Selasa, 12 Januari 2016

Keselarasan Ajaran Al-Quran Dengan "Fitrat" Manusia dan Alam Semesta & "Pujian Khusus" Allah Swt. Mengenai "Keprihatinan" Nabi Besar Muhammad Saw.



Bismillaahirrahmaanirrahiim


KITAB SUCI AL-QURAN

Kitab Suci Al-Quran adalah kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak menyadarinya

“Setiap saat hatiku merindukan untuk mencium Kitab  Engkau dan melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan Kabahku”

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


Keselarasan Ajaran Al-Quran Dengan Fitrat Manusia dan Alam Semesta &  “Pujian Khusus” Allah Swt. Mengenai  Keprihatinan Besar Nabi Besar Muhammad Saw.

Bab 9


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya dikemukakan mengenai penerapan hukum syariat yang tepat  sesuai situasi dan kondisi bagi  perbaikan akhlak dan ruhani  pihak yang dikenai hukum syariat tersebut  dinamakan “amal shaleh.”   Itulah sebabnya Allah Swt. telah menyebut  umat Islam sebagai “umatan wasathan” (QS.2:144) sebagai  ganti sebutan khayra ummah” (umat terbaik- QS.3:111), firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ  اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ ؕ وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً  اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ  ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Dan demikianlah Kami menjadikan kamu اُمَّۃً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا  -- satu umat yang mulia supaya kamu senantiasa menjadi penjaga manusia dan supaya Rasul itu senantiasa menjadi penjaga kamu. Dan Kami sekali-kali tidak menjadikan  kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat melainkan supaya Kami mengetahui orang yang mengikuti Rasul dari orang yang berpaling di atas kedua tumitnya. Dan sesungguhnya hal ini benar-benar sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah menyia-nyiakan iman kamu, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih, Maha Penyayang terhadap manusia. (Al-Baqarah [2]:144)
     Al-wasath berarti: menempati kedudukan di tengah; baik dan mulia dalam pangkat (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Kata itu dipakai di sini dalam arti baik dan mulia. Dalam QS.3:111 pun kaum Muslimin disebut “kaum terbaik. Jadi, sebagaimana  menjadi tugas dan kewajiban  seorang wasit (wasath) untuk memimpin jalan pertandingan (perlombaan) sesuai aturan perlombaan  agar tidak terjadi kecurangan atau ketidak-adilan serta kezaliman, demikian pula  tugas dan kewajiban umat Islam sebagai ummatan wasathan atau khayra ummah dalam mengamalkan syariat Islam (Al-Quran)  --  termasuk dalam masalah penghukuman atau pun pengampunan berkenaan dengan para pelanggar aturan syariat   -- yakni tidak selalu menekankan kepada satu sisi  pembalasan (penghukuman)  atau pun pengampunan (pemaafan), sebagaimana sabda Masih  Mau’ud a.s.
   “Kesucian dan kesempurnaan ajaran Kitab Suci Al-Quran memberi kehidupan bagi setiap sendi masyarakat manusia. Al-Quran tidak ada menekankan penanganan satu sisi saja. Terkadang Al-Quran menyuruh kepada kesabaran dan pengampunan dalam hal-hal tertentu, tetapi juga bisa menentukan hukuman bagi para pelanggar jika dianggap perlu.
   Sesungguhnya Al-Quran itu merupakan gambaran dari hukum alam Ilahi yang ada di sekeliling kita. Kitab ini sepenuhnya masuk akal dimana firman Tuhan dan hasil kinerja Tuhan adalah bersesuaian satu dengan lainnya. Sebagaimana hasil karya Tuhan itu nampak di alam, maka Kitab Allah yang sempurna ini juga sejalan dengan hasil kinerja tersebut. Kita sendiri ada melihat dalam kinerja Tuhan bahwa tidak selamanya selalu harus ada pengampunan dan kesabaran semata,  karena nyatanya Dia juga menghukum para pendosa dengan berbagai bentuk bala (azab).
      Hukuman demikian ada juga termaktub dalam Kitab-kitab sebelumnya. Tuhan kita tidak saja Maha Pengasih tetapi juga Maha Bijaksana dan siksaan-Nya sungguh berat. Kitab yang haqiqi adalah yang sejalan dengan kaidah hukum alam ini, sedangkan firman-Nya yang haqiqi adalah yang selalu konsisten (selaras) dengan kinerja-Nya. Kita sendiri melihat bahwa Tuhan tidak selalu memperlakukan makhluk-Nya dengan kesabaran dan pengampunan saja, karena sekali-kali bila dianggap perlu Dia akan menurunkan hukuman juga.
    Bahkan sekarang ini pun Allah Yang Maha Kuasa telah menyampaikan nubuat kepadaku bahwa untuk menghukum para pendosa,  Dia akan menzahirkan gempa bumi dahsyat yang akan menghancurkan mereka.” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 346-347, London, 1984).
        Bagian akhir sabda Masih Mau’ud a.s.  yakni:  “Kitab yang haqiqi adalah yang sejalan dengan kaidah hukum alam ini, sedangkan firman-Nya yang haqiqi adalah yang selalu konsisten (selaras) dengan kinerja-Nya. Kita sendiri melihat bahwa Tuhan tidak selalu memperlakukan makhluk-Nya dengan kesabaran dan pengampunan saja, karena sekali-kali bila dianggap perlu Dia akan menurunkan hukuman juga.
    Bahkan sekarang ini pun Allah Yang Maha Kuasa telah menyampaikan nubuat kepadaku bahwa untuk menghukum para pendosa,  Dia akan menzahirkan gempa bumi dahsyat yang akan menghancurkan mereka,” penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut adalah sebagai akibat ketidak-bersyukuran  terhadap kedatangan beliau sebagai Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan nama yang berlainan (QS.4:148; QS.14:8; QS.17:16; QS.77:12).

Keselarasan Al-Quran dengan Fitrat Manusia

    Sehubungan dengan kesempurnaan ajaran Islam (Al-Quran) dalam segala seginya selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Allah Yang Maha Agung,  Yang mengetahui segala rahasia di dalam hati, menjadi Saksi bahwa barangsiapa yang mampu menunjukkan adanya kelemahan dalam ajaran yang dibawah Al-Quran  -- bahkan sampai seperseribu besarnya dzarah debu -- atau bisa mengemukakan keunggulan kitabnya sendiri yang berbeda dengan Al-Quran serta menunjukkan bahwa kitabnya itu lebih unggul, maka kami bersedia dihukum mati sekali pun.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  298, London, 1984).
   Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai keselarasan ajaran Al-Quran dengan fitrat manusia:
     “Dari semua Kitab yang diwahyukan yang ada sekarang  hanya Al-Quran saja yang sejalan dengan fitrat manusia. Akidahnya demikian sempurna dan pasti,  sehingga bukti-bukti nyata yang ada menjadi saksi akan kebenarannya. Perintah-perintah yang terkandung di dalamnya didasarkan atas kebenaran. Ajaran yang dikemukakannya bebas sama sekali dari segala bentuk polytheisme, bid’ah dan penyembahan makhluk lainnya.
    Kitab ini menggiring manusia ke arah manifestasi Ketauhidan dan Keagungan Ilahi serta kesempurnaan [Tuhan] Yang Maha Terpuji. Di dalamnya penuh dengan norma-norma Ketauhidan Ilahi serta bebas dari kekurangan, kelemahan atau sifat tidak sempurna  Sang Maha Pencipta. Kitab ini tidak semata-mata memaksakan suatu akidah hanya berdasar kekuasaan semata, tetapi memberikan alasan atas kebenaran dari ajarannya tersebut.
   Kitab tersebut menjelaskan setiap arah tujuan yang harus dicapai dengan bukti-bukti dan argumentasi. Ia memberikan dasar pertimbangan dari kebenaran setiap prinsip, sehingga fikiran manusia menjadi pasti dan memahaminya secara sempurna. Ia menangkal semua kelemahan yang mempengaruhi akidah, amal dan perkataan manusia serta memberikan penalaran yang cemerlang. Ia membawa ajaran sopan-santun sebagai pengetahuan yang dibutuhkan bagi setiap manusia.
   Kitab ini menangkal dengan tegas setiap bentuk kefasikan (kedurhakaan).  Ajarannya itu demikian lurus, tegas dan pasti, seolah-olah menjadi cermin hukum alam. Ia menjadi matahari yang mencerahkan wawasan kalbu. Prinsip-prinsip penalaran manusia dikemukakannya secara rinci dan kekurangannya diperbaiki.
     Adapun Kitab-kitab lain -- yang katanya diwahyukan -- pada saat ini luput dari segala berkat sifat-sifat sempurna ini dan mengandung berbagai konsepsi yang salah tentang Wujud dan Sifat-sifat Ilahi. Para penganut Kitab-kitab itu mengutarakan akidah-akidah yang aneh.
    Sebagian dari mereka menyangkal kalau Tuhan itu adalah Maha Pencipta dan Maha Kuasa serta mengangkat diri mereka sendiri sebagai sekutu-Nya dalam masalah keabadian dan sifat tegak dengan sendirinya (Al-Hayyul-Qayyum).  
     Yang lainnya memuja berhala dan gambar-gambar dewa sebagai sekutu Ilahi dan dianggap ikut mengelola kerajaan-Nya. Ada pula yang menciptakan putra atau putri atau cucu dari Wujud-Nya. Yang lainnya menyembah-Nya dalam bentuk buaya atau kura-kura. Singkat kata, mereka itu mereka-reka Wujud Sang Maha Sempurna sebagai sesuatu yang tidak mungkin mencapai kesempurnaan-Nya sendiri.
   Ketika aku melihat manusia demikian sesatnya dalam akidah-akidah mereka serta demikian banyak melakukan kesalahan maka hatiku menjadi gemetar dan luluh. Aku merasa adalah menjadi tugas dan kewajibanku untuk mengarang buku ini sebagai petunjuk bagi mereka dan tugas ini akan aku laksanakan sepenuh hati.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 81-83, London, 1984).

Pujian Khusus” Allah Swt. Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

     Jadi, setelah Nabi Besar Muhammad saw. – yang merupakan wujud penerima wahyu Al-Quran  -- di Akhir Zaman ini Masih Mau’ud a.s.  kembali memperagakan kepedulian luar-biasa  beliau saw. terhadap keselamatan akhlak dan ruhani umat manusia ketika mereka menyimpang jauh dari Tauhid Ilahi yang hakiki, berikut adalah firman-Nya  kepada Nabi Besar Muhammad saw. berupa “pujian khusus” yang seolah-olah merupakan “teguran”, sehingga  tidak difahami oleh banyak penafsir Al-Quran:
وَ  لَقَدۡ  کُذِّبَتۡ رُسُلٌ مِّنۡ قَبۡلِکَ فَصَبَرُوۡا عَلٰی مَا کُذِّبُوۡا وَ اُوۡذُوۡا حَتّٰۤی اَتٰہُمۡ  نَصۡرُنَا ۚ وَ لَا مُبَدِّلَ  لِکَلِمٰتِ اللّٰہِ ۚ وَ لَقَدۡ جَآءَکَ مِنۡ نَّبَاِی الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنۡ کَانَ  کَبُرَ عَلَیۡکَ اِعۡرَاضُہُمۡ فَاِنِ اسۡتَطَعۡتَ اَنۡ تَبۡتَغِیَ نَفَقًا فِی الۡاَرۡضِ اَوۡ  سُلَّمًا فِی السَّمَآءِ  فَتَاۡتِیَہُمۡ  بِاٰیَۃٍ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ  لَجَمَعَہُمۡ عَلَی الۡہُدٰی فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ  الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh rasul-rasul sebelum engkau  benar-benar telah didustakan, tetapi mereka tetap  bersabar  terhadap pendustaan dan penganiayaan  hingga datang kepada mereka  pertolongan Kami.  Dan  tidak ada yang dapat mengubah Kalimat-kali-mat Allah,   dan sesungguhnya telah datang kepada engkau sebagian dari kabar-kabar mengenai rasul-rasul. Dan jika berpalingnya mereka terasa berat bagi engkau, maka kalau engkau sanggup mencari lubang ke dalam bumi  atau tangga ke langit, lalu engkau mendatangkan kepada mereka suatu Tanda.   Dan  jika Allah menghendaki niscaya mereka akan dihimpun-Nya kepada petunjuk, maka janganlah sekali-kali engkau menjadi orang-orang yang jahil. (Al-An’ām [6]:36).
   Nabi Besar Muhammad saw. dipenuhi oleh rasa kasih-sayang yang berlimpah-limpah (QS.7:128). Beliau saw. tidak menjadi kalut oleh apa yang dikatakan orang-orang kafir mengenai beliau saw.. Beliau saw. bersedih hati bukan karena orang-orang kafir menuduh beliau palsu atau pendusta, melainkan karena penolakan mereka terhadap Tanda-tanda Allah itu mereka telah menutup sendiri pintu rahmat Ilahi.
    Dengan penuh  cinta kasih Allah Swt.  berbicara kepada  Nabi Besar Muhammad saw. memakai kata-kata rayuan dan pelipur lara. Dikatakan kepada beliau saw. bahwa nabi-nabi sebelum beliau saw. pun ditolak, dicaci-maki, dan diejek serta dizalimi. Tetapi Takdir Ilahi   tidak mengalami perubahan, yaitu pertolongan Allah Swt.  datang kepada nabi-nabi Allah dan musuh mereka  pada akhirnya pasti akan ditimpa kesedihan dan kehinaan (QS.58:21-22).
     Perlu diketahui, bahwa kesedihan Nabi Besar Muhamad saw. sama sekali tidak ada hubungannya dengan sikap pendustaan dan penentangan orang-orang kafir terhadap beliau saw.,  melainkan terhadap akibat buruk yang pasti akan menimpa mereka, sebagaimana yang telah menimpa kaum-kaum purbakala sebelumnya yang telah mendustakan dan menentang para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka dengan berbagai bentuk azab Ilahi yang sangat mengerikan, firman-Nya:
وَ قَارُوۡنَ وَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ ۟ وَ لَقَدۡ جَآءَہُمۡ  مُّوۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا کَانُوۡا سٰبِقِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾  فَکُلًّا  اَخَذۡنَا بِذَنۡۢبِہٖ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِ حَاصِبًا ۚ وَ  مِنۡہُمۡ مَّنۡ اَخَذَتۡہُ  الصَّیۡحَۃُ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ خَسَفۡنَا بِہِ الۡاَرۡضَ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ  اَغۡرَقۡنَا ۚ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیَظۡلِمَہُمۡ  وَ لٰکِنۡ  کَانُوۡۤا  اَنۡفُسَہُمۡ  یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ وَ اِنَّ  اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۘ  لَوۡ  کَانُوۡا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami  membinasakan   Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan  sungguh  Musa benar-benar telah da-tang kepada mereka dengan Tanda-tanda yang nyata  tetapi mereka berlaku sombong di bumi dan mereka se-kali-kali tidak dapat melepaskan diri dari azab Kami.   Maka setiap orang dari mereka Kami tangkap karena dosanya,  di antara mereka ada yang Kami kirim kepadanya badai pasir, di antara mereka ada yang disambar oleh petir,  di antara mereka ada  yang Kami be-namkan  di bumi, di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan,  dan Allah sekali-kali tidak berbuat zalim terhadap mereka, tetapi mereka  men-zalimi  diri mereka sendiri. مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا  --  Perumpamaan orang-orang yang mengambil  penolong-penolong selain Allah adalah seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah, وَ اِنَّ  اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۘ  لَوۡ  کَانُوۡا  یَعۡلَمُوۡنَ -- dan sesungguhnya selemah-lemah rumah pasti rumah laba-laba, seandai-nya mereka itu mengetahui  (Al-Ankabūt [29]:40-42).
    Al-Quran telah mempergunakan berbagai kata dan ungkapan untuk hukuman (azab Ilahi) yang ditimpakan lawan-lawan berbagai nabi Allah pada zamannya masing-masing azab Ilahi  yang melanda kaum ‘Ād digambarkan sebagai badai pasir (QS.41:17; QS.54:20; dan QS.69:7); azab Ilahi yang menimpa kaum Tsamud sebagai gempa bumi (QS.7:79); ledakan (QS.11:68; QS.54:32), halilintar (QS.41:18), dan ledakan dahsyat (QS.69:6); azab Ilahi yang menghancurkan umat Nabi Luth a.s. sebagai batu-batu tanah (QS.11:83; QS.15:75); badai batu (QS.54:35); dan azab Ilahi yang menimpa Midian, kaum Nabi Syu’aib a.s.  sebagai gempa bumi (QS.7:92; QS.29:38); ledakan (QS.11:95); dan azab pada hari siksaan yang mendatang (QS.26:190). Terakhir dari semua itu ialah azab Ilahi yang menimpa Fir’aun dan lasykarnya serta pembesar-pembesarnya yang gagah-perkasa, Haman dan Qarun (Qorah), dan membinasakan mereka sampai hancur-luluh, telah digambarkan dengan ungkapan, “Kami ........ tenggelamkan pengikut-pengikut Fir’aun” (QS.2:51; QS.7:137; dan QS.17:104), dan “Kami menyebabkan bumi menelannya” (QS.28:82).
      Kemudian mengenai makna perumpamaan “sarang laba-laba”, masalah ke-Esa-an Tuhan yang menjadi pembahasan terutama Surah ini disudahi dalam ayat ini dengan sebuah tamsil (perumapamaan) yang indah sekali, dan menjelaskan kepada kaum musyrik ketololan, kesia-siaan, dan kepalsuan kepercayaan-kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan syirik mereka. Mereka itu rapuh bagaikan sarang laba-laba dan tidak dapat bertahan terhadap kecaman akal sehat.

Makna  Kalimat “Bākhi-un Nafsaka

     Jadi, kembali kepada firman Allah Swt. dalam Surah Al-An’ām ayat 36, kata-kata dalam ayat selanjutnya   yang seakan-akan merupakan “teguran”, padahal bukan, yakn:
وَ اِنۡ کَانَ  کَبُرَ عَلَیۡکَ اِعۡرَاضُہُمۡ فَاِنِ اسۡتَطَعۡتَ اَنۡ تَبۡتَغِیَ نَفَقًا فِی الۡاَرۡضِ اَوۡ  سُلَّمًا فِی السَّمَآءِ  فَتَاۡتِیَہُمۡ  بِاٰیَۃٍ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ  لَجَمَعَہُمۡ عَلَی الۡہُدٰی فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ  الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿﴾
“Dan jika berpalingnya mereka terasa berat bagi engkau, maka kalau engkau sanggup mencari lubang ke dalam bumi  atau tangga ke langit. lalu engkau mendatangkan kepada mereka suatu Tanda.   Dan  jika Allah menghendaki niscaya mereka akan dihimpun-Nya kepada petunjuk, maka janganlah sekali-kali engkau menjadi orang-orang yang jahil.”   
   Ada pun makna “mencari lubang tembusan ke dalam bumi”  berarti “menggunakan daya-upaya dunawi,” yakni menablighkan dan menyebarkan kebenaran (Tauhid Iklahi), sedangkan kata-kata tangga ke langit, maknanya “menggunakan daya-upaya ruhani,” yakni memanjatkan doa ke hadirat Allah  Swt.  untuk memohon hidayat (petunjuk) bagi orang-orang kafir dan sebagainya.
       Shalat sungguh merupakan tangga yang dengan itu orang (secara ruhani) dapat naik ke langit.  Nabi Besar Muhammad saw. diberi tahu supaya menggunakan kedua upaya ini. Kata jahil dalam ayat فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ  الۡجٰہِلِیۡنَ  -- “maka janganlah sekali-kali engkau menjadi orang-orang yang jahil” seperti dalam QS.2:274 artinya  “seseorang yang tidak tahu-menahu” atau “tidak mengenal.”  Nabi Besar Muhammad saw.  dianjurkan agar jangan sampai tidak mengenal Hukum Tuhan dalam perkara ini.
    Jadi, ayat tersebut  bukan merupakan teguran atau celaan Allah Swt., melainkan  menggambarkan  keprihatinan dan perhatian besar Nabi Besar Muhammad saw. untuk kesejahteraan ruhani kaum beliau  saw., bahwa Nabi Besar Muhammad  saw. bersedia untuk sedapat mungkin membawakan (mengemukakan) kepada mereka  berbagai macam Tanda Ilahi, sekalipun beliau saw. harus “mencari lubang tembusan ke dalam bumi atau tangga ke langit.”   
  Senada dengan ayat tersebut Allah Swt. berfirman mengenai kesedihan dan keprihatinan Nabi Besar Muhammad saw. terhadap akibat buruk yang pasti akan menimpa para penolak Tauhid Ilahi  yang beliau saw. sampaikan kepada mereka:
 لَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ اَلَّا یَکُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  اِنۡ نَّشَاۡ نُنَزِّلۡ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ السَّمَآءِ  اٰیَۃً فَظَلَّتۡ اَعۡنَاقُہُمۡ  لَہَا خٰضِعِیۡنَ ﴿﴾
Boleh jadi engkau akan membinasakan diri sendiri  karena mereka tidak mau beriman.   Jika Kami menghendaki, Kami dapat menurunkan kepada mereka suatu Tanda dari langit  sehingga leher-leher  mereka akan tertunduk kepa-danya. (Asy-Syu’arā [26]:4-5).  
  Karena bakhi' itu ism fail dari bakha'a yang berarti: ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya, ayat ini dengan padat dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian dan kekhawatiran serta kecemasan  Nabi Besar Muhammad saw.  mengenai kesejahteraan ruhani kaum beliau saw. dan umat manusia.
  Kesedihan beliau saw. atas penolakan dan perlawanan mereka terhadap amanat Ilahi (Al-Quran) hampir membuat beliau saw. wafat. Memang begitulah keadaan para utusan (rasul)  dan nabi Allah hatinya senantiasa penuh dengan kasih-sayang terhadap sesama manusia, firman-Nya:
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ ۫٭ۖ لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ عَلَیۡہِ  تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾٪
Sungguh benar-benar  telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antaramu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan bagimu dan  terhadap orang-orang beriman  ia sangat berbelas kasih lagi penyayang.  Tetapi jika  mereka berpaling  maka katakanlah: “Cukuplah   Allah bagiku, tidak ada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya-lah aku bertawakkal, dan Dia-lah Pemilik 'Arasy yang agung. (At-Taubah [9]:128-129).
Firman-Nya lagi:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ اِنَّمَا یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ  اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ اٰذَنۡتُکُمۡ عَلٰی سَوَآءٍ ؕ وَ اِنۡ  اَدۡرِیۡۤ  اَقَرِیۡبٌ اَمۡ بَعِیۡدٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾ 
Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Katakanlah: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku, bahwasanya  Rabb (Tuhan) kamu adalah Tuhan Yang Esa, maka kepada-Nya hendaknya ka-mu berserah diri.   Maka jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan yang sama kepada kamu, dan  aku tidak tahu, apakah telah dekat ataukah masih jauh apa yang telah dijanjikan kepada kamu (Al-Anbiyā[21]:108-110).

Peringatan Al-Quran   Kepada Bangsa-bangsa Kristen di Akhir Zaman & Fitnah “Dajjal

 Pendek kata, para  Rasul Allah   berseru  kepada Allah Swt., menangis  dan berdukacita demi kepentingan umat manusia, sebagaimana juga dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. mengenai kaum beliau  musyrik dan takabbur (QS.71:1-25), tetapi manusia tidak tahu  berterimakasih, sehingga orang­-orang itu sendiri yang bagi mereka para nabi Allah mempunyai perasaan yang begitu mendalam,  justru merekalah yang menindas para nabi Allah dan berusaha untuk membunuh mereka.
 Demikian juga halnya dengan keadaan  Rasul Akhir Zaman atau Masih Mau’ud a.s.,  ketika beliau a.s. menyaksikan merebaknya “fitnah Dajjal” di Akhir Zaman ini yang telah  mencengkram   baik kehidupan jasmani (duniawi) mau pun  dunia keagamaan umat manusia,  termasuk umat Islam, firman-Nya: 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ  وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡ  لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾  مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾  وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾  مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا ﴿﴾  اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا ﴿﴾  وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا  ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Segala puji bagi Allah  Yang  telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan  Dia  tidak menjadikan padanya ke­bengkokan. Sebagai penjaga  untuk memberi peringatan mengenai  siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, dan memberikan kabar gembira  kepada orang-orang  beriman  yang beramal saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang baik,    mereka menetap di dalamnya selama-lamanya.  وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا --     Dan supaya memperingat­kan orang-orang  yang berkata: "Allah  mengambil seorang  anak laki-laki. مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ   --     Mereka   sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ   --   Sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا  --  mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan. فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا  --    Maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau   karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.  اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا --  Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan  baginya   supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mere-ka yang terbaik perbuatannyaوَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا    --   Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus.  (Al-Kahf [18]:1-9).
  Ayat 9  mengandung suatu kabar gaib  (nubuatan) bahwa bangsa-bangsa Kristen dari barat sesudah memperoleh kekayaan, kekuatan, kekuasaan, dan sesudah mendapat penemuan-penemuan besar  dalam bidang duniawi, akhirnya akan membuat bumi Allah itu penuh dengan  kedosaan dan keburukan, seperti yang dituturkan oleh Bible.
 Kemurkaan Allah akan bangkit, dan sesuai dengan nubuatan-nubuatan yang diucapkan oleh mulut para nabi Allah, di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru, Al-Quran dan hadits, bencana-bencana akan menimpa bumi secara meluas, serta segala kemajuan yang tadinva telah dicapai oleh mereka dan semua buah tangan  mereka,  gedung-gedung mereka yang tinggi megah, keindahan negeri mereka, serta segala kemuliaan, kemegahan, dan keagungan mereka sama sekali akan menjadi hancur berantakan.  
   Dengan demikian terjadinya Perang Dunia I dan Perang Dunia II  pun merupakan bagian dari  nubuatan  dan peringatan yang dikemukakan Al-Quran, sedangkan  Perang Dunia III atau Perang Nuklir hanya tinggal menunggu waktunya  yang akan terjadi secara tiba-tiba (QS.18:33-45 & 98-102;  QS.20:103-112).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,   12  Januari 2016


Senin, 11 Januari 2016

Ajaran Al-Quran Merupakan Puncak Penyempurnaan Hukum Syariat Agama-agama Sebelumnya, Termasuk Ajaran Taurat dan Injil


Bismillaahirrahmaanirrahiim


KITAB SUCI AL-QURAN

Kitab Suci Al-Quran adalah kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak menyadarinya

“Setiap saat hatiku merindukan untuk mencium Kitab  Engkau dan melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan Kabahku”

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


    Ajaran Al-Quran Merupakan Puncak  Penyempurnaan Hukum Syariat   Agama-agama Sebelumnya, Termasuk  Ajaran Taurat dan Injil


Bab 8


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai jawaban beliau  terhadap argumen   pihak Kristen mengenai ketidak-perluan syariat (agama)  menetapkan masalah hukuman terhadap pelanggaran   karena keadaan senantiasa berubah-ubah:
     “….Menurut hematku, jalan fikiran seperti itu berawal dari pandangan mereka yang belum pernah mempelajari Kitab Suci Al-Quran secara baik. Petunjuk yang diberikan Al-Quran mengenai kaidah-kaidah (hukum-hukum) pidana, perdata dan perpajakan ada dua macam. Pertama adalah ditetapkannya rincian prosedur atau penghukuman, sedangkan yang lainnya hanya memberikan prinsip-prinsip yang harus diikuti tanpa memberikan petunjuk spesifik.
  Tujuan dari yang disebutkan terakhir itu adalah untuk mengakomodasi perubahan-perubahan yang muncul di masyarakat. Sebagai contoh, di suatu tempat Kitab Suci Al-Quran menetapkan peraturan (hukum pembalasan) tentang penggantian gigi sepadan dengan gigi dan mata sepadan dengan mata,[1] dimana hal seperti ini merupakan kaidah yang terinci. Adapun di tempat lain ditetapkan prinsip seperti:
وَ جَزٰٓؤُا سَیِّئَۃٍ  سَیِّئَۃٌ  مِّثۡلُہَا 
Pembalasan terhadap suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengan itu’ (Asy-Syurā [42]:41).
      Jika direnungkan maka prinsip ini telah meletakkan dasar untuk memperluas jangkauan aplikasi (pelaksanaan)  hukum dalam hal jika suatu hukum spesifik tidak dapat dilaksanakan.  Sebagai contoh, kalau seorang yang sudah ompong giginya lalu mematahkan gigi orang lain maka ia tidak akan bisa dikenakan pembalasan setimpal berupa pematahan gigi karena ia sudah tidak memilikinya lagi. Begitu juga seorang yang buta yang kemudian mengakibatkan butanya orang lain, tidak bisa lagi dihukum setimpal dengan cara mengambil matanya.
    Kitab Suci Al-Quran telah meletakkan dasar-dasar umum untuk menghadapi keadaan seperti itu,  dan dengan cara demikian akan merangsang manusia untuk berfikir mencari ketentuan hukum yang sepadan dengan setiap keadaan. Sayang sekali jika Kitab Taurat tidak menganut metoda seperti itu, dan Kitab Injil malah sama sekali tidak ada memberikan pedoman yang tegas dan bisa diikuti. Kitab Injil hanya memberikan beberapa ajakan kepada akhlak yang baik, namun ajakan tersebut tidak merupakan bagian dari suatu kaidah atau sistem hukum.
   Pernyataan umat Kristen bahwa Kitab Injil menyerahkan masalah hukum kepada intelegensia manusia bukanlah suatu hal yang patut dibanggakan, malah sepantasnya disesali, karena apa pun yang tidak diatur menurut prinsip dan ketentuannya akan cenderung menyimpang dan disalahgunakan, betapa pun baik tujuannya.” (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIII, hlm. 88, London, 1984).

Ajaran Nabi Isa Ibnu Maryam Dalam Injil Bukan Membatalkan Hukum Taurat Melainkan Menggenapinya (Menyempurnakannya)

    Perlu diketahui alasan mengapa dalam  ajaran Taurat yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Musa a.s. lebih menitik beratkan kepada “hukum pembalasan” adalah dalam  rangka mengembalikan keberanian atau kejantanan  Bani Israil yang telah mengalami masa  penzaliman selama 400 tahun oleh dinasti Fir’aun di Mesir yang telah membuat mereka kehilangan jiwa kesatria dengan cara “membunuh anak-laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka” (QS.2:50; QS.7:128 &142; QS.28:5), sehingga ketika Nabi Musa a.s. berhasil membawa mereka keluar dari Mesir serta mengajak  mereka untuk memasuki “negeri yang dijanjikan” kepada mereka (Kanaan/Palestina), mereka menolak ajakan Nabi Musa a.s. karena takut terhadap bangsa-bangsa yang  ada di wilayah tersebut, akibatnya   pewarisan “negeri yang dijanjikan” tersebut ditangguhkan selama 40 tahun, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ یٰقَوۡمِ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ جَعَلَ فِیۡکُمۡ اَنۡۢبِیَآءَ وَ جَعَلَکُمۡ مُّلُوۡکًا ٭ۖ وَّ اٰتٰىکُمۡ مَّا لَمۡ یُؤۡتِ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ  ﴿﴾ یٰقَوۡمِ ادۡخُلُوا الۡاَرۡضَ الۡمُقَدَّسَۃَ الَّتِیۡ  کَتَبَ اللّٰہُ لَکُمۡ وَ لَا تَرۡتَدُّوۡا عَلٰۤی  اَدۡبَارِکُمۡ فَتَنۡقَلِبُوۡا خٰسِرِیۡنَ﴿﴾  قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ ٭ۖ وَ اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَا حَتّٰی یَخۡرُجُوۡا مِنۡہَا ۚ فَاِنۡ  یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا فَاِنَّا دٰخِلُوۡنَ ﴿﴾  قَالَ رَجُلٰنِ مِنَ الَّذِیۡنَ یَخَافُوۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ  عَلَیۡہِمَا ادۡخُلُوۡا عَلَیۡہِمُ  الۡبَابَ ۚ فَاِذَا دَخَلۡتُمُوۡہُ  فَاِنَّکُمۡ غٰلِبُوۡنَ ۬ۚ وَ عَلَی اللّٰہِ  فَتَوَکَّلُوۡۤا اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ  نَّدۡخُلَہَاۤ  اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ فَقَاتِلَاۤ  اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ ﴿﴾  قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ  لَاۤ  اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah ketika  Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah  nikmat Allah atas kamu, ketika Dia menjadikan nabi-nabi di antara kamu, menjadikan kamu raja-raja,  dan Dia memberikan kepada  kamu apa yang tidak diberikan kepada kaum lain di antara bangsa-bangsa. یٰقَوۡمِ ادۡخُلُوا الۡاَرۡضَ الۡمُقَدَّسَۃَ الَّتِیۡ  کَتَبَ اللّٰہُ لَکُمۡ وَ لَا تَرۡتَدُّوۡا عَلٰۤی  اَدۡبَارِکُمۡ فَتَنۡقَلِبُوۡا خٰسِرِیۡنَ  --  Hai kaumku, masukilah Tanah yang disucikan, yang telah ditetapkan Allah bagi kamu,  dan janganlah kamu berbalik ke belakangmu lalu kamu kembali menjadi orang-orang yang rugi.”   قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ ٭ۖ وَ اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَا حَتّٰی یَخۡرُجُوۡا مِنۡہَا ۚ فَاِنۡ  یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا فَاِنَّا دٰخِلُوۡنَ  -- Mereka berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada suatu kaum  yang kuat lagi kejam, dan sesungguhnya kami tidak akan pernah memasukinya  hingga mereka keluar sendiri darinya, lalu  jika mereka keluar darinya maka kami    akan memasukinya.” قَالَ رَجُلٰنِ مِنَ الَّذِیۡنَ یَخَافُوۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ  عَلَیۡہِمَا ادۡخُلُوۡا عَلَیۡہِمُ  الۡبَابَ ۚ فَاِذَا دَخَلۡتُمُوۡہُ  فَاِنَّکُمۡ غٰلِبُوۡنَ ۬ۚ وَ عَلَی اللّٰہِ  فَتَوَکَّلُوۡۤا اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ   -- Dua orang laki-laki  dari antara mereka yang takut kepada Allah dan Allah telah memberi nikmat kepada keduanya berkata: “Masuklah melalui pintu gerbang mereka,  lalu apabila kamu memasuki negeri itu maka sesungguhnya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kamu  bertawakkal jika kamu benar-benar orang-orang yang ber-iman.” قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ  نَّدۡخُلَہَاۤ  اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ فَقَاتِلَاۤ  اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ  --  Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya kami  tidak akan pernah memasuki negeri itu  selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Rabb (Tuhan) engkau, lalu berperanglah engkau berdua,  sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini!” قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ  لَاۤ  اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ -- Musa berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali terhadap diriku dan saudara laki-lakiku,  maka bedakanlah antara kami dengan  kaum yang fasik itu.” قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ --   Dia berfirman: “Maka  sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, mereka akan bertualang kebingungan di muka bumi maka janganlah engkau bersedih atas kaum yang fasik itu.” (Al-Māidah [5]:21-27).
       Ketika orang-orang Bani Israil bertingkah bagai orang-orang pengecut, Allah Swt. menakdirkan mereka harus terus-menerus mengembara di padang belantara selama 40 tahun, agar kehidupan keras padang pasir akan menempa mereka dan memasukkan ke dalam diri mereka suatu jiwa baru dan akan memperkokoh moral mereka. Dalam masa itu generasi tua boleh dikatakan  telah hilang dan generasi muda tumbuh dengan memiliki sifat keberanian serta kekuatan yang cukup untuk menaklukkan “negeri yang dijanjikan”.

Menjadi Bangsa yang “Haus Darah” dan Tujuan Ajaran  Pemaafan Dalam Injil

     Secara berangsur-angsur penekanan hukum pembalasan   dalam ajaran Taurat tersebut memberikan pengaruhnya, bahkan kemudian mereka menjadi bangsa yang haus darah (Matius 23:37-39; QS.2:88-91),  itulah sebabnya Allah Swt. -- dalam rangka menstabilkan jiwa (karakter) kejam Bani Israil -- tersebut telah mengutus Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan membawa ajaran Injil yang menekankan kepada pemaafan yang bertolak belakang dengan penekanan hukum pembalasan dalam Taurat.
   Jadi, tidak benar pandangan Paulus dalam surat-surat kirimannya bahwa pengutusan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. serta “kematian terkutuk” beliau di atas tiang salib  adalah guna menebus dosa-dosa manusia  serta guna meniadakan (menghapuskan) hukum Taurat, karena menurut Paulus hukum syariat merupakan “kutuk” bagi  manusia karena membuat manusia menjadi “berdosa”  (Roma 2:17-29 & 3:19-31; Gal 3:15-29).
  Ringkasnya,  sebagaimana  penekanan masalah pembalasan dalam Taurat merupakan hukum syariat, demikian pula  penekanan masalah pemaafan (pengampunan) dalam  Injil pun merupakan hukum syariat pula, mengenai hal tersebut dikemukakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus) dalam Bible dalam fasal Yesus dan hukum Taurat:
5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.   5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat  sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.  5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar  dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 5:17-20).
  Kemudian dalam rangka “menggenapi” atau “menyempurnakan” atau “menyeimbangkan” hukum Taurat  dalam masalah hukuman (pembalasan) tersebut Yesus lebih lanjut menjelaskan:
5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.   5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat   kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.   5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. 5:41 Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. 5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. (Matius 5:38-42).   

Diabadikan Dalam Al-Quran Dalam Bentuknya yang Paling Sempurna   

  Kedua jenis hukum syariat yang tercantum dalam Taurat dan Injil tersebut (pembalasan dan pemaafan) diabadikan dalam Al-Quran dalam bentuknya yang jauh lebih sempurna (QS.2:107), serta dalam pelaksanaannya harus mempertimbangkan  tuntutan situasi dan kondisi yang tepat,  yakni dalam kondisi tertentu hukum pembalasan  harus dilaksanakan tetapi dalam kondisi yang berbeda pemaafan (pengampunan) yang harus dilakukan oleh pemegang otoritas hukum (pemerintah)  -- bukan oleh perorangan atau kelompok (golongan)  --contohnya adalah pengampunan massal yang dilakukan Nabi Besar Muhammad saw. pada  waktu peristiwa Fatah Makkah sesuai permohonan mereka agar   mendapat pengampunan seperti  yang dilakukan Nabi Yusuf a.s. terhadap kesalahan saudara-saudaranya (QS.12:92-93).
     Pengampuan  massal yang dilakukan Nabi Besar Muhammad saw. itulah yang telah mengubah  orang-orang yang tadinya berusaha untuk membunuh beliau saw. telah menjadi orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya serta siap untuk “mati terbunuh” di jalan Allah Swt. demi kecintaan mereka kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana firman-Nya:
 وَ مَنۡ اَحۡسَنُ  قَوۡلًا  مِّمَّنۡ دَعَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  وَ عَمِلَ  صَالِحًا وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya daripada orang yang mengajak manusia kepada Allah dan beramal saleh serta berkata:  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- ”Sesung-guhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri.”  وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ --  Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ --  Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. (Ha MimAs-Sajdah [41]:34-35).
   Karena anjuran kepada kebenaran sudah pasti diikuti oleh kesulitan-kesulitan bagi penganjurnya, ayat ini menasihatkan kepada si penganjur supaya bersabar dan  tabah hati menanggung segala kesulitan, dan malahan supaya membalas keburukan yang diterima dari penganiaya-penganiaya  dengan kebaikan, dan sebagai akibatnya فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ  -- “maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia.”
   Dengan demikian sempurna pula nubuatan  yang dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini:
عَسَی اللّٰہُ  اَنۡ یَّجۡعَلَ  بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ عَادَیۡتُمۡ  مِّنۡہُمۡ  مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ  وَ  اللّٰہُ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh jadi kelak Allah akan menjadikan kecintaan di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini  kamu bermusuhan  dengan mereka, karena Allah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah [60]:8).
  Ayat ini mengandung kabar gaib (nubuatan), yakni kepada para sahabat  Nabi Besar Muhammad saw. diberitahukan bahwa mereka dianjurkan supaya menghentikan segala perhubungan bersahabat dengan musuh-musuh agama mereka, walaupun musuh itu mungkin keluarga sendiri yang mempunyai pertalian darah sangat dekat sekalipun, namun larangan itu ditetapkan berlaku untuk jangka waktu singkat saja.  Waktu itu telah kian mendekat dengan cepat  ketika musuh-musuh bebuyutan itu akan menjadi sahabat-sahabat mesra.
 Perintah itu hanya berlaku terhadap orang-orang kafir yang berperang terhadap kaum Muslimin seperti dinyatakan dalam ayat berikutnya. Perhubungan bersahabat dengan semua orang-orang bukan Islam yang tidak berperang terhadap Islam tidak dilarang, firman-Nya:
لَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ  عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ  یُخۡرِجُوۡکُمۡ  مِّنۡ  دِیَارِکُمۡ  اَنۡ  تَبَرُّوۡہُمۡ وَ تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu  untuk berbuat kebaikan dan berlaku adil terhadap mereka, yaitu orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan yang tidak mengusir kamu dari rumah-rumahmu, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (Al-Mumtahanah [60]:8).

Makna “Ummatan Wasathan” atau “Khayra Ummah” (Umat Terbaik)

     Penerapan hukum syariat yang tepat  sesuai situasi dan kondisi bagi  perbaikan akhlak dan ruhani  pihak yang dikenai hukum syariat tersebut  dinamakan “amal shaleh.”   Itulah sebabnya Allah Swt. telah menyebut  umat Islam sebagai “umatan wasathan” (QS.2:144) sebagai  ganti sebutan khayra ummah” (umat terbaik- QS.3:111), firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ  اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ ؕ وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً  اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ  ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Dan demikianlah Kami menjadikan kamu اُمَّۃً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا  -- satu umat yang mulia supaya kamu senantiasa menjadi penjaga manusia dan supaya Rasul itu senantiasa menjadi penjaga kamu. Dan Kami sekali-kali tidak menjadikan  kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat melainkan supaya Kami mengetahui orang yang mengikuti Rasul dari orang yang ber-paling di atas kedua tumitnya. Dan sesungguhnya hal ini benar-benar sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah menyia-nyiakan iman kamu, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih, Maha Penyayang terhadap manusia. (Al-Baqarah [2]:144)
       Al-wasath berarti: menempati kedudukan di tengah; baik dan mulia dalam pangkat (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Kata itu dipakai di sini dalam arti baik dan mulia. Dalam QS.3:111 pun kaum Muslimin disebut “kaum terbaik. Jadi, sebagaimana  menjadi tugas dan kewajiban  seorang wasit (wasath) untuk memimpin jalan pertandingan (perlombaan) sesuai aturan perlombaan  agar tidak terjadi kecurangan atau ketidak-adilan serta kezaliman, demikian pula  tugas dan kewajiban umat Islam sebagai ummatan wasathan atau khayra ummah (umat terbaik) dalam mengamalkan syariat Islam (Al-Quran)  --  termasuk dalam masalah penghukuman atau pun pengampunan berkenaan dengan para pelanggar aturan syariat   -- yakni tidak selalu menekankan kepada satu sisi  pembalasan (penghukuman)  atau pun pengampunan (pemaafan), sebagaimana sabda Masih  Mau’ud a.s.
   “Kesucian dan kesempurnaan ajaran Kitab Suci Al-Quran memberi kehidupan bagi setiap sendi masyarakat manusia. Al-Quran tidak ada menekankan penanganan satu sisi saja. Terkadang Al-Quran menyuruh kepada kesabaran dan pengampunan dalam hal-hal tertentu, tetapi juga bisa menentukan hukuman bagi para pelanggar jika dianggap perlu.
     Sesungguhnya Al-Quran itu merupakan gambaran dari hukum alam Ilahi yang ada di sekeliling kita. Kitab ini sepenuhnya masuk akal dimana firman Tuhan dan hasil kinerja Tuhan adalah bersesuaian satu dengan lainnya. Sebagaimana hasil karya Tuhan itu nampak di alam, maka Kitab Allah yang sempurna ini juga sejalan dengan hasil kinerja tersebut. Kita sendiri ada melihat dalam kinerja Tuhan bahwa tidak selamanya selalu harus ada pengampunan dan kesabaran semata,  karena nyatanya Dia juga menghukum para pendosa dengan berbagai bentuk bala (azab).
      Hukuman demikian ada juga termaktub dalam Kitab-kitab sebelumnya. Tuhan kita tidak saja Maha Pengasih tetapi juga Maha Bijaksana dan siksaan-Nya sungguh berat. Kitab yang haqiqi adalah yang sejalan dengan kaidah hukum alam ini, sedangkan firman-Nya yang haqiqi adalah yang selalu konsisten (selaras) dengan kinerja-Nya. Kita sendiri melihat bahwa Tuhan tidak selalu memperlakukan makhluk-Nya dengan kesabaran dan pengampunan saja, karena sekali-kali bila dianggap perlu Dia akan menurunkan hukuman juga.
    Bahkan sekarang ini pun Allah Yang Maha Kuasa telah menyampaikan nubuat kepadaku bahwa untuk menghukum    para pendosa,  Dia akan menzahirkan gempa bumi dahsyat yang akan menghancurkan mereka.” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 346-347, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,   11  Januari 2016




[1] S.5 Al-Maidah:46. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)


Minggu, 10 Januari 2016

Kesempurnaan Ajaran Al-Quran Dalam Masalah "Hukuman" dan "Pengampunan" yang Dilakukan Nabi Besar Muhammad Saw. Dibanding Ajaran Taurat dan Injil

ۡمِ
Bismillaahirrahmaanirrahiim


KITAB SUCI AL-QURAN

Kitab Suci Al-Quran adalah kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak menyadarinya

“Setiap saat hatiku merindukan untuk mencium Kitab  Engkau dan melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan Kabahku”

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


 Kesempurnaan Ajaran Al-Quran Dalam   Masalah Pemberian “Hukuman” dan “Pengampunan” yang Dilakukan Nabi Besar Muhammad  Saw. Dibanding  Ajaran Taurat dan Injil


Bab 7


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai  pentingnya keberlangsungan wahyu Ilahi yang  bukan-syariat, antara lain beliau a.s. bersabda:
   “…Dengan berjalannya waktu, yang mengembangkan lebih lanjut batas pemikiran manusia maka perlu kiranya bagi Al-Quran untuk selalu memanifestasikan dirinya dalam bentuk-bentuk mutakhir serta membukakan pengetahuan-pengetahuan baru dan menyangkal khayalan serta bid’ah yang mungkin muncul.
  Karena itu jika Kitab yang dianggap sebagai Khātamal Kutub tidak bisa menanggulangi keadaan-keadaan baru maka pernyataan tersebut tidak akan ada artinya.  Jika nyatanya Kitab ini memang merangkum keseluruhan kebutuhan manusia di setiap zaman,  maka kita harus mengakui kalau Kitab ini telah merangkum jumlah wawasan yang tak ada batasnya.
     Patut diketahui,  bahwa perlakuan Allah Swt. terhadap para penerima wahyu yang sempurna ialah Dia akan selalu mengungkapkan rahasia-rahasia tersembunyi dari Al-Quran kepada yang bersangkutan. Sering terjadi bahwa ada suatu ayat Al-Quran yang diwahyukan kepada seorang penerima wahyu dimana tujuannya agak berbeda dengan pengertian awal saat diturunkannya wahyu tersebut.

Berbagai Makna Ayat Al-Quran yang Tak terbatas & Pemberitahuan Rahasia Gaib Allah Swt. kepada Rasul-Nya

    Maulvi Abdullah Ghaznavi suatu kali menulis dalam sebuah surat bahwa yang bersangkutan pernah menerima sebuah wahyu yang berbunyi:  قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا -- Kami berfirman, “Hai api, jadilah kamu sarana untuk mendatangkan dingin dan keselamatan,”[1] namun ia tidak memahami apa maksudnya. Ia kemudian menerima wahyu berikutnya yang berbunyi,  Kami berkata: “Hai keteguhan hati, jadilah kamu sarana untuk mendatangkan dingin dan keselamatan.
      Barulah ia menyadari bahwa dalam hal ini yang dimaksud sebagai api adalah keteguhan hati.” (Izalah Auham, Amritsar, Riyaz Hind Press, 1308 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. III, hlm.  255-262, London, 1984).

Keistimewaan Pembukaan Rahasia Gaib kepada Rasul Allah

        Sabda Masih Mau’ud a.s. tentang pembukaan khazanah-khazanah  ruhani baru Al-Quran tersebut selaras dengan firman Allah Swt.:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan  rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
  Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.  Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang beriman dan bertakwa  lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib   yakni  “penguasaan atas yang gaib”, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.
 Itulah sebabnya dalam firman-Nya berikut ini melalui pengutusan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan itulah (QS.7:35-37) Allah Swt. melakukan pemisahan atau pembeda  antara orang-orang yang  keimanannya hakiki dengan yang palsu:
   مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang ber-iman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya   hingga  Dia memi-sahkan yang buruk dari yang baik. وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ  --  Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di an-tara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ   --  karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,  وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ  -- dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar  (Ali’ Imran [3]:180).
      Makna ayat   مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ  -- “Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya  hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik” maksudnya adalah,  bahwa percobaan dan kemalangan yang telah dialami kaum Muslimin hingga saat itu tidak akan segera berakhir. Masih banyak lagi percobaan yang tersedia bagi mereka, dan percobaan-percobaan itu akan terus-menerus datang, hingga orang-orang beriman  sejati, akan benar-benar dibedakan dari kaum munafik dan yang lemah iman.
      Kata-kata selanjutnya  وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ --  “Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih  di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki” itu tidaklah berarti bahwa sebagian rasul-rasul terpilih dan sebagian lagi tidak. Kata-kata itu berarti bahwa dari orang-orang yang ditetapkan Allah Swt.   sebagai rasul-rasul-Nya, Dia memilih yang paling sesuai untuk zaman tertentu  di zaman rasul Allah itu dibangkitkan, termasuk di Akhir Zaman ini dalam rangka mewujudkan “kejayaan Islam” yang kedua kali (QS.61:10).

 “Menghidupkan Kembali  Bumi Setelah Kematiannya” & Sifat Komprehensivitas Al-Quran

    Jadi, makna sebenarnya dari kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman melalui pengutusan Rasul Akhir Zaman  (QS.61:10) -- yakni Masih Mau’ud a.s.  atau Imam Mahdi a.s.  --  pada hakikatnya adalah “menghidupkan kembali bumi yang telah mati” – yakni “hati manusia” --  karena mengalami masa “kemarau panjang ruhani” selama 1000 tahun masa kemunduran Islam setelah mengalami masa kejayaannya yang pertama selama 3 abad (QS.32:6),  sehingga “kerusakan di daratan dan di  lautan” (QS.30:42-44) kembali merebak di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk meng-ingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada mereka, dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ  َ --  maka  zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka   lalu   hati mereka menjadi keras, وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا --  Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ  --  Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepadamu supaya kamu mengerti  (Al-Hadid [57]:17-18).
     Sehubungan dengan terjadinya “kehidupan ruhani” melalui pengutusan Rasul Akhir Zaman --  tanpa melakukan peperangan secara fisik atau kekerasan dan paksaan tersebut   --  selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
   “Kesucian dan kesempurnaan ajaran Kitab Suci Al-Quran memberi kehidupan bagi setiap sendi masyarakat manusia. Al-Quran tidak ada menekankan penanganan satu sisi saja. Terkadang Al-Quran menyuruh kepada kesabaran dan pengampunan dalam hal-hal tertentu, tetapi juga bisa menentukan hukuman bagi para pelanggar jika dianggap perlu.
   Sesungguhnya Al-Quran itu merupakan gambaran dari hukum alam Ilahi yang ada di sekeliling kita. Kitab ini sepenuhnya masuk akal dimana firman Tuhan dan hasil kinerja Tuhan adalah bersesuaian satu dengan lainnya. Sebagaimana hasil karya Tuhan itu nampak di alam, maka Kitab Allah yang sempurna ini juga sejalan dengan hasil kinerja tersebut. Kita sendiri ada melihat dalam kinerja Tuhan bahwa tidak selamanya selalu harus ada pengampunan dan kesabaran semata,  karena nyatanya Dia juga menghukum para pendosa dengan berbagai bentuk bala (azab).
      Hukuman demikian ada juga termaktub dalam Kitab-kitab sebelumnya. Tuhan kita tidak saja Maha Pengasih tetapi juga Maha Bijaksana dan siksaan-Nya sungguh berat. Kitab yang haqiqi adalah yang sejalan dengan kaidah hukum alam ini, sedangkan firman-Nya yang haqiqi adalah yang selalu konsisten (selaras) dengan kinerja-Nya. Kita sendiri melihat bahwa Tuhan tidak selalu memperlakukan makhluk-Nya dengan kesabaran dan pengampunan saja, karena sekali-kali bila dianggap perlu Dia akan menurunkan hukuman juga.
   Bahkan sekarang ini pun Allah Yang Maha Kuasa telah menyampaikan nubuat kepadaku bahwa untuk menghukum para pendosa, Dia akan menzahirkan gempa bumi dahsyat yang akan menghancurkan mereka.” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 346-347, London, 1984).

Kekurangan Kitab Injil  dan Kesempurnaan Al-Quran

    Lebih lanjut Masih  Mau’ud a.s. menjelaskan kesempurnaan  syariat Islam (Al-Quran)  serta menjawab kritikan  dari pihak Non-Muslim   bahwa syariat tidak perlu mengurus masalah penghukuman:
      “Kami telah mengemukakan kekurangan-kekurangan Kitab Injil karena kitab ini tidak ada memberikan bimbingan petunjuk bagi pengembangan kemampuan dan sifat manusia, dimana bagian yang berkaitan dengan sifat-sifat akhlak yang ada pun hanya merupakan salinan dari Kitab Taurat.
   Mengenai hal ini beberapa orang Kristen menjawab bahwa: “Kitab-kitab Samawi hanya berkaitan dengan akhlak saja, sedangkan mengenai penghukuman tidak patut diatur oleh Kitab Samawi karena pelanggaran seharusnya dihukum sejalan dengan kaidah hukum yang berlaku mengikuti perubahan masa
    Karena perubahan bersifat tidak terbatas maka tidak tepat adanya ketentuan penghukuman yang bersifat baku. Setiap bentuk hukuman harus sejalan dengan masanya dan berlaku sebagai peringatan dan pencegahan bagi para pelanggar, karena itu ketentuan yang baku dianggap tidak bermanfaat bagi perbaikan manusia.
    Begitu pula dengan hukum pidana, perdata dan perpajakan seharusnya tidak bersifat  baku dan kaku karena akan menimbulkan kesulitan-kesulitan jika ada perubahan suasana. Misalnya, akan merugikan kondisi perdagangan yang ada sekarang, atau adanya hukum pidana tidak akan berguna ketika para pelanggar sudah menjadi terbiasa dengan suatu jenis hukuman.”
   Menurut hematku, jalan fikiran seperti itu berawal dari pandangan mereka yang belum pernah mempelajari Kitab Suci Al-Quran secara baik. Petunjuk yang diberikan Al-Quran mengenai kaidah-kaidah (hukum-hukum) pidana, perdata dan perpajakan ada dua macam. Pertama adalah ditetapkannya rincian prosedur atau penghukuman, sedangkan yang lainnya hanya memberikan prinsip-prinsip yang harus diikuti tanpa memberikan petunjuk spesifik.

Mengakomodasi Perubahan yang Muncul

  Tujuan dari yang disebutkan terakhir itu adalah untuk mengakomodasi perubahan-perubahan yang muncul di masyarakat. Sebagai contoh, di suatu tempat Kitab Suci Al-Quran menetapkan peraturan (hukum pembalasan) tentang penggantian gigi sepadan dengan gigi dan mata sepadan dengan mata,[2] dimana hal seperti ini merupakan kaidah yang terinci. Adapun di tempat lain ditetapkan prinsip seperti:
وَ جَزٰٓؤُا سَیِّئَۃٍ  سَیِّئَۃٌ  مِّثۡلُہَا 
Pembalasan terhadap suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengan itu’ (Asy-Syurā [42]:41).
        Jika direnungkan maka prinsip ini telah meletakkan dasar untuk memperluas jangkauan aplikasi (pelaksanaan)  hukum dalam hal jika suatu hukum spesifik tidak dapat dilaksanakan.  Sebagai contoh, kalau seorang yang sudah ompong giginya lalu mematahkan gigi orang lain maka ia tidak akan bisa dikenakan pembalasan setimpal berupa pematahan gigi karena ia sudah tidak memilikinya lagi. Begitu juga seorang yang buta yang kemudian mengakibatkan butanya orang lain, tidak bisa lagi dihukum setimpal dengan cara mengambil matanya.
       Kitab Suci Al-Quran telah meletakkan dasar-dasar umum untuk menghadapi keadaan seperti itu,  dan dengan cara demikian akan merangsang manusia untuk berfikir mencari ketentuan hukum yang sepadan dengan setiap keadaan. Sayang sekali jika Kitab Taurat tidak menganut metoda seperti itu, dan Kitab Injil malah sama sekali tidak ada memberikan pedoman yang tegas dan bisa diikuti. Kitab Injil hanya memberikan beberapa ajakan kepada akhlak yang baik, namun ajakan tersebut tidak merupakan bagian dari suatu kaidah atau sistem hukum.
   Pernyataan umat Kristen bahwa Kitab Injil menyerahkan masalah hukum kepada intelegensia manusia bukanlah suatu hal yang patut dibanggakan, malah sepantasnya disesali, karena apa pun yang tidak diatur menurut prinsip dan ketentuannya akan cenderung menyimpang dan disalahgunakan, betapa pun baik tujuannya.” (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIII, hlm.  87-88, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,  10  Januari 2016




[1] S.21 Al-Anbiya:70. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)
                          

[2] QS.5 Al-Maidah:46. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)