Minggu, 13 Maret 2016

Hikmah Mengapa Agama dan Kitab Suci Paling Sempurna (Al-Quran) Tidak Diwahyukan Allah Swt. di Masa Awal Penciptaan Manusia



Bismillaahirrahmaanirrahiim

KITAB SUCI AL-QURAN

Kitab Suci Al-Quran adalah kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak menyadarinya

“Setiap saat hatiku merindukan untuk mencium Kitab  Engkau dan melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan Kabahku”

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


Hikmah Mengapa Agama dan Kitab Suci  Paling Sempurna (Al-Quran)  Tidak Diwahyukan  Allah Swt. di Masa Awal Penciptaan Manusia  

Bab 52


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


D

alam bagian akhir Bab sebelumnya telah kemukakan  mengenai  perumpamaan yang dikemukakan Allah Swt. berikut ini mengenai perbandingan antara Al-Quran  (Kalimah yang baik)  yang senantiasa mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10)  dengan Kitab-kitab suci sebelumnya yang tidak mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. karena misinya bersifat kaumi (untuk bangsa tertentu) dan untuk sementara, karena itu keadaannya bagaikan pakaian  anak-anak kecil  yang tidak dapat digunakan lagi ketika perkembangan tubuh manusia telah mencapai kedewasaan sepenuhnya, sehingga jika “pakaian kecil” seperti itu dipaksakan untuk dipakai orang dewasa  mutlak  harus dilakukan berbagai macam perombakan dalam segala seginya (QS.2:107), akibatnya menjadi kehilangan keaslian ajarannya, firman-Nya:

اَلَمۡ تَرَ کَیۡفَ ضَرَبَ اللّٰہُ مَثَلًا کَلِمَۃً طَیِّبَۃً  کَشَجَرَۃٍ  طَیِّبَۃٍ اَصۡلُہَا ثَابِتٌ وَّ فَرۡعُہَا فِی  السَّمَآءِ ﴿ۙ﴾  تُؤۡتِیۡۤ  اُکُلَہَا کُلَّ حِیۡنٍۭ  بِاِذۡنِ رَبِّہَا ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ  الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَثَلُ کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا  لَہَا مِنۡ  قَرَارٍ ﴿﴾  یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ ﴿٪﴾

Tidakkah engkau melihat  bagaimana Allah mengemukakan perumpamaan satu kalimat yang baik? Kalimat itu seperti sebatang pohon yang baik, yang akarnya kokoh kuat dan cabang-cabangnya menjangkau  langit? Ia memberikan buahnya setiap waktu dengan izin Rabb-nya (Tuhan-nya), dan  Allah mengemukakan perumpamaan-perumpamaan itu bagi manusia  supaya mereka mendapat nasihat.  Dan perumpamaan kalimah yang buruk  adalah seperti  pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, ia sekali-kali tidak memiliki kemantapan.  Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim [14]:25-28).

      Firman Allah  dalam ayat-ayat ini diumpamakan sebatang pohon yang mempunyai empat macam sifat yang penting:

     (a) Kalam Ilahi  itu baik, artinya bersih dari segala ajaran-ajaran yang bertentangan dengan akal dan kata hati manusia atau berlawanan dengan perasaan dan kepekaan tabiat manusia.

       (b) Seperti sebatang pohon yang baik, akarnya dalam serta buahnya subur; Kalam Ilahi itu mempunyai dasar yang kuat dan kokoh, dan menerima hayat serta jaminan hidup yang tetap segar dari sumbernya; dan laksana sebatang pohon yang kuat  firman Ilahi itu tidak merunduk oleh tiupan angin perlawanan serta kecaman yang timbul dari rasa permusuhan, tetapi berdiri tegak di hadapan segala taufan badai. Firman Allah itu mendapat hayat dan jaminan hidup hanya dari satu sumber dan oleh karena itu tidak ada ketidak-serasian atau pertentangan dalam prinsip-prinsip dan ajarannya.

         (c) Dahan-dahannya menjangkau sampai ke langit, yang berarti bahwa dengan mengamalkannya  orang dapat menanjak ke puncak-puncak kemuliaan ruhani tertinggi.

       (d) Kalam Ilahi itu menghasilkan buahnya yang berlimpah-limpah di segala musim, yang berarti bahwa berkat-berkatnya nampak di sepanjang masa. Kalam Ilahi itu di sepanjang abad terus-menerus membuahkan orang-orang yang karena beramal sesuai dengan ajaran-ajarannya mencapai perhubungan dengan Allah Swt.,  dan karena kejujurannya serta kesucian dalam tingkah lakunya  menjulang tinggi dan mengatasi orang-orang yang sezaman dengan mereka.

        Al-Quran memiliki semua sifat itu dalam ukuran (kadar) yang sepenuhnya:  یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  -- “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.“ Selanjutnya Allah Swt. berfirman:  وَ مَثَلُ کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ   -- “Dan perumpamaan kalimah yang buruk اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ --   adalah seperti  pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, مَا  لَہَا مِنۡ  قَرَارٍ --  ia sekali-kali tidak   memiliki kemantapan.”

     Jadi, berbeda dengan pohon yang baik, kitab yang diciptakan oleh seorang pemalsu, adalah seperti pohon yang buruk.  Ia tidak memiliki kekekalan atau kemantapan. Ajarannya tidak didukung oleh akal maupun hukum-hukum alam. Kitab semacam itu tak dapat bertahan terhadap kritikan, dan asas-asas serta cita-citanya terus berubah bersama dengan berubahnya keadaan manusia dan lingkungannya.

       Ia merupakan ajaran yang campur aduk, dikumpulkan dari sumber-sumber yang meragukan.  Kitab semacam itu tidak bisa melahirkan orang-orang yang dapat menda'wakan pernah mengadakan perhubungan yang hakiki dengan Allah Swt.. Kitab itu tidak menerima daya hidup yang baru dari sumber Ilahi dan selamanya terancam keruntuhan dan kemunduran: وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ  -- “dan Allah menyesatkan orang-orang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”



Ketauhidan Ilahi Menurut Al-Quran dan Taurat



    Sehubungan dengan superioritas (keunggulan) Al-Quran tersebut selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengemukakan perbandingan penjelasan masalah Tauhid Ilahi yang dikemukakan Al-Quran  dengan yang dikemukakan dalam Taurat:

   Pernyataan para missionaris Kristen bahwa Al-Quran tidak ada mengemukakan suatu hal baru berkenaan dengan Ketauhidan Ilahi dan semua kaidahnya sudah terdapat di dalam Kitab Taurat, adalah suatu hal yang salah sama sekali.

      Seorang awam yang membaca Kitab Taurat mungkin terkecoh bahwa Kitab itu mengemukakan masalah Ketauhidan Ilahi, petunjuk pelaksanaan ibadah, hak-hak asasi manusia sehingga tidak ada hal baru di dalam Al-Quran.        Tetapi hanya orang yang belum merenungi firman Tuhan yang mungkin melakukan kesalahan demikian.

       Masih banyak sekali masalah-masalah Ketuhanan yang tidak diungkapkan di dalam Kitab Taurat, sebagai contoh, Kitab ini (Taurat) tidak mengemukakan tingkat-tingkat terinci dari Ketauhidan Ilahi. Al-Quran tidak mengemukakan Ketauhidan Ilahi sebagai suatu hal semata melarang penyembahan berhala, makhluk lainnya, unsur-unsur alam, benda-benda langit atau syaitan, karena sebenarnya Ketauhidan Ilahi memiliki tiga tingkatan.

      Tingkat pertama   Ketauhidan Ilahi adalah keadaan dimana orang awam mengharapkan keselamatan dari kemurkaan Allah Yang Maha Perkasa.

      Tingkat kedua  adalah bagi mereka yang mengharapkan kedekatan yang lebih kepada Tuhan-nya dibanding orang awam.

      Tingkat ketiga, adalah khas bagi mereka yang menginginkan kesempurnaan dalam kedekatan kepada Tuhan.

       Pada tingkat pertama, penekanannya adalah pada pandangan bahwa tidak ada yang lainnya patut disembah kecuali Tuhan dimana manusia harus menahan diri dari penyembahan kepada segala hal yang merupakan barang ciptaan dan bersifat terbatas, baik yang di langit maupun di bumi.

      Tingkat kedua Ketauhidan Ilahi adalah keyakinan bahwa dalam segala urusan hanya Tuhan saja yang menjadi kekuatan hakiki dan tidak ada satu pun yang kemudian ditinggikan sebagai sekutu-Nya. Sebagai contoh, kalau ada yang mengatakan bahwa tanpa bantuan si X yang bersangkutan akan celaka, atau tanpa pertolongan si Y seseorang akan merugi, hal ini sama dengan syirik karena menganggap seolah-olah X atau Y itu mempunyai kekuasaan.

      Tingkat ketiga Ketauhidan Ilahi adalah menyingkirkan nafsu dan keinginan pribadi seseorang dari kecintaannya kepada Allah Swt.  dan mengabdikan seluruh hidupnya bagi Keakbaran-Nya.  Bentuk Ketauhidan Ilahi seperti itu tidak ada dijumpai dalam Kitab Taurat.



Kekurangan Ajaran Taurat yang Lainnya



      Dalam Kitab itu juga tidak ada disinggung mengenai keselamatan atau tentang neraka, kecuali sekelumit kutipan di sana sini. Begitu juga tidak bisa ditemui rincian Sifat-sifat Ilahi yang sempurna. Kalau saja di Kitab Taurat terdapat sebaris ayat seperti yang terdapat di dalam Al-Quran:

قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾   وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾

“Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah Yang tidak bergantung pada sesuatu dan segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak memperanakkan dan tidak pula diperanakkan; dan tiada seorang pun menyamai Dia’ (Al-Ikhlash [112]:2-5), maka umat Kristiani tidak akan mempertuhan seorang makhluk.

     Begitu juga Kitab Taurat tidak merinci mengenai tingkat-tingkat hak, sedangkan dalam Al-Quran ajaran tentang ini dikemukakan secara sempurna. Sebagai contoh, dinyatakan dalam ayat:

اِنَّ اللّٰہَ یَاۡمُرُ بِالۡعَدۡلِ وَ الۡاِحۡسَانِ وَ اِیۡتَآیِٔ ذِی الۡقُرۡبٰی

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan kepada orang lain dan memberi orang-orang lain seperti kepada kaum kerabat sendiri  (Al-Nahl [16]:91).

     Makna dari ayat ini ialah simpati kita kepada umat manusia haruslah didorong oleh hasrat alamiah dan bukan karena motivasi ingin diakui, laiknya kecintaan seorang ibu kepada putranya.

      Kitab Taurat juga tidak mampu menegakkan eksistensi Tuhan, Ketauhidan dan Sifat-sifat-Nya yang sempurna berdasarkan logika, sedangkan dalam Al-Quran akidah ini dijelaskan lengkap dengan mengapa perlu adanya pewahyuan dan kenabian, dan semua dikemukakan secara filosofis, sehingga seorang pencari kebenaran mudah memahaminya.

       Semua argumentasi disajikan dengan cara yang sempurna sehingga tidak akan ada yang bisa mengajukan bantahan tentang eksistensi (keberadaan) Tuhan berdasarkan apa yang dikemukakan Al-Quran.

       Argumentasi yang mendukung perlunya Kitab Suci Al-Quran adalah karena semua Kitab-kitab Samawi seperti Taurat sampai Injil sebenarnya ditujukan kepada satu bangsa tertentu saja yaitu Bani Israil dimana di dalamnya ditegaskan bahwa ajaran yang terkandung di dalamnya bukanlah untuk masyarakat lain selain Bani Israil.

       Adapun Al-Quran bertujuan memperbaiki seluruh dunia dan tidak ditujukan kepada satu bangsa tertentu saja dan jelas dikatakan bahwa Kitab ini diwahyukan bagi kemaslahatan dan perbaikan seluruh umat manusia. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898;sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIII, hlm. 83-85, London, 1984).



Kesempurnaan Al-Quran Dibanding Injil (Syair Bahasa Urdu)



     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan kekurangan ajaran Injil  berkenaan Tauhid Ilahi dalam bentuk qasidah (syair):



Wahai umat Kristiani, kemarilah

Tengok Nur Allah Yang hakiki dan temukan jalan yang lurus.

Mampukah kalian menunjukkan dari Injil

Fitrat tak terbilang yang ada dalam Al-Quran?



Ingatlah, ada Wujud Pencipta di atas kalian,

Jangan kalian menyesatkan makhluk ciptaan-Nya.

Sampai kapan kalian akan mencintai kedustaan,

Cobalah kebenaran sebagai imbalan.



Wahai umat, takutlah akan Tuhan kalian,

Milikilah rasa malu di hadirat-Nya.

Kesenangan hidup ini tidak lestari,

Sayangku, [dunia] ini bukanlah tempat bermukim abadi.



Tak ada yang pernah langgeng di dunia ini,

Tidak juga langgeng buana ini.

Umatku tercinta, dengarlah, tanpa Al-Quran

Tak mungkin manusia berjumpa Tuhan.


Mereka yang tak memahami Nur hakiki,

Tak mungkin mengenali Sang Kekasih.

Pengaruh Al-Furqan sungguh luar biasa

Dijadikannya manusia menjadi pencinta Tuhan,



Dengarlah dariku hal keindahan Allah terkasih

Dengarkan aku hal Wujud-Nya yang mempesona.

Jika kalian tak bermata, paling tidak kalian bertelinga,

Jika juga tidak, mungkin itu cobaan bagi kalian.



(Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  298-300, London, 1984).

Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. bersabda:

    Al-Quran berisi kebijakan yang dalam. Dalam semua ajaran dan petunjuknya tentang akhlak yang baik Kitab ini jauh melampaui Injil. Suluh obor untuk mengenali Tuhan yang benar dan abadi ada di dalam Al-Quran. Kalau saja Al-Quran tidak diwahyukan, sulit membayangkan sudah berapa banyak makhluk yang dipertuhan di dunia ini. Segala puji bagi Allah karena Ketauhidan Ilahi yang telah lenyap dari dunia telah ditegakkan kembali oleh Al-Quran.” (Tohfa Qaisariyyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1897; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XII, hlm. 282, London, 1984).

Benarlah firman-Nya:

یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ  فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ  ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾  اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾  یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾

Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu.  Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. Dan seandainya  lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ  -- Sangat lemah yang meminta dan yang diminta.  Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya,  sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.    اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ  --   Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.    Dia mengetahui apa pun  yang di hadapan mereka dan apa pun  yang di belakang mereka, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan (Al-Hājj [22]:74-77).

      Ayat 74  menerangkan kepada orang-orang kafir bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan  yang keadaannya seperti itu:  ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ  -- “Sangat lemah yang meminta dan yang diminta.”        

       Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang begitu rendah, hingga mereka menyembah patung-patungberhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu yang mereka buat sendiri — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq (Maha Pencipta) Yang Agung.

       Makna ayat:  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ --  Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan se-benar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.” Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia.



Al-Quran Menyelaraskan Ilmu dan Agama  & Al-Quran Sebagai Kitab Universal



      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai adanya keselarasan  mengenai prinsip-prinsip pengobatan ruhani dengan prinsip-prinsip pengobatan jasmani:

      Kitab Suci Al-Quran penuh sekali dengan segala kebijakan sehingga tercipta keselarasan antara prinsip-prinsip pengobatan keruhanian yaitu prinsip keagamaan, dengan prinsip-prinsip pengobatan jasmani, dimana keselarasan itu sedemikian mulusnya sehingga membukakan pintu kepada ratusan wawasan dan kebenaran.

        Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menafsirkan Al-Quran secara benar,  yang dapat merenungi prinsip-prinsip yang ditetapkan Al-Quran dan kaitannya dengan sistem pengobatan jasmani.

      Suatu ketika aku diperlihatkan sebuah kasyaf tentang beberapa buku dari beberapa tabib medikal ahli, yang berisikan diskusi tentang prinsip-prinsip pengobatan jasmani, termasuk di antaranya buku dari tabib akbar Qarshi.[1] Disiratkan kepadaku bahwa buku-buku itu mengandung tafsir Al-Quran.

        Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan erat di antara pengetahuan tentang jasmani dengan pengetahuan tentang agama dimana keduanya saling menopang satu sama lain. Ketika aku meneliti Al-Quran, ternyata di dalamnya memang ada prinsip-prinsip pengobatan jasmani.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 102-103, London, 1984).

       Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai alasan atau hikmah mengapa syariat yang paling sempurna tidak diturunkan di masa  awal penciptaan manusia:

      Kitab yang diwahyukan pada awal penciptaan,  secara logika tidak mungkin merupakan Kitab yang sempurna. Kitab yang ada tentunya seperti buku pelajaran abjad atau alfabet bagi anak-anak yang baru mengenal huruf. Pasti untuk pelajaran yang bersifat sangat mendasar demikian tidak diperlukan kemampuan yang luar biasa.

     Ketika pengalaman umat manusia berkembang dan banyak dari antara mereka yang kemudian menyimpang, diperlukan petunjuk yang lebih terinci. Apalagi ketika kegelapan ruhani sudah demikian meluas dan kalbu manusia menjadi terjerat dalam berbagai bentuk penyelewengan intelektual dan pengamalan. Pada saat seperti itu diperlukan ajaran yang lebih tinggi dan sempurna sebagaimana yang dibawa Al-Quran.

      Di masa awal sejarah manusia tidak diperlukan petunjuk bermutu tinggi karena batin manusia waktu itu masih sederhana dan belum ada kegelapan atau kedurhakaan mengendap di hati mereka. Ajaran yang luhur diperlukan dalam Kitab yang diturunkan di masa penyelewengan yang sangat, guna perbaikan manusia yang terlanjur telah menganut akidah-akidah palsu dan dimana perilaku kejahatan telah menjadi kebiasaan sehari-hari.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 70, London, 1984).



(Bersambung)



Rujukan: The Holy Quran

Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 8 Maret  2016









[1] Yang dimaksud adalah Ala-al-Din Abu al-Hasan Ali Ibn Abi  al-Hazm a l-Qarshi  al-Damashqi  al-Misri, hidup dari 1213-1288 M atau 607-678 H. Selain sebagai dokter, ia juga menguasai hukum, literatur dan theologi. Terkenal sebagai dokter yang juga mengajar banyak sekali siswa  kedokteran di masa itu pada rumah sakit Nasri di Kairo. Kontribusi utamanya bagi dunia kedokteran adalah penemuannya mengenai sistem aliran darah d i tubuh manusia. Buku-bukunya antara lain mengenai ophtalmology (mata) tetapi yang terkenal adalah Mujaz  al-Qanun, Al-Shamil fi al-Tibb disamping tafsirnya mengenai karya Hippocrates. (Penterjemah/ A.Q. Khalid)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar