Rabu, 02 Maret 2016

Hakikat Perumpamaan Berbagai Gambaran Kecantikan Para "Bidadari Surgawi" Dalam Al-Quran



Bismillaahirrahmaanirrahiim

KITAB SUCI AL-QURAN

Kitab Suci Al-Quran adalah kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak menyadarinya

“Setiap saat hatiku merindukan untuk mencium Kitab  Engkau dan melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan Kabahku”

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


  Hakikat Perumpamaan Berbagai Gambaran  Kecantikan Para “Bidadari Surgawi  Surgawi”  Dalam  Al-Quran

Bab 47


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah kemukakan  mengenai    para suami yang telah berhasil membangun  “keluarga surgawi” di dunia ini,  mereka akan  berkumpul  lagi di dalam surga di akhirat  dalam keadaan yang jauh lebih baik dalam segala seginya,  mengenai hal itu  berikut  firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.:    وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ --  dan begitupun barangsiapa yang saleh dari antara bapak-bapak mereka, dan  istri-istri mereka dan keturunan mereka.” (Ar-Rā’d [13]:24).
       Makna ayat selanjutnya:  وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ  --   Dan malaikat-malaikat akan masuk kepada mereka dari setiap pintu  seraya berkata:  سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ بِمَا صَبَرۡتُمۡ فَنِعۡمَ عُقۡبَی الدَّارِ --   Selamat sejahtera atas kamu, sebab kamu telah bersabar; maka lihatlah betapa bagusnya ganjaran tempat tinggal itu!”  (Ar-Rā’d [13]:25). Berbagai jenis amal shaleh orang-orang beriman itu di akhirat akan diperlihatkan sebagai sekian banyak pintu gerbang ke surga.

Doa Para “Pemikul ‘Arasy Ilahi

      Sehubungan dengan   para istri  dan perempuan   bertakwa yang di akhirat akan dibangkitkan sebagai para “bidadari surgawi” tersebut Allah Swt. berfirman: 
اَلَّذِیۡنَ یَحۡمِلُوۡنَ الۡعَرۡشَ وَ مَنۡ حَوۡلَہٗ یُسَبِّحُوۡنَ بِحَمۡدِ  رَبِّہِمۡ وَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۚ رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ  شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً  وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ  لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾  رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ  ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ۙ﴿﴾  وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ  فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ٪﴿﴾
Wujud-wujud  yang memikul ‘Arasy dan yang di sekitarnya, mereka bertasbih dengan pujian  Rabb (Tuhan) mereka, mereka beriman kepada-Nya dan mereka memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman: رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ  شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً  وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ  لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ --  “Wahai Rabb (Tuhan) kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannamرَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ  ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   --    “Hai  Rabb (Tuhan) kami karena itu masukkanlah mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan begitu pun orang-orang yang beramal saleh  dari bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka  dan keturunan-keturunan mereka. Sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana. وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ  --    Dan lindungilah mereka dari segala keburukan. وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ  فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ --   Dan barangsiapa Engkau pelihara dari keburukan-keburukan pada hari itu  maka sungguh  Engkau telah mengasihinya, dan yang demikian itu  kemenangan yang besar.” (Al-Mu’mīn [40]:8-10). 
        Karena ‘Arasy berarti Sifat-sifat Ilahi   maka kata-kata “para pemikul ‘Arasy” akan berarti makhluk-makhluk atau orang-orang yang dengan perantaraan mereka Sifat-sifat  Ilahi itu diwujudkan. Karena hukum alam bekerja dengan perantaraan malaikat-malaikat, dan para nabi Allah merupakan wahana yang dengan perantaraan mereka Kalamullāh disampaikan kepada umat manusia, maka kata-kata “para pemikul ‘Arasy” dapat berarti pula para malaikat dan para utusan  (rasul) Tuhan, dan kata-kata “mereka yang ada di sekitarnya” dapat berarti para malaikat yang dibawahi dan membantu para malaikat yang utama dalam menyelenggarakan urusan-urusan dunia, atau para pengikut sejati rasul-rasul yang menyampaikan dan menyebarkan ajaran nabi-nabi itu.  
   Sebagaimana telah dikemukakan  mengenai firman Allah Swt.  dalam Bab sebelumnya (Ar-Rā’d [13]:20-25),  ayat  9 ini pun meletakkan suatu asas yang agung. Tidak ada pekerjaan dilaksanakan dan tidak ada kemenangan dapat dicapai oleh seseorang di dunia ini tanpa bantuan orang lain. Orang-orang lain masing-masing dengan sadar atau tidak sadar telah memberikan sumbangan kepada pekerjaan itu.

Anggota Keluarga “Penyejuk Mata”  Suami yang Bertakwa

   Menurut Allah Swt., sekutu-sekutu dan pembantu-pembantu yang sadar atau tidak sadar itu -- terutama ayah bunda, istri, dan anak-anaknya   --  maka anggota keluarga yang terdekat itu pun akan diizinkan ikut serta menikmati karunia-karunia yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman  atas amal-amal shalehnya  itu, firman-Nya: رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ  ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   --    “Hai  Rabb (Tuhan) kami karena itu masukkanlah mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan begitu pun orang-orang yang beramal saleh  dari bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka  dan keturunan-keturunan mereka. Sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
      Dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt. menjelaskan bahwa para “bidadari surgawi”   yang akan menjadi “jodoh/pasangan”     orang-orang yang bertakwa di dalam surga, bukanlah makhluk lain melainkan merupakan perempuan- perempuan bertakwa, terutama istri-istri mereka sendiri yang ketika hidup di dunia  senantiasa mereka bimbing dan  mereka doakan agar menjadi “penyejuk mata” mereka, firman-Nya:
 وَ الَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ اَعۡیُنٍ وَّ اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ یُجۡزَوۡنَ الۡغُرۡفَۃَ  بِمَا صَبَرُوۡا وَ یُلَقَّوۡنَ فِیۡہَا تَحِیَّۃً  وَّ  سَلٰمًا ﴿ۙ﴾  خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ حَسُنَتۡ مُسۡتَقَرًّا وَّ مُقَامًا ﴿﴾   
Dan orang-orang yang mengatakan: اَعۡیُنٍ  رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ --  “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami,  وَّ اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا -- dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”   اُولٰٓئِکَ یُجۡزَوۡنَ الۡغُرۡفَۃَ  بِمَا صَبَرُوۡا وَ یُلَقَّوۡنَ فِیۡہَا تَحِیَّۃً  وَّ  سَلٰمًا  -- Mereka itulah yang akan dianugerahi  kamar-kamar tinggi di surga karena mereka bersabar, dan mereka akan disambut di dalamnya dengan penghormatan dan doa selamat,  خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ حَسُنَتۡ مُسۡتَقَرًّا وَّ مُقَامًا  -- mereka akan  kekal di dalamnya, itulah sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (Al-Furqān [25]:75-77).

Permohonan  Seorang Nenek-nenek   (Perempuan Tua) Untuk Menjadi Penghuni Surga    

       Para  perempuan  dan para  istri  yang bertakwa  itulah di dalam surga akan menjadi  para “bidadari surgawi”, kenyataan tersebut sesuai dengan jawaban Nabi Besar Muhammad  saw.  – yang bernada guyon  (bercanda) --  terhadap permohonan seorang  perempuan tua  (nenek)  yang memohon didoakan Nabi Besar Muhammad saw. agar setelah meninggal dunia dapat menjadi “penghuni surga”.
      Diriwayatkan dari Al-Hasan r.a.,  ia menceritakan bahwa ada seorang nenek-nenek menemui Rasulullah  saw.  lalu berkata: “Wahai Rasulullah, doakan aku kepada Allah agar memasukkan aku ke dalam surga.” Maka Rasulullah bersabda: “Wahai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh nenek-nenek tua.” Ia (Al-Hasan) berkata: “Maka nenek itu pergi dalam keadaan menangis.” Lalu Nabi saw. bersabda: “Beritahukan kepada nenek itu, bahwa ia tidaklah masuk ke dalam surga dalam keadaan tua (nenek-nenek). Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:
وَّ فُرُشٍ مَّرۡفُوۡعَۃٍ ﴿ؕ﴾  اِنَّاۤ  اَنۡشَاۡنٰہُنَّ  اِنۡشَآءً ﴿ۙ﴾  فَجَعَلۡنٰہُنَّ  اَبۡکَارًا ﴿ۙ﴾  عُرُبًا  اَتۡرَابًا ﴿ۙ﴾
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka suatu penciptaan yang baik,   dan Kami menjadikan mereka gadis-gadis perawan    yang cantik jelita,  sebaya umurnya.”  (Al-Wāqi’ah: 35- 37). (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi). 
 ‘Urub  dalam ayat عُرُبًا  اَتۡرَابًا adalah jamak dari ‘arub, yang berarti “seorang perempuan yang amat mencintai suaminya dan patuh kepadanya” (Lexicon Lane). Atrab adalah jamak dari tirb, yang berarti: orang yang sebaya; seorang bangsawan agamawi; seseorang yang mempunyai cita rasa, kebiasaan, pandangan atau pendapat dan lain-lain yang sama (Lexicon Lane).
   Istri cantik jelita, senantiasa menjaga kehormatan dan setia serta mempunyai pendapat, cita rasa dan pandangan hidup yang sama dengan suaminya, adalah nikmat Ilahi paling besar, yang seseorang dapat memperolehnya. Al-Quran mengatakan bahwa  dalam surga akan ada perempuan-perempuan baik dan shalihah, sebab akan ada laki-laki baik dan bertakwa. Adanya teman hidup yang baik itulah yang menjadi sebab kehidupan manusia senang dan lengkap.
  Jadi, kepala keluarga (suami) yang tidak berusaha menjadikan dirinya sebagai orang-orang yang bertakwa serta  tidak berusaha menjadikan istri dan anak-keturunannya sebagai “penyejuk mata” baginya (QS.25:75), maka  ia jangankan akan mendapatkan “bidadari surgawi”, bahkan dirinya pun tidak akan dapat menjadi penghuni surga. Apalagi di masa hidupnya ia (suami ) merupakan pelaku KDRT (kekerasan dalam rumahtangga).

Hakikat  Gambaran Kecantikan Para “Bidadari Surgawi” 

    Pendek kata, yang dimaksud dengan para “bidadari surgawi” yang akan menjadi “jodoh/pasangan”  orang-orang yang bertakwa  di dalam  surga, terutama sekali adalah istri-istri mereka sendiri yang   ketika di dunia benar-benar menjdi “penyejuk mata” bagi mereka  (QS.25:75), firman-Nya:
اِنَّ  الۡمُتَّقِیۡنَ فِیۡ جَنّٰتٍ وَّ نَعِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  فٰکِہِیۡنَ بِمَاۤ  اٰتٰہُمۡ  رَبُّہُمۡ ۚ وَ  وَقٰہُمۡ  رَبُّہُمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾  کُلُوۡا وَ اشۡرَبُوۡا ہَنِیۡٓـًٔۢا بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿ۙ﴾  مُتَّکِئِیۡنَ عَلٰی سُرُرٍ  مَّصۡفُوۡفَۃٍ ۚ وَ زَوَّجۡنٰہُمۡ  بِحُوۡرٍ عِیۡنٍ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ اتَّبَعَتۡہُمۡ  ذُرِّیَّتُہُمۡ بِاِیۡمَانٍ  اَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ  ذُرِّیَّتَہُمۡ  وَ مَاۤ  اَلَتۡنٰہُمۡ  مِّنۡ عَمَلِہِمۡ  مِّنۡ شَیۡءٍ ؕ کُلُّ امۡرِیًٔۢ  بِمَا کَسَبَ  رَہِیۡنٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang bertakwa di dalam surga dan kenikmatan.  Mereka bergembira dengan apa yang diberikan Rabb (Tuhan) mereka kepada mereka, dan Rabb (Tuhan) mereka  menyelamatkan mereka dari azab Jahannam.   Dia berfirman: “Makan dan minumlah dengan senang karena apa yang senantiasa kamu kerjakan.” Mereka  duduk-duduk bersandar pada dipan-dipan yang berjajar-jajar, وَ زَوَّجۡنٰہُمۡ  بِحُوۡرٍ عِیۡنٍ --  dan Kami akan menjodohkan  mereka dengan jodoh-jodoh yang  cantik bermata jeliوَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ اتَّبَعَتۡہُمۡ  ذُرِّیَّتُہُمۡ بِاِیۡمَانٍ  اَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ  ذُرِّیَّتَہُمۡ -- Dan orang-orang yang beriman serta keturunan mereka pun mengikuti mereka dalam keimanan  akan Kami    pertemukan keturunan mereka  dengan mereka, وَ مَاۤ  اَلَتۡنٰہُمۡ  مِّنۡ عَمَلِہِمۡ  مِّنۡ شَیۡءٍ  -- dan Kami tidak mengurangi dari amal mereka sedikit pun. کُلُّ امۡرِیًٔۢ  بِمَا کَسَبَ  رَہِیۡنٌ  -- Tiap-tiap orang terikat  pada apa yang telah dikerjakannya (Ath-Thur [52]:18-22)
   Makna ayat:  وَ زَوَّجۡنٰہُمۡ  بِحُوۡرٍ عِیۡنٍ – “dan Kami akan menjodohkan  mereka dengan jodoh-jodoh yang  cantik bermata jeli”.  Zawwaja syai’an bi-syai’in, artinya, ia memperpasangkan atau menjodohkan sebuah benda dengan sebuah benda lain; ia mempersatukannya sebagai kawannya atau sesamanya. Hūr adalah jamak dari ahwar (bentuk mudzakar, atau laki-laki) dan haura’ (muannats, atau perempuan) dan berarti orang yang matanya ditandai sifat yang disebut hawar, yakni putih-mata yang sangat putih dan hitam-mata yang sangat hitam, dengan warna putih sekali, atau keindahan yang sangat pada diri orang itu. Ahwar berarti juga kecerdasan yang murni atau jernih.
       ‘Īn adalah jamak dari ‘ayan dan aina’, yang masing-masing berarti laki-laki dan perempuan bermata hitam dan lebar; kata yang terakhir berarti juga ucapan atau perkataan bagus atau indah (Lexicon Lane; Al-Mufradat, dan Al-Taj-ul-‘Arus). Dengan demikian kata hūr dan ‘īn mengandung arti keindahan dan kemurnian pribadi dan watak.

Penjelmaan Akibat Amal-amal yang Dilakukan Manusia di Dunia & “Tubuh Baru” Manusia di Akhirat

   Kehidupan sesudah mati di akhirat merupakan citra (bayangan) dan penjelmaan kehidupan di dunia ini, dan ganjaran serta hukuman di akhirat hanyalah akan berupa perwujudan-perwujudan dan bayangan-bayangan perbuatan manusia selama di dunia ini.
    Surga dan neraka bukanlah suatu alam serba-kebendaan baru yang datang dari luar. Sungguh benar, surga dan neraka akan dapat dilihat dan dirasakan, katakanlah kedua-duanya itu “kebendaan”, jika anda inginkan, akan tetapi surga dan neraka hanyalah perwujudan kenyataan ruhani kehidupan  dunia ini. Segala kesulitan melaksanakan kehendak Allah Swt. di dunia ini akan nampak di akhirat kelak sebagai belenggu-belenggu yang melingkari kedua belah kaki.
  Begitu juga panas yang membakar hati di dunia ini akan nampak dengan jelas sebagai nyala api yang berkobar-kobar. Sebaliknya, kecintaan kepada Allah Swt. dan Al-Khāliq, yang dirasakan oleh orang  beriman  di alam akhirat  akan nampak  dalam wujud seperti anggur, dan sebagainya. Oleh karena itu di surga akan ada kebun-kebun, sungai-sungai, susu, madu, daging burung, anggur, buah-buahan, mahligai-mahligai (istana-istana),  jodoh-jodoh, dan banyak “benda” lain lagi di surga,  tetapi “benda-benda” itu tidak akan serupa benda-benda yang ada di dunia ini  melainkan berupa perwujudan kenyataan-kenyataan ruhani kehidupan di dunia ini.
 Kata-kata zawwajnā, hūr dan ‘īn, sebagaimana diterangkan di atas menunjukkan bahwa di surga, hamba Allah yang bertakwa akan dibuat hidup bersama jodoh-jodoh suci-murni yang berwajah berseri-seri oleh kejuitaan ruhani yang cemerlang; atau, mereka akan mempunyai teman hidup  yaitu  bidadari-bidadari cantik, yakni istri-istri mereka sendiri.
 Untuk mengerti dan memahami sifat ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman dalam kehidupan sesudah mati di akhirat, hendaknya diingat bahwa kehidupan di akhirat  merupakan kelanjutan kehidupan yang telah manusia jalani di dunia ini. Segera sesudah ruh manusia meninggalkan jasad tanahnya ia diberi tubuh baru, sebab ruh tidak dapat membuat kemajuan atau tidak dapat merasai kenikmatan atau sakit tanpa tubuh.
 Tubuh baru manusia  di akhirat tersebut sama halus dan latifnya seperti ruh di dunia ini sebelum mati. Karena bentuk dan sifat tubuh baru kita akan berbeda dengan tubuh jasmani  manusia di dunia ini,  lagi pula perbedaan  itu sukar kita pahami maka sifat ganjaran dan hukuman di alam akhirat nanti pun berada di luar jangkauan pengertian kita.    Itulah sebabnya  mengapa Allah Swt. dalam Al-Quran berfirman bahwa:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ  اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
“Dan tidak ada seorang pun mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai pahala atas apa-apa yang telah mereka kerjakan.”   (QS.32:18). 
     Berdasarkan ayat tersebut  Nabi Besar Muhammad saw.   menurut riwayat pernah bersabda: “Tidak ada mata pernah melihat nikmat-nikmat surga, begitu pun tidak ada telinga pernah mendengamya, begitu juga tidak ada pikiran manusia memakluminya” (Bukhari).
 Kenyataan bahwa di surga nanti tidak akan ada dosa, kejanggalan atau pembicaraan hampa, tidak ada kesenangan jasmani yang kita pahami mengenai itu di sini, melainkan keamanan dan keridhaan Allah Swt.  belaka yang  meliputi segala sesuatu (QS.56:26-27)  menjelaskan keadaan surga, sebagaimana dimengerti oleh orang-orang bertakwa dan dijanjikan kepada mereka oleh Al-Quran.
   Kalau dalam ayat terdahulu dinyatakan bahwa orang bertakwa akan dibuat hidup bersama istri-istri mereka yang suci lagi cantik (Ath-Thūr [52]:21) maka ayat selanjutnya: وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ اتَّبَعَتۡہُمۡ  ذُرِّیَّتُہُمۡ بِاِیۡمَانٍ  اَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ  ذُرِّیَّتَہُمۡ             -- “Dan orang-orang yang beriman serta keturunan mereka pun mengikuti mereka dalam keimanan akan Kami    pertemukan keturunan mereka  dengan mereka,”    ini menerangkan bahwa anak-anak mereka pun akan berkumpul bersama mereka, dan dengan demikian kegembiraan mereka akan menjadi lengkap.

Melukiskan Kedalaman Arti dan Falsafah Obyek yang Diumpamakan

     Jadi, kembali kepada masalah perumpamaan keadaan surga di alam akhirat di awal Bab ini, firman-Nya:
اِنَّ اللّٰہَ لَا یَسۡتَحۡیٖۤ اَنۡ یَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوۡضَۃً فَمَا فَوۡقَہَا ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّہِمۡ ۚ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ  اَرَادَ  اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا ۘ یُضِلُّ بِہٖ کَثِیۡرًا ۙ وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ  اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Sesungguhnya Allah  tidak malu  mengemukakan suatu perumpamaan  sekecil nyamuk   bahkan  yang lebih kecil dari itu, فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّہِ   --  maka orang-orang yang beriman maka mereka mengetahui bahwa sesungguhnya perumpamaan itu  kebenaran  dari Rabb (Tuhan) mereka, وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ  اَرَادَ  اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا --  sedangkan orang-orang kafir maka mereka mengatakan: “Apa  yang dikehendaki Allah dengan  perumpamaan ini?” یُضِلُّ بِہٖ کَثِیۡرًا ۙ وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا  -- Dengannya   Dia menyesatkan banyak orang  dan dengannya pula    Dia memberi petunjuk banyak orang, وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ  اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ --  dan sekali-kali   tidak ada yang Dia sesatkan dengannya kecuali orang-orang  fasiq (durhaka). (Al-Baqarah [2]:27).
      Dharaba al-matsala berarti: ia memberi gambaran atau pengandaian; ia membuat pernyataan; ia mengemukakan perumpamaan (Lexicon Lane; Taj-ul-‘Arus, dan QS.14:46).  Allah Swt.  telah menggambarkan surga dan neraka dalam Al-Quran  dengan perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan.
        Hal tersebut melukiskan mendalamnya arti yang tidak dapat diungkapkan sebaik-baiknya dengan jalan lain, dan dalam hal-hal keruhanian penggunaan perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan tersebut memberikan satu-satunya cara untuk dapat menyampaikan buah pikiran dengan baik.
Kata-kata yang dipakai untuk menggambarkan surga, mungkin tidak cukup dan tidak berarti bagaikan nyamuk yang dianggap oleh orang-orang Arab sebagai makhluk yang lemah dan memang pada hakikatnya demikian. Orang-orang Arab berkata: Adh-‘afu min ba’udhatin, artinya  "ia lebih lemah dari nyamuk".
     Meskipun demikian, perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan itu membantu untuk memunculkan dalam angan-angan  gambaran nikmat-nikmat surga itu. Orang-orang  beriman mengetahui bahwa kata-kata itu hanya perumpamaan dan mereka berusaha menyelami kedalaman artinya, tetapi orang-orang kafir mulai mencela perumpamaan-perumpamaan itu dan makin bertambah dalam kesalahan dan kesesatan, firman-Nya: وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ  اَرَادَ  اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا --  sedangkan orang-orang kafir maka mereka mengatakan: “Apa  yang dikehendaki Allah dengan  perumpamaan ini?” یُضِلُّ بِہٖ کَثِیۡرًا ۙ وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا  --   Dengannya   Dia menyesatkan banyak orang  dan dengannya pula    Dia memberi petunjuk banyak orang, وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ  اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ --  dan sekali-kali   tidak ada yang Dia sesatkan dengannya kecuali orang-orang  fasiq (durhaka)” (Al-Baqarah [2]:27).
        Adhallahullāh berarti: (1) Allah Swt.  menetapkan dia berada dalam kekeliruan; (2) Allah Swt. meninggalkan atau membiarkan dia sehingga ia tersesat (Kasysyaf); (3) Allah Swt.  mendapatkan atau meninggalkan dia dalam kekeliruan atau membiarkan dia tersesat (Lexicon Lane).

Dapat  Menimbulkan  “Pencerahan” atau Mengakibatkan “Kesesatan

        Dengan demikian jelaslah bahwa berbagai gambaran keadaan di alam akhirat   -- baik  dalam surga mau pun dalam neraka  jahannam  --  yang  dikemukakan dalam Al-Quran  termasuk ayat-ayat yang mutasyābihāt  (QS.3:8), yang  dapat menggelincirkan orang-orang yang hatinya berpenyakit atau ada kebengkokan, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ  الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ؃ وَ مَا یَعۡلَمُ  تَاۡوِیۡلَہٗۤ  اِلَّا اللّٰہُ  ۘؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ  مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾
Dia-lah Yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran  kepada engkau,  di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok  Al-Kitab, sedangkan  yang lain  ayat-ayat mutasyābihāt.  Adapun   orang-orang yang di dalam hatinya ada ke-bengkokan maka mereka mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt  karena ingin menimbulkan fitnah dan ingin mencari-cari takwilnya yang salah, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah,  dan orang-orang yang memiliki pe-ngetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” Dan  tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang yang mempergunakan akal.   (Āli-‘Imran [3]:8).

(Bersambung)

 Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar,   27 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar