Bismillaahirrahmaanirrahiim
KITAB SUCI AL-QURAN
“Kitab Suci Al-Quran adalah
kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak
menyadarinya ”
“Setiap saat hatiku merindukan
untuk mencium Kitab Engkau dan
melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan Kabahku”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Hakikat Perumpamaan Berbagai Gambaran Kecantikan
Para “Bidadari Surgawi Surgawi” Dalam Al-Quran
Bab 47
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam Bab
sebelumnya telah kemukakan mengenai para suami yang telah berhasil membangun “keluarga
surgawi” di dunia ini, mereka akan
berkumpul lagi di dalam surga di akhirat dalam keadaan yang jauh lebih baik dalam segala seginya, mengenai hal itu berikut firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad
saw.: وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ
اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ
کُلِّ بَابٍ -- dan begitupun barangsiapa yang saleh dari antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri
mereka dan keturunan mereka.” (Ar-Rā’d
[13]:24).
Makna
ayat selanjutnya: وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ
یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ -- Dan malaikat-malaikat
akan masuk kepada mereka dari setiap
pintu seraya berkata:
سَلٰمٌ
عَلَیۡکُمۡ بِمَا صَبَرۡتُمۡ فَنِعۡمَ عُقۡبَی الدَّارِ -- ”Selamat sejahtera atas kamu, sebab kamu telah bersabar; maka lihatlah betapa bagusnya ganjaran tempat tinggal itu!” (Ar-Rā’d [13]:25). Berbagai jenis amal shaleh orang-orang beriman itu di akhirat akan diperlihatkan sebagai sekian banyak pintu gerbang ke surga.
Doa Para “Pemikul ‘Arasy
Ilahi”
Sehubungan dengan para istri dan perempuan
bertakwa yang di akhirat akan dibangkitkan sebagai para “bidadari surgawi” tersebut Allah Swt. berfirman:
اَلَّذِیۡنَ
یَحۡمِلُوۡنَ الۡعَرۡشَ وَ مَنۡ حَوۡلَہٗ یُسَبِّحُوۡنَ بِحَمۡدِ رَبِّہِمۡ وَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ
یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۚ
رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ شَیۡءٍ
رَّحۡمَۃً وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا
سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ
وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ۙ﴿﴾ وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ
یَوۡمَئِذٍ فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ
ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ٪﴿﴾
Wujud-wujud yang memikul ‘Arasy dan yang di sekitarnya, mereka
bertasbih dengan pujian Rabb (Tuhan) mereka, mereka
beriman kepada-Nya dan mereka memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman: رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ شَیۡءٍ
رَّحۡمَۃً وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا
سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ -- “Wahai Rabb
(Tuhan) kami, Engkau meliputi segala
sesuatu dengan rahmat dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam. رَبَّنَا وَ
اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ
اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ
ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- “Hai Rabb
(Tuhan) kami karena itu masukkanlah mereka ke dalam surga-surga
abadi yang telah Engkau janjikan
kepada mereka, dan begitu pun
orang-orang yang beramal saleh dari bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka dan keturunan-keturunan
mereka. Sesungguhnya Engkau benar-benar
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ -- Dan lindungilah mereka dari segala keburukan.
وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ
الۡعَظِیۡمُ -- Dan barangsiapa Engkau pelihara dari keburukan-keburukan pada hari itu maka sungguh Engkau telah mengasihinya, dan yang demikian itu kemenangan yang besar.” (Al-Mu’mīn
[40]:8-10).
Karena ‘Arasy berarti Sifat-sifat Ilahi maka
kata-kata “para pemikul ‘Arasy” akan
berarti makhluk-makhluk atau orang-orang yang dengan perantaraan
mereka Sifat-sifat Ilahi itu diwujudkan. Karena hukum alam bekerja dengan perantaraan malaikat-malaikat, dan para nabi Allah merupakan wahana yang dengan perantaraan mereka Kalamullāh disampaikan kepada umat
manusia, maka kata-kata “para pemikul
‘Arasy” dapat berarti pula para malaikat
dan para utusan (rasul) Tuhan,
dan kata-kata “mereka yang ada di
sekitarnya” dapat berarti para malaikat
yang dibawahi dan membantu para malaikat yang utama dalam
menyelenggarakan urusan-urusan dunia,
atau para pengikut sejati rasul-rasul
yang menyampaikan dan menyebarkan ajaran nabi-nabi itu.
Sebagaimana telah dikemukakan mengenai firman Allah Swt. dalam Bab sebelumnya (Ar-Rā’d [13]:20-25), ayat 9 ini
pun meletakkan suatu asas yang agung.
Tidak ada pekerjaan dilaksanakan dan
tidak ada kemenangan dapat dicapai
oleh seseorang di dunia ini tanpa bantuan
orang lain. Orang-orang lain masing-masing dengan sadar atau tidak sadar
telah memberikan sumbangan kepada
pekerjaan itu.
Anggota Keluarga “Penyejuk
Mata” Suami yang Bertakwa
Menurut Allah Swt., sekutu-sekutu dan pembantu-pembantu
yang sadar atau tidak sadar itu -- terutama ayah
bunda, istri, dan anak-anaknya -- maka anggota keluarga yang terdekat
itu pun akan diizinkan ikut serta menikmati karunia-karunia yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman atas amal-amal shalehnya itu, firman-Nya: رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ
صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ
ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- “Hai Rabb
(Tuhan) kami karena itu masukkanlah mereka ke dalam surga-surga
abadi yang telah Engkau janjikan
kepada mereka, dan begitu pun
orang-orang yang beramal saleh dari bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka dan keturunan-keturunan
mereka. Sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.”
Dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt.
menjelaskan bahwa para “bidadari surgawi” yang akan menjadi “jodoh/pasangan” orang-orang yang bertakwa di dalam surga, bukanlah makhluk lain melainkan merupakan perempuan- perempuan bertakwa, terutama istri-istri mereka sendiri yang ketika hidup di dunia senantiasa mereka bimbing dan mereka doakan agar menjadi “penyejuk mata” mereka, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ
ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ اَعۡیُنٍ وَّ اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا ﴿﴾
اُولٰٓئِکَ یُجۡزَوۡنَ الۡغُرۡفَۃَ بِمَا
صَبَرُوۡا وَ یُلَقَّوۡنَ فِیۡہَا تَحِیَّۃً
وَّ سَلٰمًا ﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ حَسُنَتۡ مُسۡتَقَرًّا وَّ
مُقَامًا ﴿﴾
Dan
orang-orang yang mengatakan: اَعۡیُنٍ رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ -- “Ya Rabb
(Tuhan) kami, anugerahkanlah kepada kami
istri-istri kami dan keturunan kami
menjadi penyejuk mata kami, وَّ
اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا -- dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertakwa.” اُولٰٓئِکَ
یُجۡزَوۡنَ الۡغُرۡفَۃَ بِمَا صَبَرُوۡا
وَ یُلَقَّوۡنَ فِیۡہَا تَحِیَّۃً
وَّ سَلٰمًا -- Mereka
itulah yang akan dianugerahi kamar-kamar tinggi di surga karena
mereka bersabar, dan mereka akan
disambut di dalamnya dengan penghormatan dan doa selamat, خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ حَسُنَتۡ مُسۡتَقَرًّا وَّ مُقَامًا -- mereka akan kekal
di dalamnya, itulah sebaik-baik
tempat menetap dan tempat kediaman.
(Al-Furqān
[25]:75-77).
Permohonan Seorang Nenek-nenek (Perempuan Tua) Untuk Menjadi Penghuni Surga
Para
perempuan dan para
istri yang bertakwa itulah di dalam surga akan menjadi para “bidadari surgawi”, kenyataan tersebut
sesuai dengan jawaban Nabi Besar
Muhammad saw. – yang bernada guyon (bercanda) -- terhadap permohonan seorang perempuan tua (nenek) yang memohon didoakan Nabi Besar Muhammad saw.
agar setelah meninggal dunia dapat menjadi “penghuni
surga”.
Diriwayatkan dari Al-Hasan r.a., ia menceritakan bahwa ada seorang nenek-nenek
menemui Rasulullah saw. lalu berkata: “Wahai Rasulullah, doakan aku kepada Allah agar memasukkan aku ke dalam
surga.” Maka Rasulullah bersabda: “Wahai
Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh nenek-nenek tua.” Ia
(Al-Hasan) berkata: “Maka nenek itu pergi dalam keadaan menangis.” Lalu Nabi saw.
bersabda: “Beritahukan kepada nenek itu, bahwa ia tidaklah masuk ke dalam surga
dalam keadaan tua (nenek-nenek). Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:
وَّ فُرُشٍ مَّرۡفُوۡعَۃٍ ﴿ؕ﴾ اِنَّاۤ
اَنۡشَاۡنٰہُنَّ اِنۡشَآءً ﴿ۙ﴾ فَجَعَلۡنٰہُنَّ
اَبۡکَارًا ﴿ۙ﴾ عُرُبًا اَتۡرَابًا ﴿ۙ﴾
“Sesungguhnya
Kami menciptakan mereka suatu penciptaan
yang baik, dan Kami menjadikan mereka gadis-gadis perawan
yang cantik jelita, sebaya umurnya.” (Al-Wāqi’ah: 35- 37). (Diriwayatkan
oleh At-Tirmidzi).
‘Urub dalam
ayat عُرُبًا اَتۡرَابًا adalah jamak
dari ‘arub, yang berarti “seorang perempuan
yang amat mencintai suaminya dan patuh kepadanya” (Lexicon Lane). Atrab adalah jamak dari tirb,
yang berarti: orang yang sebaya; seorang bangsawan agamawi; seseorang yang
mempunyai cita rasa, kebiasaan, pandangan atau pendapat dan lain-lain yang sama
(Lexicon Lane).
Istri
cantik jelita, senantiasa menjaga
kehormatan dan setia serta
mempunyai pendapat, cita rasa dan pandangan hidup yang sama dengan suaminya, adalah nikmat Ilahi paling besar, yang seseorang dapat memperolehnya.
Al-Quran mengatakan bahwa dalam surga akan ada perempuan-perempuan baik dan shalihah,
sebab akan ada laki-laki baik dan bertakwa. Adanya teman hidup yang baik itulah yang menjadi sebab kehidupan manusia senang dan lengkap.
Jadi, kepala keluarga (suami)
yang tidak berusaha menjadikan dirinya sebagai orang-orang yang bertakwa serta
tidak berusaha menjadikan istri dan anak-keturunannya sebagai “penyejuk
mata” baginya (QS.25:75), maka ia
jangankan akan mendapatkan “bidadari
surgawi”, bahkan dirinya pun tidak akan dapat menjadi penghuni surga. Apalagi di masa hidupnya ia (suami ) merupakan
pelaku KDRT (kekerasan dalam rumahtangga).
Hakikat Gambaran
Kecantikan Para “Bidadari Surgawi”
Pendek kata, yang dimaksud dengan
para “bidadari surgawi” yang akan
menjadi “jodoh/pasangan” orang-orang yang bertakwa di dalam
surga, terutama sekali adalah istri-istri mereka sendiri yang ketika di dunia benar-benar menjdi “penyejuk mata” bagi mereka (QS.25:75), firman-Nya:
اِنَّ الۡمُتَّقِیۡنَ فِیۡ جَنّٰتٍ وَّ نَعِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ فٰکِہِیۡنَ بِمَاۤ
اٰتٰہُمۡ رَبُّہُمۡ ۚ وَ وَقٰہُمۡ
رَبُّہُمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾ کُلُوۡا وَ اشۡرَبُوۡا ہَنِیۡٓـًٔۢا بِمَا کُنۡتُمۡ
تَعۡمَلُوۡنَ ﴿ۙ﴾ مُتَّکِئِیۡنَ عَلٰی
سُرُرٍ مَّصۡفُوۡفَۃٍ ۚ وَ
زَوَّجۡنٰہُمۡ بِحُوۡرٍ عِیۡنٍ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ اتَّبَعَتۡہُمۡ ذُرِّیَّتُہُمۡ بِاِیۡمَانٍ اَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ مَاۤ
اَلَتۡنٰہُمۡ مِّنۡ
عَمَلِہِمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ ؕ کُلُّ
امۡرِیًٔۢ بِمَا کَسَبَ رَہِیۡنٌ ﴿﴾
Sesungguhnya
orang-orang bertakwa di dalam surga dan kenikmatan. Mereka bergembira dengan apa yang diberikan Rabb (Tuhan) mereka kepada mereka, dan Rabb (Tuhan) mereka menyelamatkan mereka dari azab Jahannam. Dia
berfirman: “Makan dan minumlah dengan senang karena apa yang
senantiasa kamu kerjakan.” Mereka duduk-duduk
bersandar pada dipan-dipan yang berjajar-jajar, وَ
زَوَّجۡنٰہُمۡ بِحُوۡرٍ عِیۡنٍ -- dan
Kami akan menjodohkan mereka dengan jodoh-jodoh yang cantik bermata jeli. وَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ اتَّبَعَتۡہُمۡ
ذُرِّیَّتُہُمۡ بِاِیۡمَانٍ
اَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ
-- Dan orang-orang
yang beriman serta keturunan mereka
pun mengikuti mereka dalam keimanan akan Kami pertemukan keturunan mereka dengan mereka, وَ مَاۤ اَلَتۡنٰہُمۡ
مِّنۡ عَمَلِہِمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ -- dan Kami
tidak mengurangi dari amal mereka sedikit pun. کُلُّ
امۡرِیًٔۢ بِمَا کَسَبَ رَہِیۡنٌ
-- Tiap-tiap orang terikat
pada apa yang telah dikerjakannya (Ath-Thur [52]:18-22)
Makna ayat: وَ
زَوَّجۡنٰہُمۡ بِحُوۡرٍ عِیۡنٍ – “dan Kami akan menjodohkan mereka dengan jodoh-jodoh yang cantik bermata jeli”. Zawwaja syai’an bi-syai’in, artinya, ia memperpasangkan
atau menjodohkan sebuah benda dengan
sebuah benda lain; ia mempersatukannya
sebagai kawannya atau sesamanya. Hūr adalah jamak dari ahwar
(bentuk mudzakar, atau laki-laki) dan haura’ (muannats, atau
perempuan) dan berarti orang yang matanya
ditandai sifat yang disebut hawar,
yakni putih-mata yang sangat putih
dan hitam-mata yang sangat hitam,
dengan warna putih sekali, atau keindahan
yang sangat pada diri orang itu. Ahwar
berarti juga kecerdasan yang murni atau jernih.
‘Īn
adalah jamak dari ‘ayan dan aina’, yang masing-masing berarti
laki-laki dan perempuan bermata hitam dan lebar; kata yang terakhir berarti
juga ucapan atau perkataan bagus atau indah (Lexicon Lane; Al-Mufradat,
dan Al-Taj-ul-‘Arus). Dengan
demikian kata hūr dan ‘īn mengandung arti keindahan dan kemurnian
pribadi dan watak.
Penjelmaan Akibat Amal-amal yang
Dilakukan Manusia di Dunia & “Tubuh
Baru” Manusia di Akhirat
Kehidupan sesudah mati di akhirat merupakan citra
(bayangan) dan penjelmaan kehidupan
di dunia ini, dan ganjaran serta hukuman di akhirat hanyalah akan berupa perwujudan-perwujudan
dan bayangan-bayangan perbuatan manusia
selama di dunia ini.
Surga dan neraka bukanlah
suatu alam serba-kebendaan baru yang
datang dari luar. Sungguh benar, surga
dan neraka akan dapat dilihat dan dirasakan, katakanlah kedua-duanya itu “kebendaan”, jika anda inginkan, akan tetapi surga dan neraka hanyalah
perwujudan kenyataan ruhani kehidupan
dunia
ini. Segala kesulitan melaksanakan kehendak Allah Swt. di dunia ini akan
nampak di akhirat kelak sebagai belenggu-belenggu
yang melingkari kedua belah kaki.
Begitu juga panas yang membakar hati di dunia ini akan nampak dengan jelas sebagai nyala api yang berkobar-kobar. Sebaliknya, kecintaan
kepada Allah Swt. dan Al-Khāliq, yang
dirasakan oleh orang beriman di alam akhirat
akan nampak dalam wujud seperti anggur, dan sebagainya. Oleh karena itu di surga akan ada kebun-kebun,
sungai-sungai, susu, madu, daging burung, anggur, buah-buahan, mahligai-mahligai (istana-istana), jodoh-jodoh,
dan banyak “benda” lain lagi di surga,
tetapi “benda-benda” itu tidak akan serupa benda-benda yang ada
di dunia ini melainkan berupa perwujudan kenyataan-kenyataan ruhani kehidupan di dunia ini.
Kata-kata zawwajnā, hūr dan ‘īn, sebagaimana diterangkan
di atas menunjukkan bahwa di surga, hamba Allah yang bertakwa akan dibuat hidup bersama jodoh-jodoh suci-murni yang berwajah
berseri-seri oleh kejuitaan ruhani
yang cemerlang; atau, mereka akan mempunyai teman hidup yaitu bidadari-bidadari cantik, yakni istri-istri mereka sendiri.
Untuk mengerti dan memahami sifat ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman
dalam kehidupan sesudah mati di akhirat, hendaknya diingat bahwa kehidupan di akhirat merupakan kelanjutan kehidupan yang telah manusia
jalani di dunia ini. Segera sesudah ruh
manusia meninggalkan jasad tanahnya
ia diberi tubuh baru, sebab ruh
tidak dapat membuat kemajuan atau
tidak dapat merasai kenikmatan atau sakit tanpa tubuh.
Tubuh baru manusia di akhirat
tersebut sama halus dan latifnya seperti ruh di dunia ini sebelum mati. Karena bentuk dan sifat tubuh baru kita akan berbeda
dengan tubuh jasmani manusia di dunia ini, lagi pula perbedaan itu sukar kita pahami maka sifat ganjaran
dan hukuman di alam akhirat nanti pun berada di luar jangkauan pengertian kita. Itulah sebabnya mengapa Allah Swt. dalam Al-Quran berfirman
bahwa:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ
اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا
کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
“Dan tidak
ada seorang pun mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata
sebagai pahala atas apa-apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.32:18).
Berdasarkan ayat tersebut Nabi Besar Muhammad saw. menurut riwayat pernah bersabda: “Tidak ada mata pernah melihat nikmat-nikmat
surga, begitu pun tidak ada telinga pernah mendengamya, begitu juga tidak ada
pikiran manusia memakluminya” (Bukhari).
Kenyataan bahwa di surga
nanti tidak akan ada dosa,
kejanggalan atau pembicaraan hampa, tidak ada kesenangan jasmani yang kita
pahami mengenai itu di sini, melainkan keamanan
dan keridhaan Allah Swt. belaka yang meliputi segala sesuatu (QS.56:26-27) menjelaskan keadaan surga, sebagaimana
dimengerti oleh orang-orang bertakwa dan dijanjikan kepada mereka oleh
Al-Quran.
Kalau dalam ayat
terdahulu dinyatakan bahwa orang bertakwa
akan dibuat hidup bersama istri-istri
mereka yang suci lagi cantik (Ath-Thūr [52]:21) maka ayat selanjutnya: وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ اتَّبَعَتۡہُمۡ
ذُرِّیَّتُہُمۡ بِاِیۡمَانٍ
اَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ
-- “Dan orang-orang yang beriman serta keturunan mereka pun mengikuti mereka dalam keimanan akan Kami pertemukan
keturunan mereka dengan mereka,” ini
menerangkan bahwa anak-anak mereka
pun akan berkumpul bersama mereka,
dan dengan demikian kegembiraan mereka akan menjadi lengkap.
Melukiskan Kedalaman Arti
dan Falsafah Obyek yang Diumpamakan
Jadi, kembali kepada masalah perumpamaan keadaan surga di alam akhirat di
awal Bab ini, firman-Nya:
اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَسۡتَحۡیٖۤ اَنۡ یَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوۡضَۃً فَمَا فَوۡقَہَا
ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّہِمۡ
ۚ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ اَرَادَ
اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا ۘ یُضِلُّ بِہٖ
کَثِیۡرًا ۙ وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Sesungguhnya
Allah tidak malu mengemukakan suatu perumpamaan sekecil nyamuk bahkan
yang lebih kecil dari itu,
فَاَمَّا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّہِ -- maka orang-orang yang beriman maka mereka mengetahui bahwa sesungguhnya perumpamaan
itu kebenaran dari Rabb (Tuhan) mereka, وَ اَمَّا
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ
اَرَادَ اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا -- sedangkan orang-orang kafir maka mereka
mengatakan: “Apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?” یُضِلُّ بِہٖ
کَثِیۡرًا ۙ وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا -- Dengannya Dia menyesatkan banyak orang
dan dengannya pula Dia memberi petunjuk banyak orang, وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ -- dan sekali-kali tidak
ada yang Dia sesatkan dengannya kecuali orang-orang fasiq
(durhaka). (Al-Baqarah [2]:27).
Dharaba
al-matsala berarti: ia memberi gambaran atau pengandaian; ia membuat
pernyataan; ia mengemukakan perumpamaan (Lexicon
Lane; Taj-ul-‘Arus,
dan QS.14:46). Allah Swt. telah menggambarkan surga dan neraka
dalam Al-Quran dengan perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan.
Hal tersebut melukiskan mendalamnya arti yang tidak dapat diungkapkan sebaik-baiknya dengan
jalan lain, dan dalam hal-hal keruhanian
penggunaan perumpamaan-perumpamaan
dan tamsilan-tamsilan tersebut
memberikan satu-satunya cara untuk
dapat menyampaikan buah pikiran
dengan baik.
Kata-kata yang dipakai untuk menggambarkan surga, mungkin tidak cukup
dan tidak berarti bagaikan nyamuk
yang dianggap oleh orang-orang Arab sebagai makhluk
yang lemah dan memang pada hakikatnya demikian. Orang-orang Arab berkata: Adh-‘afu
min ba’udhatin, artinya "ia lebih lemah dari nyamuk".
Meskipun demikian, perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan itu membantu untuk memunculkan dalam angan-angan gambaran nikmat-nikmat
surga itu. Orang-orang beriman
mengetahui bahwa kata-kata itu hanya perumpamaan
dan mereka berusaha menyelami kedalaman
artinya, tetapi orang-orang kafir
mulai mencela perumpamaan-perumpamaan
itu dan makin bertambah dalam kesalahan
dan kesesatan, firman-Nya: وَ اَمَّا
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ
اَرَادَ اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا -- sedangkan orang-orang kafir maka mereka
mengatakan: “Apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?” یُضِلُّ بِہٖ
کَثِیۡرًا ۙ وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا -- Dengannya Dia menyesatkan banyak orang
dan dengannya pula Dia memberi petunjuk banyak orang, وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ -- dan sekali-kali tidak
ada yang Dia sesatkan dengannya kecuali orang-orang fasiq
(durhaka)” (Al-Baqarah [2]:27).
Adhallahullāh
berarti: (1) Allah Swt. menetapkan dia berada dalam kekeliruan; (2)
Allah Swt. meninggalkan atau membiarkan dia sehingga ia tersesat (Kasysyaf); (3) Allah Swt.
mendapatkan atau meninggalkan dia
dalam kekeliruan atau membiarkan dia tersesat (Lexicon Lane).
Dapat Menimbulkan
“Pencerahan” atau
Mengakibatkan “Kesesatan”
Dengan demikian jelaslah bahwa berbagai
gambaran keadaan di alam akhirat
-- baik dalam surga mau pun dalam neraka jahannam --
yang dikemukakan dalam
Al-Quran termasuk ayat-ayat yang mutasyābihāt (QS.3:8), yang
dapat menggelincirkan
orang-orang yang hatinya berpenyakit
atau ada kebengkokan, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ فَاَمَّا
الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ
ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ وَ مَا یَعۡلَمُ تَاۡوِیۡلَہٗۤ
اِلَّا اللّٰہُ ۘؔ وَ
الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا
یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ
﴿﴾
Dia-lah Yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran kepada engkau, di
antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat,
itulah pokok-pokok Al-Kitab, sedangkan yang lain ayat-ayat mutasyābihāt. Adapun orang-orang
yang di dalam hatinya ada ke-bengkokan maka mereka mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt karena ingin
menimbulkan fitnah dan ingin
mencari-cari takwilnya yang salah, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah, dan orang-orang yang memiliki pe-ngetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari
sisi Rabb (Tuhan) kami.” Dan tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang yang mempergunakan akal. (Āli-‘Imran [3]:8).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 27 Februari
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar