Bismillaahirrahmaanirrahiim
KITAB SUCI AL-QURAN
“Kitab Suci Al-Quran
adalah kotak besar yang berisi batu ratna mutu manikam, namun manusia tidak
menyadarinya ”
“Setiap saat hatiku
merindukan untuk mencium Kitab Engkau
dan melaksanakan thawaf mengelilingi Al-Quran karena Kitab ini merupakan
Kabahku”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Hikmah Mengapa Agama
dan Kitab Suci Paling Sempurna (Al-Quran) Tidak Diwahyukan Allah Swt. di Masa Awal Penciptaan Manusia
Bab 52
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah kemukakan mengenai perumpamaan yang dikemukakan Allah Swt. berikut ini mengenai perbandingan antara Al-Quran (Kalimah yang baik) yang senantiasa mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10) dengan Kitab-kitab
suci sebelumnya yang tidak mendapat jaminan
pemeliharaan Allah Swt. karena misinya
bersifat kaumi (untuk bangsa
tertentu) dan untuk sementara, karena
itu keadaannya bagaikan pakaian anak-anak
kecil yang tidak dapat digunakan lagi ketika perkembangan tubuh manusia telah mencapai kedewasaan sepenuhnya, sehingga jika “pakaian kecil” seperti itu dipaksakan
untuk dipakai orang dewasa mutlak
harus dilakukan berbagai macam perombakan
dalam segala seginya (QS.2:107), akibatnya menjadi kehilangan keaslian ajarannya, firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَ
کَیۡفَ ضَرَبَ اللّٰہُ مَثَلًا کَلِمَۃً طَیِّبَۃً کَشَجَرَۃٍ
طَیِّبَۃٍ اَصۡلُہَا ثَابِتٌ وَّ فَرۡعُہَا فِی السَّمَآءِ ﴿ۙ﴾ تُؤۡتِیۡۤ
اُکُلَہَا کُلَّ حِیۡنٍۭ بِاِذۡنِ
رَبِّہَا ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ
الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَثَلُ کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ اجۡتُثَّتۡ مِنۡ
فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا لَہَا مِنۡ قَرَارٍ ﴿﴾ یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ
الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ یُضِلُّ اللّٰہُ
الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ
اللّٰہُ مَا یَشَآءُ ﴿٪﴾
Tidakkah
engkau melihat bagaimana Allah mengemukakan perumpamaan satu kalimat yang baik? Kalimat
itu seperti sebatang pohon yang baik,
yang akarnya kokoh kuat dan
cabang-cabangnya menjangkau langit? Ia memberikan buahnya setiap waktu
dengan izin Rabb-nya (Tuhan-nya), dan Allah
mengemukakan perumpamaan-perumpamaan
itu bagi manusia supaya mereka
mendapat nasihat. Dan perumpamaan
kalimah yang buruk adalah
seperti
pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, ia sekali-kali tidak memiliki kemantapan. Allah meneguhkan orang-orang yang beriman
dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim [14]:25-28).
Firman Allah dalam ayat-ayat ini diumpamakan sebatang pohon yang mempunyai empat macam sifat yang penting:
(a) Kalam Ilahi itu baik,
artinya bersih dari segala ajaran-ajaran yang bertentangan dengan akal
dan kata hati manusia atau berlawanan dengan perasaan dan kepekaan tabiat
manusia.
(b) Seperti sebatang pohon yang baik, akarnya dalam serta buahnya subur; Kalam Ilahi itu mempunyai dasar
yang kuat dan kokoh, dan menerima hayat
serta jaminan hidup yang tetap segar
dari sumbernya; dan laksana sebatang
pohon yang kuat firman Ilahi itu tidak merunduk oleh tiupan angin perlawanan serta kecaman
yang timbul dari rasa permusuhan,
tetapi berdiri tegak di hadapan
segala taufan badai. Firman Allah itu
mendapat hayat dan jaminan hidup hanya dari satu sumber dan oleh karena itu tidak ada ketidak-serasian atau pertentangan dalam prinsip-prinsip dan ajarannya.
(c) Dahan-dahannya menjangkau sampai ke langit, yang berarti bahwa dengan mengamalkannya orang dapat
menanjak ke puncak-puncak kemuliaan
ruhani tertinggi.
(d) Kalam Ilahi itu menghasilkan buahnya
yang berlimpah-limpah di segala musim, yang berarti bahwa berkat-berkatnya nampak di sepanjang
masa. Kalam Ilahi itu di sepanjang
abad terus-menerus membuahkan orang-orang
yang karena beramal sesuai dengan ajaran-ajarannya mencapai perhubungan dengan Allah Swt., dan karena kejujurannya serta kesucian dalam tingkah
lakunya menjulang tinggi dan mengatasi orang-orang yang sezaman dengan mereka.
Al-Quran memiliki semua sifat itu dalam ukuran
(kadar) yang sepenuhnya: یُثَبِّتُ
اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا
وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ -- “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman
dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.“ Selanjutnya Allah Swt.
berfirman: وَ مَثَلُ
کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ -- “Dan perumpamaan
kalimah yang buruk اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ -- adalah seperti pohon buruk yang telah
dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan
bumi, مَا لَہَا
مِنۡ قَرَارٍ -- ia sekali-kali tidak memiliki kemantapan.”
Jadi, berbeda dengan pohon yang
baik, kitab yang diciptakan oleh
seorang pemalsu, adalah seperti pohon yang buruk. Ia tidak memiliki kekekalan atau kemantapan. Ajarannya
tidak didukung oleh akal maupun hukum-hukum alam. Kitab semacam itu tak dapat bertahan terhadap kritikan, dan asas-asas serta cita-citanya
terus berubah bersama dengan berubahnya keadaan manusia dan
lingkungannya.
Ia merupakan ajaran yang campur aduk, dikumpulkan dari sumber-sumber yang meragukan.
Kitab semacam itu tidak bisa melahirkan orang-orang yang dapat
menda'wakan pernah mengadakan perhubungan
yang hakiki dengan Allah Swt.. Kitab itu tidak menerima
daya hidup yang baru dari sumber Ilahi dan selamanya terancam keruntuhan dan kemunduran: وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ اللّٰہُ
مَا یَشَآءُ -- “dan
Allah menyesatkan orang-orang zalim,
dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”
Ketauhidan Ilahi Menurut Al-Quran dan Taurat
Sehubungan dengan superioritas (keunggulan) Al-Quran tersebut selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengemukakan
perbandingan penjelasan masalah Tauhid
Ilahi yang dikemukakan Al-Quran dengan yang dikemukakan dalam Taurat:
“Pernyataan
para missionaris Kristen bahwa Al-Quran tidak ada mengemukakan suatu hal
baru berkenaan dengan Ketauhidan
Ilahi dan semua kaidahnya sudah
terdapat di dalam Kitab Taurat,
adalah suatu hal yang salah sama
sekali.
Seorang awam yang membaca Kitab
Taurat mungkin terkecoh bahwa Kitab itu mengemukakan masalah Ketauhidan Ilahi, petunjuk pelaksanaan ibadah, hak-hak asasi manusia sehingga tidak ada hal baru di dalam Al-Quran. Tetapi hanya orang yang belum merenungi firman Tuhan yang mungkin melakukan kesalahan demikian.
Masih banyak sekali masalah-masalah Ketuhanan yang tidak diungkapkan di dalam Kitab Taurat, sebagai contoh, Kitab ini (Taurat) tidak mengemukakan tingkat-tingkat
terinci dari Ketauhidan Ilahi.
Al-Quran tidak mengemukakan Ketauhidan
Ilahi sebagai suatu hal semata melarang
penyembahan berhala, makhluk
lainnya, unsur-unsur alam, benda-benda langit atau syaitan, karena sebenarnya Ketauhidan Ilahi memiliki tiga tingkatan.
Tingkat pertama Ketauhidan Ilahi adalah keadaan dimana orang awam mengharapkan keselamatan dari kemurkaan Allah Yang Maha Perkasa.
Tingkat kedua adalah bagi mereka yang mengharapkan kedekatan yang
lebih kepada Tuhan-nya dibanding
orang awam.
Tingkat ketiga, adalah khas bagi
mereka yang menginginkan kesempurnaan
dalam kedekatan kepada Tuhan.
Pada tingkat pertama, penekanannya
adalah pada pandangan bahwa tidak ada
yang lainnya patut disembah kecuali Tuhan dimana manusia harus menahan diri
dari penyembahan kepada segala hal
yang merupakan barang ciptaan dan bersifat terbatas, baik yang di langit maupun di bumi.
Tingkat kedua Ketauhidan Ilahi
adalah keyakinan bahwa dalam segala urusan hanya Tuhan saja yang menjadi kekuatan hakiki dan tidak ada satu pun
yang kemudian ditinggikan sebagai sekutu-Nya. Sebagai contoh, kalau ada
yang mengatakan bahwa tanpa bantuan si X yang bersangkutan akan celaka, atau tanpa pertolongan si Y seseorang akan merugi, hal ini sama dengan syirik
karena menganggap seolah-olah X atau
Y itu mempunyai kekuasaan.
Tingkat ketiga Ketauhidan Ilahi
adalah menyingkirkan nafsu dan keinginan pribadi seseorang dari kecintaannya kepada Allah Swt. dan mengabdikan
seluruh hidupnya bagi Keakbaran-Nya. Bentuk Ketauhidan
Ilahi seperti itu tidak ada dijumpai dalam Kitab Taurat.
Kekurangan Ajaran Taurat yang Lainnya
Dalam Kitab itu juga tidak ada disinggung mengenai keselamatan
atau tentang neraka, kecuali sekelumit kutipan di sana sini. Begitu
juga tidak bisa ditemui rincian
Sifat-sifat Ilahi yang sempurna.
Kalau saja di Kitab Taurat terdapat
sebaris ayat seperti yang terdapat di dalam Al-Quran:
قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾
اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ لَمۡ
یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪﴿﴾
“Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah Yang tidak bergantung pada sesuatu dan segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak memperanakkan dan tidak
pula diperanakkan; dan tiada seorang
pun menyamai Dia’ (Al-Ikhlash [112]:2-5), maka umat Kristiani tidak akan mempertuhan seorang makhluk.
Begitu juga Kitab Taurat
tidak merinci mengenai tingkat-tingkat hak, sedangkan dalam Al-Quran ajaran tentang ini dikemukakan
secara sempurna. Sebagai contoh, dinyatakan dalam ayat:
اِنَّ اللّٰہَ یَاۡمُرُ
بِالۡعَدۡلِ وَ الۡاِحۡسَانِ وَ اِیۡتَآیِٔ ذِی الۡقُرۡبٰی
“Sesungguhnya
Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan kepada orang lain dan memberi orang-orang lain seperti kepada
kaum kerabat sendiri’ (Al-Nahl [16]:91).
Makna dari ayat ini ialah simpati
kita kepada umat manusia haruslah
didorong oleh hasrat alamiah dan
bukan karena motivasi ingin diakui,
laiknya kecintaan seorang ibu kepada
putranya.
Kitab Taurat juga tidak mampu
menegakkan eksistensi Tuhan, Ketauhidan dan Sifat-sifat-Nya yang sempurna berdasarkan logika, sedangkan dalam Al-Quran akidah ini dijelaskan lengkap dengan mengapa perlu adanya pewahyuan dan kenabian, dan semua dikemukakan secara filosofis, sehingga seorang pencari
kebenaran mudah memahaminya.
Semua argumentasi disajikan dengan cara yang sempurna sehingga tidak akan
ada yang bisa mengajukan bantahan
tentang eksistensi (keberadaan) Tuhan berdasarkan apa yang dikemukakan
Al-Quran.
Argumentasi yang mendukung perlunya Kitab Suci Al-Quran adalah
karena semua Kitab-kitab Samawi
seperti Taurat sampai Injil sebenarnya ditujukan kepada satu bangsa tertentu saja yaitu Bani Israil dimana di dalamnya
ditegaskan bahwa ajaran yang
terkandung di dalamnya bukanlah untuk
masyarakat lain selain Bani Israil.
Adapun Al-Quran bertujuan memperbaiki
seluruh dunia dan tidak ditujukan kepada satu bangsa tertentu saja dan
jelas dikatakan bahwa Kitab ini
diwahyukan bagi kemaslahatan dan
perbaikan seluruh umat manusia.” (Kitabul Bariyah, Qadian,
Ziaul Islam Press, 1898;sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIII, hlm. 83-85, London, 1984).
Kesempurnaan Al-Quran Dibanding
Injil (Syair Bahasa Urdu)
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan kekurangan ajaran Injil berkenaan Tauhid Ilahi dalam bentuk qasidah (syair):
Wahai umat Kristiani, kemarilah
Tengok Nur Allah Yang hakiki dan temukan jalan yang lurus.
Mampukah kalian menunjukkan dari Injil
Fitrat tak terbilang yang ada dalam
Al-Quran?
Ingatlah, ada Wujud Pencipta di atas kalian,
Jangan kalian menyesatkan makhluk ciptaan-Nya.
Sampai kapan
kalian akan mencintai kedustaan,
Cobalah kebenaran sebagai imbalan.
Wahai umat, takutlah
akan Tuhan kalian,
Milikilah rasa
malu di hadirat-Nya.
Kesenangan hidup ini tidak lestari,
Sayangku, [dunia] ini bukanlah tempat bermukim abadi.
Tak ada yang
pernah langgeng di dunia ini,
Tidak juga langgeng buana ini.
Umatku tercinta, dengarlah, tanpa
Al-Quran
Tak mungkin manusia berjumpa
Tuhan.
Mereka yang tak memahami Nur hakiki,
Tak mungkin mengenali Sang Kekasih.
Pengaruh Al-Furqan sungguh luar biasa
Dijadikannya manusia menjadi pencinta
Tuhan,
Dengarlah dariku
hal keindahan Allah terkasih
Dengarkan aku
hal Wujud-Nya yang mempesona.
Jika kalian tak bermata, paling tidak kalian bertelinga,
Jika juga tidak,
mungkin itu cobaan bagi kalian.
(Brahin-i- Ahmadiyah,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I,
hlm. 298-300, London, 1984).
Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s.
bersabda:
“Al-Quran berisi kebijakan
yang dalam. Dalam semua ajaran dan petunjuknya tentang akhlak
yang baik Kitab ini jauh melampaui
Injil. Suluh obor untuk mengenali Tuhan yang benar dan abadi ada di dalam Al-Quran.
Kalau saja Al-Quran tidak diwahyukan,
sulit membayangkan sudah berapa banyak makhluk
yang dipertuhan di dunia ini. Segala
puji bagi Allah karena Ketauhidan
Ilahi yang telah lenyap dari
dunia telah ditegakkan kembali oleh Al-Quran.” (Tohfa
Qaisariyyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1897;
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XII, hlm.
282, London, 1984).
Benarlah firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا
لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ
شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾ اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ
مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا وَّ مِنَ
النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ
بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan
maka dengarlah tamsil itu. Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat,
walau pun mereka itu bergabung untuk itu.
Dan seandainya lalat itu menyambar sesuatu dari mereka,
mereka tidak akan dapat merebutnya
kembali dari lalat itu. ضَعُفَ
الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat
lemah yang meminta dan yang diminta.
Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.
اَللّٰہُ
یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
وَّ مِنَ النَّاسِ
-- Allah
memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat
dan dari antara manusia,
sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. Dia mengetahui apa pun yang di
hadapan mereka dan apa pun yang di belakang mereka, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan
(Al-Hājj
[22]:74-77).
Ayat 74
menerangkan kepada orang-orang
kafir bahwa tuhan-tuhan mereka
sama sekali tidak mempunyai kekuasaan
dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan yang keadaannya seperti itu: ضَعُفَ
الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- “Sangat
lemah yang meminta dan yang diminta.”
Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang begitu rendah, hingga mereka menyembah
patung-patung — berhala-berhala
yang terbuat dari kayu dan batu yang mereka buat sendiri —
menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan
yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq
(Maha Pencipta) Yang Agung.
Makna ayat:
مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- “Mereka sekali-kali tidak dapat menilai
kekuasaan Allah dengan se-benar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.” Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul
dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat
Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia.
Al-Quran Menyelaraskan Ilmu dan Agama & Al-Quran
Sebagai Kitab Universal
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.
bersabda mengenai adanya keselarasan
mengenai prinsip-prinsip pengobatan ruhani dengan prinsip-prinsip
pengobatan jasmani:
“Kitab Suci Al-Quran penuh sekali dengan segala kebijakan sehingga tercipta keselarasan antara prinsip-prinsip pengobatan keruhanian yaitu prinsip keagamaan, dengan prinsip-prinsip
pengobatan jasmani, dimana keselarasan
itu sedemikian mulusnya sehingga membukakan pintu kepada ratusan wawasan dan kebenaran.
Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menafsirkan Al-Quran secara benar, yang dapat merenungi prinsip-prinsip yang ditetapkan Al-Quran dan kaitannya dengan sistem
pengobatan jasmani.
Suatu ketika aku diperlihatkan sebuah kasyaf tentang beberapa buku dari beberapa tabib medikal ahli, yang berisikan diskusi tentang prinsip-prinsip
pengobatan jasmani, termasuk di antaranya buku dari tabib akbar Qarshi.[1] Disiratkan kepadaku bahwa buku-buku itu mengandung tafsir Al-Quran.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan erat di antara pengetahuan tentang jasmani dengan pengetahuan tentang agama
dimana keduanya saling menopang satu
sama lain. Ketika aku meneliti Al-Quran,
ternyata di dalamnya memang ada prinsip-prinsip
pengobatan jasmani.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XXIII, hlm. 102-103, London, 1984).
Masih Mau’ud a.s. bersabda
lagi mengenai alasan atau hikmah mengapa syariat yang paling sempurna
tidak diturunkan di masa awal penciptaan manusia:
“Kitab yang diwahyukan pada awal penciptaan, secara logika
tidak mungkin merupakan Kitab yang
sempurna. Kitab yang ada tentunya seperti buku pelajaran abjad atau alfabet
bagi anak-anak yang baru mengenal huruf. Pasti untuk pelajaran yang bersifat sangat mendasar demikian tidak diperlukan kemampuan yang luar biasa.
Ketika pengalaman umat
manusia berkembang dan banyak dari
antara mereka yang kemudian menyimpang,
diperlukan petunjuk yang lebih terinci. Apalagi ketika kegelapan ruhani sudah demikian meluas
dan kalbu manusia menjadi terjerat dalam berbagai bentuk penyelewengan intelektual dan pengamalan. Pada saat seperti itu
diperlukan ajaran yang lebih tinggi
dan sempurna sebagaimana yang dibawa
Al-Quran.
Di masa awal sejarah manusia tidak diperlukan petunjuk bermutu tinggi karena batin
manusia waktu itu masih sederhana
dan belum ada kegelapan atau kedurhakaan mengendap di hati mereka. Ajaran yang luhur
diperlukan dalam Kitab yang
diturunkan di masa penyelewengan
yang sangat, guna perbaikan manusia
yang terlanjur telah menganut akidah-akidah
palsu dan dimana perilaku kejahatan
telah menjadi kebiasaan sehari-hari.” (Chasma Ma’rifat, Qadian,
Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XXIII, hlm. 70, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 8 Maret 2016
[1]
Yang dimaksud adalah Ala-al-Din Abu al-Hasan Ali Ibn Abi al-Hazm a l-Qarshi al-Damashqi
al-Misri, hidup dari 1213-1288 M atau 607-678 H. Selain sebagai dokter,
ia juga menguasai hukum, literatur dan theologi. Terkenal sebagai dokter yang
juga mengajar banyak sekali siswa
kedokteran di masa itu pada rumah sakit Nasri di Kairo. Kontribusi
utamanya bagi dunia kedokteran adalah penemuannya mengenai sistem aliran darah
d i tubuh manusia. Buku-bukunya antara lain mengenai ophtalmology (mata) tetapi
yang terkenal adalah Mujaz al-Qanun, Al-Shamil fi al-Tibb disamping tafsirnya mengenai karya
Hippocrates. (Penterjemah/
A.Q. Khalid)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar