuhan.
Salah satu bukti mengenai hal
ini ialah jika ada yang menentang mereka
itu lalu membandingkan khutbah mereka yang berkaitan dengan Ketuhanan dengan khutbah orang lainnya, ia akan terpaksa
mengakui (jika ia memang adil dan jujur) bahwa khutbah mereka itulah yang benar
adanya. Dengan berkembangnya telaah akan muncul lebih banyak lagi mutiara-mutiara hikmah yang membuktikan secara gamblang kebenaran mereka. Kami sendiri siap
memberikan bukti demikian kepada
setiap pencari kebenaran.
Meraih Kesucian Akhlak dan Ruhani
Karunia lainnya adalah keadaan tanpa dosa yang juga merupakan
bentuk lain penjagaan Ilahi. Karunia
ini diberikan kepada para penganut
sempurna Kitab Suci Al-Quran sebagai suatu berkat yang luar biasa. Yang dimaksud keadaan tanpa dosa ialah pengertian bahwa mereka itu dipelihara dari kebiasaan-kebiasaan,
fikiran, akhlak dan kelakuan buruk
yang berkaitan dengan hubungan antar
manusia sehari-hari. Kalau mereka misalnya terpeleset maka rahmat Tuhan
akan segera memperbaiki keadaan
mereka.
Kedudukan tanpa dosa demikian
sesungguhnya amat peka dan
sepenuhnya berseberangan dengan tuntutan batin yang mengajak kepada dosa. Perolehan kondisi demikian hanya mungkin
berkat perhatian Tuhan yang khas. Sebagai contoh, jika orang
kebanyakan diminta untuk secara mutlak tidak
berdusta tentang urusan, bicara, profesi dan jabatan,
maka hal itu akan menjadi suatu yang mustahil
baginya. Meski pun ia berusaha
dengan segala upaya namun ia akan menghadapi berbagai kendala, sehingga pada akhirnya ia
menjadikan prinsip pandangan hidupnya
bahwa dalam masalah dunia adalah
suatu hal yang mustahil untuk
menghindari kedustaan.
Adapun mereka yang beruntung
karena mengikuti petunjuk Al-Quran
dengan sepenuh hasrat dan kecintaan, tidak saja akan mudah bagi mereka untuk menghindari berbicara dusta bahkan juga mereka
diberi kekuatan untuk meninggalkan segala hal yang tidak berguna. Allah Yang Maha Agung dengan rahmat-Nya
yang sempurna akan memelihara mereka dari segala keadaan yang akan merugikan karena mereka itu adalah Nur dunia, dan dalam keselamatan mereka
terletak keselamatan dunia, jika
mereka celaka maka celaka jugalah dunia ini.
Atas dasar pertimbangan demikian maka mereka mendapat pemeliharaan -- dalam fikiran, pengetahuan, pemahaman, kemarahan, nafsu, ketakutan, ketamakan, kemiskinan, kekayaan, kegembiraan dan kesedihan, kesulitan dan
kenyamanan -- dari tindakan
yang sia-sia dan fikiran kotor, dari pengetahuan yang salah dan perilaku tidak layak, pokoknya dalam segala segi kehidupan sebagai manusia.
Mereka sendiri tidak akan mempertahankan
apa pun yang tidak patut karena Tuhan Sendirilah yang menjadi Penjaga mereka. Jika Dia melihat ada ranting kering di pohon (pribadi) mereka yang suci
maka Dia Sendiri yang akan memangkasnya dengan Tangan Yang Rahim. Pertolongan Ilahi selalu mengawasi
mereka setiap saat.
Karunia Perlindungan Ilahi & Kecintaan
Kepada Allah Swt.
Karunia perlindungan ini
bukannya tanpa bukti. Seorang yang arif
bisa memuaskan keingintahuannya
dengan cara bersahabat dengan mereka
meski untuk waktu yang tidak terlalu lama. Mata
air suci ini tidak tersedia bagi sembarang
orang selain bagi mereka. Adapun mereka sendiri menikmatinya dengan kesenangan
dan kegembiraan.
Nur
pemahaman telah membantu mereka
sedemikian rupa, sehingga walaupun tidak memiliki sumber daya atau sarana apa pun, hidup mereka tetap saja
diisi kegembiraan dan mereka merasa kaya-raya, seolah-olah mempunyai harta-karun berlimpah.
Penampilan mereka
memperlihatkan kesemarakan kekayaan
dan kepastian laku (seperti) orang kaya. Dalam keadaan sulit, mereka
beriman sepenuhnya kepada Tuhan mereka dengan hati yang gembira dan kepastian
yang sempurna. Mereka terbiasa berkurban sedangkan mengkhidmati orang lain menjadi kebiasaan sehari-hari mereka. Meski pun
seluruh dunia ini mengaku menjadi keluarganya, mereka tidak akan merasa kesulitan.
Mereka selalu bersyukur
kepada Allah Yang Maha Perkasa, Yang menutupi
kekurangan mereka di segala bidang dan setiap saat. Mereka akan diselamatkan Tuhan sebelum bencana datang menimpa mereka karena Tuhan menjadi Pelindung mereka dalam segala hal, sebagaimana difirmankan:
ہُوَ یَتَوَلَّی الصّٰلِحِیۡنَ
Dia melindungi orang-orang saleh
(Al-A’rāf [7]:197).
Manusia lainnya dibiarkan menghadapi cobaan dunia, karena perlakuan istimewa yang diberikan
kepada mereka ini tidak ada diberikan kepada yang lainnya. Karakteristik demikian bisa disaksikan dengan cara bersahabat dengan mereka.
Karunia lainnya adalah kasih Allah secara langsung kepada para
penganut Kitab Suci Al-Quran. Kecintaan kepada Allah sedemikian merasuk
dalam kalbu, sehingga menjadi inti kehidupan mereka. Kecintaan
luar biasa kepada Wujud Ilahi meruap
(meluap) dari hati mereka, dan kasih
serta hasrat menguasai diri mereka
sedemikian rupa yang membuat mereka menjadi sama sekali berbeda dari manusia umumnya. Kasih
kepada Allah Swt. marak dalam kalbu mereka, sehingga pada kondisi khusus bisa juga terlihat
oleh orang-orang yang mendampingi mereka.
Mustahil bagi mereka menyembunyikan kecintaan demikian, sama
mustahilnya dengan pencinta duniawi menyembunyikan kasih kepada apa yang dicintainya. Kecintaan yang meresapi cara bicara,
cara memandang, mata mereka, penampilan
dan fitrat, terlihat dari ujung kaki sampai ke ujung
rambut di kepala dan tidak bisa disembunyikan.
Makna Lain “Dinginnya Api” Bagi Hamba-hamba
Allah
Apa pun yang mereka kerjakan orang akan melihat ciri-cirinya. Ciri utama
dari ketulusan mereka adalah mereka itu
lebih memilih Yang Maha Terkasih dibanding apa pun, dan ketika mereka mengalami kesulitan, mereka memandangnya sebagai karunia dari kecintaan mereka yang berlebih,
sedangkan siksaan dunia bagi mereka
menjadi minuman nikmat.
Tidak ada pedang setajam apa
pun mampu memisahkan mereka dari Wujud Yang dikasihi, dan tidak ada bencana sebesar apa pun yang akan bisa membuat mereka melupakan Dia. Mereka menganggap kecintaan kepada Allah Swt. sebagai pokok kehidupan mereka dan menemukan kegembiraan mereka di dalamnya. Mereka
melihat eksistensi kecintaan
demikian sebagai eksistensi diri
mereka sendiri dan sebagai tujuan
dari hidup mereka.
Mereka hanya menyukai Dia dan
menemukan ketentraman dalam Dia. Di dunia ini mereka hanya memiliki Dia dan sepenuhnya menjadi milik-Nya. Mereka hidup dan mati hanya untuk Dia.
Meskipun mereka ada di dunia namun
sebenarnya mereka berada di luar dunia.
Mereka tidak mempedulikan kedudukan, nama, harkat atau pun kesenangan. Mereka meninggalkan semuanya demi
Dia dan menyerahkan segalanya untuk menemukan Dia.
Mereka terbakar dalam api yang tidak kelihatan dan tidak bisa menjelaskan kenapa mereka terbalut api seperti itu. Mereka menutup telinga dan membisu terhadap segala peringatan (ancaman) serta siap menderita segala kesulitan dan mudharat, bahkan menemukan kegembiraan
hidup di dalamnya.
Karunia lainnya adalah akhlak mulia seperti kedermawanan, keberanian, pengurbanan,
keteguhan tekad, sifat pengasih, kesabaran, kerendahan hati
dan keakraban persahabatan. Semua
sifat demikian mereka perlihatkan dengan cara
terbaik dan berkat mengikuti
Al-Quran, mereka akan tetap memperlihatkan sifat-sifat demikian sampai akhir
hayat mereka, tanpa ada yang bisa
mencegah mereka menonjolkan
(memperagakan) sifat-sifat itu.
Adalah suatu kenyataan bahwa setiap sifat
mulia -- baik yang berkaitan dengan intelektual,
akhlak atau pun perilaku -- yang dimanifestasikan (diperagakan) manusia,
sesungguhnya bukanlah karena kekuatan dirinya sendiri. Manifestasi demikian hanya bisa muncul
karena berkat rahmat Allah Swt.. Karena para penganut Al-Quran itu adalah mereka yang menerima rahmat Ilahi lebih daripada orang-orang lainnya maka Allah
Yang Maha Kuasa -- berkat rahmat-Nya
yang tidak berkeputusan -- akan mengaruniakan
semua akhlak mulia kepada mereka.
Dengan kata lain, tidak ada
seorang pun bisa dikatakan benar-benar
baik kecuali Allah Swt. saja,
dan semua akhlak mulia serta kebaikan berpusat pada Wujud-Nya. Seberapa tinggi derajat seseorang meninggalkan kepentingan dunia dan dirinya untuk mendekati Tuhan, sebanyak itu pula Sifat-sifat Ilahi yang akan tercermin di dalam dirinya.
Menjadi Refleksi (Pantulan) Sifat-sifat
Ilahi
Dengan demikian sifat-sifat mulia
dan adab seorang manusia ditentukan
oleh kedekatannya kepada Tuhan,
karena atas kadar
(kemampuan) dirinya sendiri sesosok makhluk tidak ada artinya sama sekali. Karena itu refleksi dari Sifat-sifat
akhlak Ilahi akan tercermin di dalam hati
mereka yang mengikuti Al-Quran
secara sempurna.
Pengalaman menunjukkan bahwa perilaku suci, hasrat keruhanian serta luapan
kecintaan yang dimanifestasikan (diperagakan) mereka dalam bentuk akhlak mulia tidak ada padanannya di
mana pun di dunia. Setiap orang bisa saja mengaku-aku
atau membual tentang dirinya sendiri, namun hanya para penganut Al-Quran saja yang bisa melewati dengan selamat cobaan pintu
pengalaman yang sempit.
Sifat-sifat mulia yang
ditunjukkan oleh orang lain sesungguhnya bersifat artifisial (buatan/dibuat-buat) dengan cara menyembunyikan kekurangan diri dan penyakit batinnya. Orang-orang seperti ini hanya bisa mengemukakan tampilan palsu dan realitasnya segera nyata
jika ada cobaan sedikit saja. Mereka
hanya berpura-pura memiliki akhlak mulia agar tatanan kehidupan mereka tidak terganggu, karena jika mereka mengikuti
kelemahan kalbunya maka kehidupan mereka akan terganggu.
Walaupun mereka itu memang
ada membawa benih sifat-sifat yang baik sejalan dengan kapasitas alamiah mereka, namun benih itu terkungkung oleh semak
duri nafsu ego mereka. Sifat-sifat
demikian tidak dimanifestasikan demi
Tuhan mereka karena tercampur dengan keinginan-keinginan
pribadi, sehingga tidak mungkin mencapai kesempurnaan.
Benih seperti itu bisa berkembang penuh secara sempurna hanya pada orang-orang yang mengabdikan dirinya kepada Tuhan
semata, dimana kalbunya dipenuhi Allah Yang Maha Agung dengan Sifat-sifat-Nya yang suci. Dia menjadikan akhlak
mulia sebagai dambaan bagi
mereka sebagaimana juga yang berlaku
pada Wujud-Nya.
Melalui pengabdian, mereka akan mencapai derajat tinggi dimana mereka akan tersalut dengan Sifat-sifat
Ilahi sehingga mereka itu menjadi sarana
di Tangan Allah Yang Maha Perkasa
untuk memanifestasikan (mewujudkan) Sifat-sifat-Nya Sendiri. Dia melihat
bagaimana mereka lapar dan haus
maka Dia Yang Maha Esa lalu memberikan mereka minum dari mata air suci milik-Nya.
Menjadi “Muslim” yang Hakiki
Karunia akbar lainnya yang
diberikan kepada para pengikut Al-Quran
yang sempurna adalah keadaan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Meski pun mereka memiliki kelebihan-kelebihan, tetapi mereka tetap
memperhatikan segala kekurangan diri
mereka, dan di hadapan keagungan Allah Yang Maha Perkasa mereka
menghabiskan waktu dengan merendahkan
diri mereka.
Mereka menyadari diri mereka
sebagai orang yang hina, miskin dan papa, penuh dengan cacat cela
dan kesalahan. Mereka selalu takut dan menganggap kemuliaan yang diberikan kepada mereka
hanyalah Nur yang bersifat sementara, laiknya sinar
matahari yang terpantul di dinding,
yang bisa lenyap setiap saat
seperti baju pinjaman yang ditarik
(dambil) kembali oleh pemiliknya.
Bagi mereka, semua kebaikan
dan kemuliaan hanya ada pada Tuhan dan menganggap Wujud-Nya Yang sempurna sebagai mata air semua hal yang baik. Dengan memperhatikan Sifat-sifat Ilahi maka hati
mereka dipenuhi keyakinan bahwa mereka
sesungguhnya bukan apa-apa, sehingga
mereka lalu meninggalkan eksistensi
(keberadaan) mereka sendiri, beserta segala nafsu dan keinginan
mereka.
Gelora ombak samudra keagungan
Ilahi menyelimuti hati mereka
sedemikian rupa, sehingga mereka menjadi
fana (larut/lenyap) sama sekali dari
segala hal, lalu mereka dibersihkan
dan disucikan dari keraguan sekecil apa pun atas Ke-Esa-an Tuhan.
Anugerah Berkomunikasi Dengan Allah Swt.
Karunia lain lagi bagi mereka
adalah pemahaman dan pengenalan mereka akan Tuhan menjadi lengkap dan sempurna
melalui penerimaan kasyaf dan pengetahuan batin, wahyu yang nyata, kesempatan berbicara
dengan Tuhan serta pengalaman supra-natural lainnya
sedemikian rupa, sehingga di antara
mereka dengan dunia berikutnya hanya
ada sehelai tabir tembus pandang yang melaluinya mereka dapat menyaksikan kehidupan lain tersebut
saat masih di dunia ini.
Orang-orang lain tidak mungkin bisa mencapai tingkatan ini karena kitab-kitab
mereka penuh dengan kegelapan
yang menjadi ratusan tabir yang menutupi mata mereka dan menjadikan penyakit batin mereka berkembang sampai
saatnya ajal mereka. Bahkan para filosof yang sekarang ini dianut oleh
golongan Brahmo Samaj serta mereka
yang agamanya berdasarkan logika sesungguhnya berkekurangan dalam cara kehidupan mereka.
Kekurangan mereka antara lain
tercermin dari pemahaman mereka yang
tidak bisa mencapai penalaran dan perkiraan yang jelas. Bisa dipastikan
bahwa mereka yang pemahamannya terbatas
hanya pada hal-hal yang bisa dilihat
mata saja -- yang sebenarnya cenderung banyak
salahnya -- mereka ini berada pada posisi intelektual yang amat rendah dibanding orang-orang yang telah
mencapai tingkat pemahaman yang jelas.
Lebih jauh dari tingkatan observasi
dan perenungan, ada tingkatan lain yang bersifat nyata
dengan sendirinya. Kaum Brahmo Samaj
menyangkal eksistensi
(keberadaan) tingkatan nyata dengan sendirinya itu, namun mereka mengakui bahwa jika hal itu memang ada
secara eksternal maka jelas hal itu
akan bersifat lebih akbar dan lebih sempurna dimana semua kekurangan dari observasi dan perenungan
manusia akan bisa dipenuhi.
Meraih Derajat “Haqqul-Yaqin”
Setiap orang dapat memahami,
bahwa suatu hal yang dianggap
sebagai nyata dengan sendirinya bersifat memiliki tingkatan yang lebih luhur dan sempurna dibanding tingkat perenungan
saja. Sebagai contoh, jika melalui observasi
tentang penciptaan alam, seorang yang bijak
dan bersih hatinya akan mengambil kesimpulan bahwa semua ini sepatutnya ada sosok Pencipta-nya, sedangkan mereka para
penganut Al-Quran melihat bahwa dengan pemahaman
Ilahi yang terang dan jelas itu sendiri sudah menjadi argumentasi kuat yang mendukung eksistensi (keberadaan) Wujud-Nya, karena makhluk-Nya itu telah menerima wahyu, dan sebelum sesuatu diungkapkan
mereka itu sudah menyadarinya dan Tuhan mengabulkan permohonan mereka.
Tuhan berbicara dengan mereka
dan kehidupan di akhirat dibukakan
bagi mereka melalui kasyaf serta
mereka mendapat kejelasan sempurna
tentang imbalan (ganjaran) dan penghukuman serta berbagai rahasia kehidupan akhirat lainnya.
Tidak diragukan lagi bahwa semua hal tersebut telah menjadikan keyakinan mencapai taraf yang paling sempurna dan lengkap, dimana mereka telah dibawa dari keadaan ruang lingkup pandangan yang sempit ke puncak menara kesadaran.
Berbicara dengan Tuhan
merupakan tahap tertinggi dari
tingkat-tingkat kesadaran, karena hanya melalui itulah maka manusia menemukan hal-hal yang tersembunyi,
mendapat pencerahan tentang berkat-berkat yang dikaruniakan Allah Swt. kepada hamba-hamba-Nya yang lemah, memperoleh kenikmatan dari pembicaraan yang berberkat
dengan Tuhan serta mengetahui keridhaan Allah.
Dengan semuanya itu maka ia akan mendapatkan kekuatan akbar untuk melawan
daya tarik jahat dunia ini. Ia dikaruniai
dengan daya tahan dan keteguhan hati. Bersamaan dengan itu ia
diberikan pengetahuan dan pemahaman tingkat tinggi serta mutiara-mutiara hikmah keruhanian yang
tidak mungkin diperoleh tanpa bimbingan
Ilahi secara khusus.
Pentingnya Bergaul Dengan Orang-orang Shadiq
(Benar) yang Hakiki
Kalau ada yang bertanya, bagaimana mungkin semua hal yang katanya didapat dengan cara mematuhi Al-Quran tersebut memang benar
ada di dalam agama Islam? Maka
jawabannya adalah, bahwa pengetahuan demikian bisa didapat
dengan cara mengakrabi mereka yang
telah mendapatkan pengalaman
demikian.
Kami sudah beberapa kali
mengutarakan hal ini dan akan mengulanginya,
bahwa harta karun akbar ini
hanya bisa ditemukan di dalam Islam
dan tidak terdapat pada agama
lainnya. Kami bersedia memberikan bukti-bukti kepada para pencari kebenaran.
Jika ada yang diilhami dengan
itikad baik untuk meneliti secara sabar dan keteguhan hati maka
semua hal tersebut akan dibukakan
kepadanya setara dengan kapasitas
dan kemampuan dirinya, asalkan ia
mau bersahabat dengan kami.” (Brahin-i-
Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. I, hlm. 532-545, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 9 Februari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar